Ketegangan di Teluk Persia meningkat tajam sejak perang Iran memicu serangkaian serangan terhadap kapal niaga di jalur pelayaran strategis itu. Berdasarkan catatan Reuters dari laporan insiden di lapangan, setidaknya 16 kapal dan 1 tugboat dilaporkan menjadi sasaran serangan di kawasan Teluk dan sekitar Selat Hormuz sejak awal eskalasi tersebut.
Selat Hormuz menjadi titik paling rawan karena jalur ini dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan volume besar gas alam cair. Ancaman terhadap kapal-kapal yang melintas di wilayah itu bukan hanya mengganggu keselamatan pelayaran, tetapi juga menekan rantai pasok energi global dan meningkatkan risiko bagi pelabuhan-pelabuhan di Teluk.
Daftar serangan yang tercatat
-
Pada awal periode serangan, beberapa kapal tanker di sekitar Oman, Uni Emirat Arab, dan Bahrain mengalami hantaman proyektil, kebakaran, atau kerusakan ringan. Dalam beberapa kasus, awak kapal dievakuasi untuk mencegah korban lebih besar.
-
Insiden juga terjadi di dekat pelabuhan penting seperti Fujairah, Ras Al Khaimah, dan wilayah masuk Selat Hormuz. Sejumlah kapal berbendera Marshall Islands, Palau, Gibraltar, U.S., Malta, dan Panama termasuk dalam daftar yang terdampak.
-
Pada pertengahan periode itu, serangan meluas ke kapal kargo dan tanker bahan bakar di perairan dekat Irak, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Beberapa laporan menyebutkan kebakaran di ruang mesin, kerusakan lambung, serta penghentian sementara operasi pelabuhan minyak di Irak.
- Menjelang akhir periode laporan, sebuah tanker Kuwait yang sedang sandar di dekat Dubai juga terkena serangan dan mengalami kerusakan lambung. Kuwait Petroleum Corp mengatakan api berhasil dipadamkan tanpa kebocoran minyak dan tanpa korban luka di kru.
Rincian insiden yang paling menonjol
| Tanggal laporan | Lokasi | Kapal | Dampak utama |
|---|---|---|---|
| Awal periode | Lepas pantai Oman | MKD VYOM | Satu awak tewas |
| Awal periode | Dekat Mina Saqr, Ras Al Khaimah | Hercules Star | Terbakar, api padam |
| Awal periode | Selat Hormuz | Kapal tanker berbendera Palau | Awak dievakuasi |
| Awal periode | Pelabuhan Bahrain | Stena Imperative | Kebakaran, kru keluar |
| Pertengahan periode | Dekat Fujairah | Libra Trader dan Gold Oak | Kerusakan ringan |
| Pertengahan periode | Dekat Oman | Safeen Prestige | Kebakaran ruang mesin, awak meninggalkan kapal |
| Pertengahan periode | Dekat Khor al Zubair, Irak | Sonangol Namibe | Terdampak ledakan |
| Pertengahan periode | Selat Hormuz | Mayuree Naree | Kebakaran, kru dievakuasi |
| Akhir periode | Lepas Dubai | Al Salmi | Kerusakan lambung, tidak ada tumpahan |
Apa yang membuat jalur ini sangat penting
Selat Hormuz adalah salah satu choke point paling vital di dunia energi. Saat ancaman meningkat di titik sempit ini, pasar langsung memperhitungkan risiko pengiriman minyak, biaya asuransi pelayaran, dan kemungkinan gangguan pada pengiriman LNG ke Asia dan Eropa.
Dalam beberapa kasus, serangan yang dilaporkan tidak hanya mengenai tanker minyak, tetapi juga kapal kontainer dan kapal pendukung operasi maritim. Pola ini menunjukkan bahwa risiko di Teluk tidak terbatas pada satu jenis kapal, melainkan menyasar berbagai unsur logistik laut yang melintas di kawasan itu.
Dampak yang tercatat pada operasi pelayaran
- Sejumlah kapal sempat terbakar atau mengalami kerusakan struktural.
- Awak kapal di beberapa insiden harus dievakuasi segera setelah serangan.
- Operasi pelabuhan minyak di Irak pernah dihentikan sementara akibat meningkatnya ancaman.
- Pihak keamanan maritim memperingatkan bahwa kapal yang melintas di wilayah sempit Selat Hormuz tetap berada dalam risiko tinggi.
Reuters mencatat bahwa sebagian besar insiden terjadi di perairan sekitar Oman, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Irak, dengan beberapa serangan juga menjangkau Qatar dan Arab Saudi. Situasi ini memperlihatkan bahwa eskalasi konflik Iran telah meluas dari medan perang menjadi ancaman langsung bagi jalur perdagangan laut paling sensitif di Timur Tengah.









