Galeri Uffizi di Florence, Italia, mengakui telah menjadi target serangan siber pada awal Februari, tetapi menegaskan tidak ada data yang dicuri dan tidak ada informasi yang hilang. Pihak museum juga membantah laporan surat kabar Corriere della Sera yang menyebut insiden itu memicu pelanggaran keamanan besar dan pemindahan darurat perhiasan berharga ke Bank of Italy.
Dalam pernyataan resminya, Uffizi mengatakan gangguan yang terjadi hanya terkait waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan cadangan data. Museum itu menyebut serangan tersebut sudah ditangani, lalu mereka mengeluarkan pernyataan setelah insiden itu terjadi.
Apa yang diketahui dari serangan siber ini
Uffizi Galleries menjelaskan bahwa sistem mereka memang menjadi sasaran serangan siber, tetapi hasil akhirnya tidak seperti yang diberitakan sebagian media. Pihak museum menegaskan bahwa tidak ada informasi yang hilang, tidak ada barang yang dicuri, dan tidak ada bukti bahwa peretas berhasil mengambil alih data sensitif tertentu.
Pihak museum juga membantah klaim bahwa peretas memperoleh peta keamanan atau menyusupi telepon milik para pegawai. Menurut Uffizi, cadangan penuh untuk server foto memang tersedia sehingga pemulihan sistem dapat dilakukan tanpa kehilangan arsip penting.
Klaim media dan bantahan museum
Corriere della Sera sebelumnya melaporkan bahwa jaringan Uffizi, Palazzo Pitti, dan Boboli Gardens telah ditembus. Laporan itu juga menyebut server foto sempat dikuasai dan permintaan tebusan dikirim ke ponsel pribadi direktur Uffizi, Simone Verde.
Uffizi menolak narasi tersebut dan menyebut penutupan sebagian area Palazzo Pitti serta pemindahan barang berharga ke Bank of Italy tidak berkaitan dengan serangan siber. Menurut museum, langkah itu terkait pekerjaan renovasi yang sudah direncanakan sejak musim gugur lalu.
- Target serangan siber: Uffizi Galleries di Florence.
- Waktu insiden: awal Februari.
- Dampak utama: waktu pemulihan cadangan data.
- Hasil akhir: tidak ada data hilang dan tidak ada pencurian.
- Klarifikasi tambahan: pemindahan barang berharga bukan akibat serangan.
Mengapa insiden ini mendapat perhatian besar
Uffizi termasuk salah satu museum paling penting di Italia dan menyimpan karya seni terkenal seperti “Birth of Venus” dan “Primavera” karya Botticelli, serta “Doni Tondo” karya Michelangelo. Karena reputasinya, setiap gangguan keamanan di lembaga ini langsung menarik perhatian publik dan memunculkan kekhawatiran soal perlindungan aset budaya.
Museum itu juga menyinggung langkah penguatan keamanan lain, termasuk penggantian kamera pengawas yang sebelumnya direkomendasikan kepolisian pada 2024. Uffizi mengatakan pembaruan itu dipercepat setelah pencurian perhiasan senilai 102 juta dolar AS dari Louvre di Paris pada tahun lalu, yang hingga kini masih belum ditemukan.
Perbaikan sistem dan konteks keamanan museum
Pernyataan Uffizi menunjukkan bahwa lembaga budaya besar kini menghadapi dua risiko sekaligus, yakni ancaman digital dan ancaman fisik. Dalam kasus ini, museum menegaskan sistem mereka tetap memiliki cadangan yang utuh, sementara peningkatan kamera dari analog ke digital sudah lama berjalan.
Kondisi itu penting karena museum sering menyimpan data inventaris, dokumentasi karya, serta sistem pengawasan yang menjadi sasaran empuk jika keamanan siber lemah. Kasus di Italia bagian utara pada Maret, ketika tiga lukisan maestro Prancis seperti Pierre-Auguste Renoir, Paul Cezanne, dan Henri Matisse dicuri dari museum, ikut memperkuat kewaspadaan institusi budaya di negara tersebut.
Serangan terhadap Uffizi kembali menyoroti rapuhnya infrastruktur digital di lembaga seni dan warisan budaya, terutama ketika reputasi besar membuat setiap kebocoran informasi langsung menjadi sorotan. Untuk saat ini, museum menegaskan tidak ada karya, data, atau informasi penting yang hilang, sementara proses pemulihan sistem disebut hanya menimbulkan gangguan terbatas.









