Iran Kecam Serangan ke Situs Sipil, Tuduh AS-Israel Alami Keruntuhan Moral

Iran mengecam keras ancaman Amerika Serikat dan Israel yang menyasar infrastruktur sipil di wilayahnya, setelah serangan terbaru menimbulkan korban jiwa dan merusak sejumlah fasilitas penting. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut penargetan bangunan sipil, termasuk jembatan yang belum rampung, sebagai tanda “kekalahan dan keruntuhan moral” pihak lawan yang tidak mampu memaksakan penyerahan.

Pernyataan itu muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa Washington “belum mulai menghancurkan apa yang tersisa di Iran”, lalu mengancam serangan lanjutan ke jembatan dan pembangkit listrik. Dalam unggahan media sosial, Trump juga membagikan rekaman serangan terhadap jembatan baru yang menghubungkan Tehran dan Karaj, seraya mengatakan bahwa “jembatan terbesar di Iran runtuh” dan “lebih banyak lagi akan menyusul”.

Serangan ke jembatan sipil memicu kecaman

Iran menyebut jembatan B1 di jalur Tehran-Karaj sebagai salah satu proyek infrastruktur paling penting dan mahal di negara itu. Serangan terhadap jembatan tersebut dilaporkan menewaskan delapan orang dan melukai 95 lainnya, menurut keterangan yang disampaikan pihak Iran.

Araghchi menegaskan bahwa serangan terhadap struktur sipil tidak akan membuat rakyat Iran menyerah. Ia menilai tindakan semacam itu justru memperlihatkan kegagalan strategi militer yang bergeser ke target non-militer.

Korban sipil dan dampak pada aktivitas warga

Laporan dari Tehran menyebut serangan terjadi saat warga memperingati “Day of Nature” dan banyak keluarga berada di sekitar area jembatan. Kondisi itu membuat serangan semakin menimbulkan sorotan karena menyasar lokasi yang berdekatan dengan aktivitas warga sipil.

Tohid Asadi dari Al Jazeera melaporkan bahwa jembatan tersebut merupakan salah satu proyek infrastruktur paling strategis di Iran. Proyek itu juga membutuhkan waktu pengerjaan panjang dan biaya besar, sehingga kerusakannya dipandang bukan hanya sebagai masalah teknis, tetapi juga pukulan terhadap fasilitas publik.

WHO verifikasi lebih dari 20 serangan ke fasilitas kesehatan

Ketegangan tidak berhenti pada infrastruktur transportasi. Kementerian Kesehatan Iran menyatakan serangan udara AS dan Israel pada hari yang sama merusak parah Institut Pasteur Iran, pusat riset penting untuk penyakit seperti kolera dan COVID-19.

Juru bicara kementerian, Hossein Kermanpour, menyebut serangan itu sebagai “serangan langsung terhadap keamanan kesehatan internasional”. Ia juga meminta WHO dan Palang Merah menilai kerusakan dan membantu proses pemulihan fasilitas yang terdampak.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan di X bahwa serangan ke Institut Pasteur membuat lembaga itu “tidak mampu lagi memberikan layanan kesehatan”. WHO juga mengecam serangan ke Rumah Sakit Jiwa Delaram Sina dan fasilitas farmasi Tofigh Daru, serta menyatakan lebih dari 20 serangan ke fasilitas kesehatan di Iran telah diverifikasi sejak awal periode konflik terbaru.

Ancaman meluas ke jalur minyak dan gas

Kondisi keamanan yang memburuk ikut mengguncang pasar energi global. Hampir lima pekan sejak perang yang dimulai lewat serangan gabungan AS-Israel, negara-negara di kawasan berupaya menjaga kelancaran pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur vital bagi minyak dan gas dunia.

Citra satelit pekan ini menunjukkan asap di Pulau Qeshm, yang berada dekat jalur strategis itu. Temuan tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa konflik bisa mengganggu fasilitas dan rute energi yang sangat sensitif.

Poin penting yang memicu eskalasi

  1. Trump mengancam serangan lanjutan ke jembatan dan pembangkit listrik di Iran.
  2. Iran menyebut serangan ke jembatan B1 menewaskan delapan orang dan melukai 95 orang.
  3. Araghchi menuduh pihak lawan mengalami “keruntuhan moral” karena menyerang infrastruktur sipil.
  4. WHO memverifikasi lebih dari 20 serangan ke fasilitas kesehatan di Iran sejak awal periode serangan terbaru.
  5. Ketegangan di Selat Hormuz menambah risiko terhadap stabilitas regional dan pasar energi.

Di tengah meningkatnya ancaman balasan, media Iran juga menyoroti kemungkinan target baru di kawasan, termasuk beberapa jembatan penting di Kuwait, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Yordania. Sementara itu, bentrokan udara dan serangan balasan terus berlanjut, memperluas dampak perang ke infrastruktur sipil, fasilitas kesehatan, dan jalur energi utama di Timur Tengah.

Berita Terkait

Back to top button