Di Balik Serangan Israel di Lebanon Selatan, Rumah Sakit Mulai Runtuh

Serangan Israel di Lebanon selatan tidak hanya menghancurkan rumah dan jalan, tetapi juga merusak sistem kesehatan yang menjadi penopang kehidupan warga sipil. Dalam sebulan intensifikasi serangan terbaru, Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat 53 pekerja medis tewas, 87 ambulans atau fasilitas medis hancur, dan lima rumah sakit terpaksa ditutup.

Kerusakan itu membuat banyak warga kehilangan akses perawatan dasar saat kebutuhan medis justru meningkat tajam. Organisasi medis dan pejabat kesehatan menyebut pola serangan tersebut mempersempit ruang layanan kesehatan dan mendorong perpindahan penduduk dari wilayah selatan Lebanon.

Tekanan ganda pada sistem kesehatan Lebanon

Sistem kesehatan Lebanon sebenarnya sudah rapuh sebelum gelombang serangan terbaru. Krisis keuangan dimulai pada 2019, lalu diperburuk oleh konflik berkepanjangan dan gangguan pasokan obat serta alat kesehatan.

Di tengah kondisi itu, serangan Israel menambah beban besar. Menurut data Kementerian Kesehatan Lebanon, serangan udara dan perintah evakuasi massal telah memaksa rumah sakit mengurangi layanan, memindahkan pasien ke wilayah utara, dan mengevakuasi staf medis dari area berisiko tinggi.

Luna Hammad, koordinator medis Lebanon untuk Doctors Without Borders, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa serangan Israel dan perintah evakuasi luas “memutus akses masyarakat terhadap perawatan” dan mengecilkan ruang kerja layanan kesehatan. Ia juga menyebut ada “pola serangan yang terdokumentasi” terhadap fasilitas kesehatan.

Fasilitas medis ikut jadi sasaran

Beberapa fasilitas kesehatan di Lebanon selatan mengalami serangan berulang. Jabal Amel University Hospital di Tyre dilaporkan terkena serangan untuk kelima kalinya, sementara lima rumah sakit harus dievakuasi dalam periode sebulan terakhir.

Berikut ringkasan dampak yang dilaporkan oleh otoritas kesehatan Lebanon:

  1. 53 pekerja medis tewas.
  2. 87 ambulans atau pusat medis rusak atau hancur.
  3. Lima rumah sakit ditutup atau dievakuasi.
  4. Serangan berulang terjadi di fasilitas kesehatan di Lebanon selatan.
  5. Layanan darurat menerima lonjakan pasien akibat pengungsian massal.

Dr. Abdinasir Abubakar, perwakilan WHO di Lebanon, mengatakan ada fasilitas kesehatan yang “langsung diserang” dan banyak tenaga kesehatan ikut mengungsi. Ia menilai kondisi ini memperburuk kerusakan sistem kesehatan yang sudah lemah.

Pengungsian massal membuat rumah sakit kewalahan

Serangan Israel dan perintah evakuasi membuat sekitar 1,2 juta orang mengungsi dari rumah mereka. Jumlah itu menciptakan tekanan baru bagi rumah sakit dan klinik di wilayah yang masih berfungsi.

Seorang dokter yang menangani pengungsi di Beirut mengatakan layanan kesehatan tidak bisa berjalan normal jika masyarakat tidak lagi memiliki akses ke fasilitas dasar. Menurut dia, tambahan lebih dari satu juta orang yang membutuhkan layanan medis telah membuat sistem kesehatan setempat berada di bawah tekanan berat.

Dr. Hassan Wazni, direktur umum Nabih Berri Governmental Hospital di Nabatieh, mengatakan banyak pasien yang membutuhkan kemoterapi, radioterapi, dan dialisis dipindahkan ke wilayah yang lebih aman di utara. Ia menjelaskan bahwa serangan di Nabatieh dan desa-desa sekitarnya sangat intens sehingga rumah sakit kesulitan mempertahankan layanan rutin.

Korban di antara petugas medis terus bertambah

Serangan terhadap tenaga kesehatan menjadi perhatian besar karena mereka dilindungi oleh hukum humaniter internasional. Namun, data dari WHO menunjukkan pola kekerasan yang terus berulang, termasuk serangan yang menewaskan sembilan paramedis dan melukai tujuh lainnya dalam lima insiden terpisah pada satu hari.

Human Rights Watch menyebut ada “serangan berulang yang tampaknya disengaja” terhadap pekerja medis di Lebanon. Ramzi Kaiss, peneliti HRW untuk Lebanon, mengatakan lebih dari 270 pekerja kesehatan dan paramedis telah tewas akibat serangan Israel di Lebanon, tetapi pola itu belum berhenti.

HRW juga menilai serangan Israel terhadap medis pada periode sebelumnya sebagai dugaan kejahatan perang. Dalam hukum perang, rumah sakit, ambulans, dan petugas medis semestinya dilindungi, bukan dijadikan target.

Mengapa serangan ke layanan kesehatan berdampak luas

Kerusakan pada rumah sakit dan ambulans tidak hanya menghentikan layanan darurat. Dampaknya juga menjalar ke pasien dengan penyakit kronis, ibu hamil, anak-anak, dan korban luka perang yang membutuhkan perawatan jangka panjang.

Omar Dewachi, penulis Ungovernable Life: Mandatory Medicine and Statecraft in Iraq, mengatakan serangan terhadap fasilitas kesehatan telah makin dinormalisasi dalam konflik modern. Ia menilai serangan berulang terhadap rumah sakit menciptakan konsekuensi jangka panjang, mulai dari luka yang tak sembuh sempurna hingga infeksi kronis yang bisa bertahan bertahun-tahun.

Dampak yang paling sering muncul di lapangan antara lain:

  1. Luka perang menjadi lebih sulit diobati.
  2. Pasien penyakit kronis terpaksa menunda terapi.
  3. Rumah sakit kehilangan staf dan peralatan penting.
  4. Layanan darurat menjadi lebih lambat dan tidak stabil.
  5. Warga kehilangan rasa aman untuk tinggal di wilayah selatan.

Tuntutan akuntabilitas dan perlindungan internasional

Para ahli hukum dan organisasi HAM menilai impunitas menjadi salah satu alasan serangan terus berulang. Ramzi Kaiss dari HRW menyerukan agar pemerintah Lebanon memberi yurisdiksi kepada Mahkamah Pidana Internasional atau ICC untuk menyelidiki dan menuntut dugaan kejahatan perang, termasuk serangan terhadap petugas medis dan fasilitas kesehatan.

Dr. Abubakar dari WHO menegaskan perlunya perlindungan terhadap layanan kesehatan sesuai hukum internasional. Ia juga menyerukan deeskalasi dan gencatan senjata sesegera mungkin agar sistem kesehatan Lebanon tidak runtuh lebih jauh.

Di Nabatieh, Dr. Wazni mengatakan rumah sakit dan petugas medis membutuhkan penghormatan nyata terhadap hukum internasional dan keselamatan tim kesehatan. Di lapangan, serangan yang berulang menunjukkan bahwa krisis kesehatan di Lebanon selatan kini bukan hanya soal kapasitas rumah sakit, tetapi juga soal keberlangsungan hidup warga yang semakin sulit memperoleh perawatan dasar.

Exit mobile version