WFH Kembali Dipakai Saat Harga Energi Naik, Inilah Negara-Negara yang Bergerak

Kebijakan work from home atau WFH kembali menjadi pilihan banyak pemerintah pada 2026 saat harga energi global melonjak tajam. Langkah ini dipakai untuk menekan konsumsi bahan bakar, mengurangi mobilitas harian, dan menjaga tekanan biaya energi tetap terkendali.

Lonjakan harga minyak dipicu memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama antara Iran dan Israel sejak akhir Februari 2026. Harga minyak sempat menembus di atas USD100 per barel, level yang terakhir kali terlihat saat konflik Rusia-Ukraina pada 2022, sehingga banyak negara mencari kebijakan cepat yang bisa langsung menurunkan pemakaian energi.

WFH Jadi Instrumen Hemat Energi

WFH kembali dilihat sebagai kebijakan yang praktis karena dampaknya bisa langsung terasa pada transportasi dan penggunaan bahan bakar. Saat lebih banyak pegawai bekerja dari rumah, jumlah perjalanan ke kantor berkurang dan konsumsi BBM di jalan ikut turun.

Kebijakan ini juga dinilai membantu pemerintah menahan lonjakan permintaan energi di sektor perkotaan. Dalam situasi harga minyak yang tinggi, penghematan kecil dari jutaan perjalanan harian dapat memberi efek besar bagi konsumsi nasional.

Daftar Negara yang Menerapkan WFH pada 2026

Berikut negara-negara yang tercatat menerapkan atau mendorong WFH sebagai respons atas krisis energi:

  1. Indonesia
    Pemerintah Indonesia mulai memberlakukan WFH bagi aparatur sipil negara setiap hari Jumat sejak April 2026. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan kebijakan itu dipilih karena sebagian kementerian sudah menjalankan pola kerja empat hari dalam sepekan pascapandemi.

Pemerintah juga mendorong BUMN dan sektor swasta mengikuti langkah serupa secara opsional. Selain itu, pembatasan mobilitas dan pemotongan perjalanan dinas dalam maupun luar negeri juga dilakukan untuk menghemat energi.

  1. Pakistan
    Pakistan menerapkan WFH sejak awal Maret 2026 sebagai langkah cepat menghadapi lonjakan harga minyak dunia. Perdana Menteri Shehbaz Sharif menyebut kebijakan tersebut ditujukan untuk menghemat bahan bakar di tengah tekanan biaya energi yang meningkat.

  2. Vietnam
    Pemerintah Vietnam, melalui Kementerian Perdagangan, mendorong WFH untuk menekan konsumsi energi nasional. Pemerintah juga mengingatkan masyarakat agar tidak menimbun atau berspekulasi terhadap bahan bakar, karena hal itu bisa memperparah gejolak pasokan.

  3. Thailand
    Sejak 3 Maret 2026, pegawai negeri di Thailand diminta bekerja dari rumah, kecuali mereka yang bertugas langsung melayani publik. Pemerintah juga mengeluarkan imbauan penghematan energi lain, seperti mengatur suhu AC di 26–27 derajat Celsius, mematikan listrik saat tidak digunakan, dan mengurangi penggunaan lift.

  4. Mesir
    Mesir menerapkan WFH satu hari dalam sepekan sejak 28 Maret 2026 selama satu bulan. Kebijakan ini dibarengi pembatasan jam operasional toko, restoran, dan kafe hingga pukul 21.00 sebagai bagian dari respons terhadap kenaikan harga energi.

  5. Sri Lanka
    Sri Lanka menerapkan WFH bersamaan dengan pemangkasan hari kerja di sektor pemerintah. Instansi pemerintah hanya beroperasi empat hari dalam seminggu, dengan Rabu sebagai hari libur, sementara sekolah dan universitas juga ikut menyesuaikan kegiatan belajar.

  6. Uni Eropa
    Uni Eropa juga mendorong WFH untuk membantu menekan konsumsi energi di kawasan mereka. Komisaris Energi Uni Eropa Dan Jorgensen mengatakan, “Semakin banyak yang bisa dilakukan untuk menghemat minyak, terutama solar dan bahan bakar jet, semakin baik.”

Selain WFH, Uni Eropa juga merekomendasikan pengurangan batas kecepatan di jalan tol, penggunaan transportasi umum, dan berbagi kendaraan untuk mengurangi konsumsi bahan bakar.

Mengapa WFH Efektif Saat Krisis Energi

WFH bekerja karena menurunkan kebutuhan perjalanan komuter harian yang biasanya bergantung pada BBM. Di kota-kota besar, pengurangan arus kendaraan dapat membantu menekan konsumsi bahan bakar, mengurangi kemacetan, dan memperkecil emisi dari sektor transportasi.

Dari sisi pemerintah, kebijakan ini lebih cepat diterapkan dibanding membangun infrastruktur energi baru. Karena itu, WFH kerap dipilih sebagai solusi transisi ketika harga minyak melonjak dan pasar global masih bergejolak.

Dampak ke Sektor Publik dan Swasta

Penerapan WFH tidak selalu sama di tiap negara, karena disesuaikan dengan karakter layanan publik masing-masing. Sektor yang harus hadir langsung di lapangan tetap berjalan, sementara pekerjaan administrasi dan layanan digital menjadi area paling siap untuk bekerja jarak jauh.

Bagi sektor swasta, WFH juga memberi ruang untuk mengatur biaya operasional, terutama transportasi dan utilitas kantor. Namun, efektivitas kebijakan ini tetap bergantung pada kesiapan sistem kerja, infrastruktur digital, dan disiplin manajemen internal di tiap perusahaan.

Bukan Hanya Soal Kerja dari Rumah

Sejumlah negara tidak hanya mengandalkan WFH, tetapi juga menambah kebijakan hemat energi lain. Langkah seperti pengaturan AC, pembatasan perjalanan dinas, pengurangan jam operasional usaha, hingga dorongan memakai transportasi publik menunjukkan bahwa penghematan energi membutuhkan kombinasi kebijakan.

Di tengah ketidakpastian harga minyak global, WFH menjadi salah satu cara paling cepat untuk meredam beban energi jangka pendek. Karena itu, banyak pemerintah masih melihat kebijakan ini sebagai opsi penting selama tekanan pasar energi belum mereda.

Baca selengkapnya di: www.medcom.id

Berita Terkait

Back to top button