Pengungsi Syiah Lebanon Terjepit, Serangan Udara Memicu Curiga dan Pengusiran

Lebanon kembali menghadapi tekanan sosial yang berat saat gelombang serangan udara Israel memaksa lebih dari 1 juta orang mengungsi, dan sebagian besar dari mereka adalah warga Syiah. Di banyak wilayah yang dianggap aman, para pengungsi justru menghadapi kecurigaan, penolakan sewa, hingga ancaman pengusiran karena dikaitkan dengan Hezbollah.

Situasi ini membuat banyak keluarga tidak hanya kehilangan rumah, tetapi juga menghadapi perlakuan diskriminatif saat mencari tempat berlindung. Ketegangan sektarian yang lama terpendam kini kembali menguat, sementara aparat keamanan berusaha mencegah bentrokan meluas di tengah kecemasan publik yang terus meningkat.

Pengungsi Syiah sulit mendapat tempat tinggal

Hussein Shuman, pekerja berusia 35 tahun dari pinggiran selatan Beirut, memilih tinggal di tenda darurat di pusat kota bersama istri dan dua anaknya. Ia menolak pindah ke tempat lain karena merasa warga Syiah tidak diterima dengan baik di wilayah yang dianggap aman dari pengaruh Hezbollah.

Shuman berkata, “Dengan tetap di sini, saya punya martabat dan rasa hormat.” Ia menambahkan bahwa keluarganya tidak mau tinggal di tempat yang membuat mereka merasa dipermalukan, meski tendanya sudah dua kali tergenang banjir dalam dua pekan terakhir.

Di sejumlah kawasan Kristen, pemilik rumah menolak menyewakan properti kepada warga Syiah. Di tempat lain, mereka yang masih bisa menyewa dipaksa membayar harga jauh lebih tinggi, bahkan diminta menyerahkan uang muka besar untuk masa kontrak yang singkat.

Harga sewa melonjak dan syarat makin berat

Fatima Zahra, 42 tahun, mengatakan ia dan saudara perempuannya menjual perhiasan terbaik mereka untuk membayar US$5.000 kepada pemilik rumah di Beirut. Uang itu dipakai untuk menutup biaya sewa dua bulan di tengah situasi pengungsian yang serba mendesak.

Di beberapa lingkungan Beirut, proses sewa juga disertai pemeriksaan tambahan oleh aparat keamanan. Pemilik rumah meminta otoritas memeriksa apakah keluarga pengungsi memiliki kaitan dengan Hezbollah sebelum izin menempati apartemen diberikan.

Berikut pola hambatan yang paling sering muncul bagi pengungsi Syiah di Lebanon:

  1. Penolakan langsung dari pemilik rumah di wilayah Kristen.
  2. Permintaan sewa yang jauh lebih mahal dari harga normal.
  3. Uang jaminan atau pembayaran di muka yang besar.
  4. Pemeriksaan keamanan atas dugaan hubungan dengan Hezbollah.
  5. Tekanan sosial dari warga lokal yang khawatir wilayah mereka jadi sasaran serangan.

Serangan udara memperbesar ketakutan antarwarga

Ketegangan sosial memburuk setelah serangan udara Israel menewaskan orang-orang yang diduga terkait Hezbollah di wilayah yang didominasi Kristen, Sunni, dan Druze. Banyak warga setempat lalu khawatir bahwa anggota Hezbollah menyatu di antara penduduk sipil dan bersembunyi di area tempat pengungsian.

Pada pertengahan bulan lalu, serangan di Aramoun menewaskan tiga orang dan memicu seruan dari sebagian warga lokal agar pengungsi yang tinggal di area itu segera pergi. Beberapa hari kemudian, serangan di Bchamoun menewaskan tiga orang lain, termasuk seorang anak perempuan berusia empat tahun yang mengungsi dari pinggiran selatan Beirut.

Dalam dua kasus itu, Israel tidak mengumumkan target spesifik. Namun, banyak tetangga langsung menduga penghuni apartemen yang diserang memiliki hubungan dengan Hezbollah, sehingga memicu kemarahan dan tekanan baru terhadap para pengungsi.

Kecurigaan lintas komunitas memicu gesekan

Di wilayah Keserwan, utara Beirut, serpihan rudal yang jatuh setelah ledakan di udara sempat menimbulkan kepanikan. Meski tentara Lebanon kemudian menyebut benda itu sebagai rudal Iran yang melintas di atas wilayah Lebanon, banyak warga semula mengira serangan itu diarahkan ke pengungsi.

Tak lama setelah kejadian itu, sekelompok pemuda menyerang warga Syiah yang mengungsi di Haret Sakher dekat Jounieh dan menuntut mereka diusir. Seorang warga setempat bahkan berteriak, “Kami tidak ingin mereka di sini,” sambil menolak gagasan hidup berdampingan secara nasional.

George Saadeh, anggota dewan kota Jounieh, mengatakan ia telah meminta warga Haret Sakher untuk menahan diri agar ketertiban sipil tetap terjaga. Di tempat lain, rencana menampung pengungsi di sebuah gudang kosong dekat pelabuhan juga ditunda setelah menuai penolakan dari warga dan anggota parlemen.

Pemerintah berupaya mencegah bentrokan

Pakar Timur Tengah dari Carnegie Middle East Center di Beirut, Maha Yahya, mengatakan kampanye serangan Israel telah memicu paranoia di banyak tempat. Ia menilai kehadiran pengungsi kini sering dipandang dengan curiga, seolah-olah mereka bisa saja menjadi sasaran atau justru membawa risiko bagi lingkungan setempat.

Tentara Lebanon memperkuat kehadiran di jalan-jalan ketika kekhawatiran meningkat. Panglima militer Jenderal Rudolphe Haikal juga mengunjungi Beirut dan Sidon, lalu meminta pasukan bersikap tegas terhadap upaya apa pun yang dapat mengacaukan stabilitas internal.

Polisi, termasuk unit SWAT, ditempatkan di persimpangan utama di ibu kota untuk menjaga ketertiban. Patroli juga melintas di kawasan tenda dekat pesisir Beirut, tempat Shuman dan keluarganya bertahan bersama ratusan pengungsi lainnya.

Ketegangan sektarian lama kembali terbuka

Lebanon masih menyimpan luka dari perang saudara 15 tahun yang berakhir pada 1990. Karena konflik itu banyak berakar pada garis sektarian, isu identitas kini kembali menjadi titik rawan ketika negara menghadapi perang baru dan pengungsian besar-besaran.

Pejabat di kota Naameh, selatan Beirut, mengatakan pihaknya menerima ribuan pengungsi dari Lebanon selatan. Untuk meredam gesekan, dua sekolah dibuka terpisah bagi pengungsi Syiah dan pengungsi Sunni dari desa-desa perbatasan.

Menurut pejabat itu, kekhawatiran warga sangat besar dan banyak orang takut konflik bisa meledak kapan saja. Taymour Joumblatt, pemimpin Partai Sosialis Progresif yang menjadi kekuatan politik Druze terbesar di negara itu, menyebut ancaman utama saat ini adalah “perselisihan” dan meminta tekanan sektarian dikurangi di lapangan.

Ia menegaskan bahwa warga Syiah adalah bagian dari Lebanon dan berhak mendapat bantuan kemanusiaan. Di tengah perang yang terus meluas, pengungsian, penolakan tempat tinggal, dan rasa saling curiga kini menjadi tantangan utama yang menentukan apakah Lebanon mampu mencegah krisis keamanan berubah menjadi konflik sosial yang lebih dalam.

Exit mobile version