Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa segera menghentikan atau memindahkan misi UNIFIL dari Libanon setelah tiga prajurit TNI gugur dalam tugas. Ia menilai situasi keamanan di lapangan sudah berubah drastis dan pasukan penjaga perdamaian kini berada di area yang sudah masuk kategori war zone.
Pernyataan itu ia sampaikan melalui akun pribadinya di X, Minggu (5/4), saat mengenang tiga prajurit yang gugur, yakni Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan, dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadon. SBY menyebut dirinya ikut berduka ketika memberikan penghormatan terakhir kepada para almarhum dan menegaskan bahwa mereka telah mengorbankan jiwa serta raga untuk negara.
SBY Soroti Perubahan Situasi di Libanon
SBY menilai penugasan pasukan perdamaian tidak lagi aman jika medan yang ditempati sudah menjadi lokasi bentrokan aktif. Ia mengatakan kontingen Indonesia sebelumnya ditempatkan di sekitar Blue Line, tetapi kini situasinya telah bergeser karena pertempuran antara Israel dan Hizbullah terus berlangsung.
Menurut SBY, perkembangan terbaru di lapangan membuat personel UNIFIL sangat rentan menjadi korban. Ia juga menyebut ada laporan bahwa pasukan Israel telah bergerak sekitar 7 kilometer dari Blue Line, yang menurutnya mempertegas bahwa area tersebut sudah masuk zona perang.
Dalam pengalamannya saat bertugas bersama PBB di Bosnia pada 1995-1996, SBY mengingatkan bahwa pasukan penjaga perdamaian umumnya tidak dibekali mandat tempur penuh. Ia menjelaskan misi itu berada dalam kerangka Chapter 6 Piagam PBB, sehingga personel biasanya tidak dipersiapkan untuk menghadapi pertempuran intens seperti yang terjadi sekarang di Libanon.
Desakan ke PBB dan DK PBB
SBY meminta PBB di New York segera mengambil keputusan tegas agar penugasan UNIFIL dihentikan atau dipindahkan ke lokasi yang lebih aman. Ia menilai langkah itu diperlukan agar pasukan penjaga perdamaian tidak terus berada di tengah medan tembak yang masih aktif.
Ia juga mendorong Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi yang jelas dan adil tanpa standar ganda. SBY menegaskan bahwa keselamatan para prajurit harus menjadi prioritas, terutama setelah Indonesia kehilangan tiga personel terbaik dalam misi tersebut.
Pernyataan itu sejalan dengan langkah Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya juga meminta PBB melakukan investigasi serius atas insiden yang menewaskan prajurit TNI. SBY mengatakan investigasi di tengah situasi perang memang tidak mudah, tetapi tetap harus dilakukan agar hasilnya masuk akal dan dapat dipertanggungjawabkan.
Riwayat Keterlibatan Indonesia di UNIFIL
SBY mengingatkan bahwa Indonesia sudah lama terlibat dalam misi perdamaian di Libanon. Ia menyebut pengiriman satu batalyon TNI ke sana pernah ia usulkan saat menjabat presiden pada November 2006.
Hingga 2026, tercatat sudah 19 kali kontingen Indonesia bertugas dalam misi UNIFIL. Berikut ringkasan poin penting yang disampaikan SBY terkait misi tersebut:
- Indonesia aktif dalam UNIFIL sejak 2006.
- Kontingen Garuda menjalankan tugas perdamaian di wilayah yang kini memburuk keamanannya.
- Tiga prajurit TNI gugur saat menjalankan tugas di Libanon.
- SBY menilai lokasi penugasan sudah tidak layak karena menjadi area konflik aktif.
- Ia meminta PBB mempertimbangkan penghentian atau relokasi misi.
Pesan untuk Kontingen Garuda
Di akhir pernyataannya, SBY menyampaikan pesan khusus kepada prajurit Kontingen Garuda XXIII-S yang masih bertugas di Libanon. Ia meminta mereka memberi kemampuan terbaik, tetapi tetap menjaga keselamatan diri di tengah kondisi yang sangat berbahaya.
“Do your best dan jaga diri baik-baik. Keluarga yang mencintai kalian menunggu kehadiran kembali di Tanah Air,” kata SBY.
Situasi ini kembali menyoroti risiko besar yang dihadapi pasukan penjaga perdamaian ketika konflik bersenjata meluas dan batas aman misi ikut bergeser. Bagi Indonesia, gugurnya tiga prajurit TNI menjadi pengingat bahwa misi perdamaian dapat berubah menjadi penugasan berisiko tinggi ketika medan operasi sudah benar-benar dikuasai perang.
Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com




