Iran kembali mengancam akan melancarkan serangan yang lebih keras setelah rangkaian serangan balasan menghantam infrastruktur penting di berbagai negara di Timur Tengah. Eskalasi ini tidak hanya memperluas medan konflik, tetapi juga mulai menekan jalur perdagangan energi global, fasilitas industri, dan keamanan sipil di kawasan.
Dalam pernyataan terbarunya, Teheran menyebut serangan teranyar mereka mengenai target di Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Israel sebagai respons atas serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas industrinya. Di saat yang sama, Israel mengatakan sistem pertahanan udaranya aktif menghadang rudal yang ditembakkan dari Iran, meski belum ada laporan langsung soal korban atau kerusakan.
Serangan meluas ke fasilitas industri dan ekonomi
Gelombang serangan terbaru menunjukkan pola baru dalam konflik yang makin mengarah ke sasaran ekonomi dan industri. Iran mengatakan target yang dihantam termasuk industri baja milik Amerika di Abu Dhabi, industri aluminium milik Amerika di Bahrain, serta pabrik senjata Rafael milik Israel.
Pergeseran sasaran ini menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik tidak lagi terbatas pada instalasi militer. Ancaman terhadap fasilitas energi, manufaktur, dan logistik juga meningkatkan risiko gangguan yang lebih luas terhadap rantai pasok global.
Balasan udara dan korban sipil
Di Iran, ledakan baru dilaporkan terjadi di wilayah Tehran, sementara media სახელმწიფო setempat menyebut serangan Amerika-Israel menghantam jembatan di Karaj dua kali. Serangan pertama disebut menimbulkan korban sipil, lalu serangan kedua terjadi saat tim darurat sedang menangani lokasi.
Pabrik baja terbesar di Iran juga dilaporkan terpaksa menghentikan operasi setelah berulang kali menjadi sasaran serangan Amerika dan Israel. Kondisi ini memperlihatkan dampak langsung dari konflik terhadap kapasitas industri nasional dan aktivitas ekonomi domestik.
Ancaman terhadap jalur minyak dunia
Ketegangan di Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena jalur ini mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Iran disebut telah membuat penyeberangan itu praktis tertutup, sehingga memicu kekhawatiran atas gangguan besar pada pasar energi internasional.
Berikut sejumlah perkembangan penting terkait tekanan pada jalur pelayaran dan respons internasional:
- Inggris mengumpulkan sekitar 40 negara untuk menuntut pembukaan kembali selat itu secara “segera dan tanpa syarat”.
- Italia mendorong koridor kemanusiaan untuk mencegah krisis pangan di Afrika.
- Bahrain mengajukan rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB agar penggunaan kekuatan bisa diizinkan demi menjamin transit bebas.
- Ketua Dewan Kerja Sama Teluk meminta dukungan PBB untuk melindungi kapal-kapal yang melintas.
Tehran menyatakan sedang menyusun kerangka pascaperang bersama Oman untuk mengawasi lalu lintas maritim. Namun, pembicaraan resmi soal mekanisme itu belum dimulai.
Trump kembali melontarkan ancaman keras
Di tengah serangan yang saling berbalas, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperkeras nada ancamannya dengan mengatakan Iran bisa dibom “kembali ke Zaman Batu”. Ia juga menulis di media sosial bahwa jembatan di Karaj telah “runtuh” dan menyebut akan ada “lebih banyak lagi” serangan berikutnya.
Trump ikut mengisyaratkan kemungkinan sasaran baru berupa infrastruktur energi Iran jika tidak ada kesepakatan. Ia menyebut Washington mengamati “target-target utama”, termasuk pembangkit listrik, meski juga memberi sinyal bahwa kepemimpinan baru Iran mungkin lebih terbuka untuk dialog.
Iran menolak pendekatan itu dan menyebut pesan-pesan dari Washington sebagai “maksimalis dan tidak rasional”. Teheran menegaskan komunikasi hanya berlangsung lewat perantara, tanpa negosiasi langsung.
Kondisi warga tetap berlangsung di bawah ancaman
Meski situasi keamanan memburuk, kehidupan sipil di ibu kota Iran belum sepenuhnya berhenti. Keluarga-keluarga masih terlihat berkumpul di Taman Melat, Tehran, memanfaatkan hari ke-13 setelah Nowruz untuk piknik sesuai tradisi.
Seorang warga mengatakan pos pemeriksaan Garda Revolusi meningkat di kota itu. Ia menilai keberadaan aparat di jalan juga dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa negara masih memegang kendali di tengah tekanan serangan udara.
Bentrokan juga menjalar ke Lebanon dan Israel utara
Di Lebanon, kelompok Hezbollah yang didukung Iran mengatakan telah meluncurkan drone dan roket ke Israel utara. Serangan itu terjadi sehari setelah serangan Israel di Beirut menewaskan seorang komandan senior, menurut dua sumber, sementara otoritas Lebanon menyebut tujuh orang tewas.
Sebanyak 18 negara Eropa telah menyerukan kedua pihak menghentikan pertempuran, di tengah kekhawatiran Israel dapat berusaha menguasai wilayah di Lebanon selatan. Kepala Organisasi Internasional untuk Migrasi, Amy Pope, memperingatkan risiko pengungsian berkepanjangan semakin mengkhawatirkan.
Dampak ekonomi global makin terasa
Guncangan dari konflik ini menyebar jauh ke luar Timur Tengah. Uni Emirat Arab mencegat rudal dan drone, sementara pasar global bereaksi gelisah terhadap eskalasi terbaru yang belum menunjukkan tanda mereda.
Harga minyak sempat melonjak ke sekitar $110 per barel setelah peringatan Trump tentang kemungkinan serangan lanjutan. Deutsche Bank mencatat belum ada sinyal bahwa Amerika Serikat tengah mencari jalan keluar cepat dari konflik ini, sehingga ketidakpastian pasar tetap tinggi.
World Bank juga mengingatkan bahwa risiko terhadap inflasi, lapangan kerja, dan ketahanan pangan dunia terus meningkat. Maskapai di China menaikkan surcharge bahan bakar, Malaysia meminta pegawai negeri bekerja dari rumah, sementara pendapatan minyak Iraq disebut turun lebih dari 70 persen secara bulanan.
| Dampak ekonomi | Catatan utama |
|---|---|
| Minyak mentah | Naik ke sekitar $110 per barel |
| Iraq | Pendapatan minyak turun lebih dari 70 persen |
| Pakistan | Harga bensin naik lebih dari 40 persen, solar lebih dari 50 persen |
| Bhutan | Mengalami antrean panjang akibat kelangkaan bahan bakar |
Di Pakistan, harga bensin naik lebih dari 40 persen dan solar lebih dari 50 persen sebagai respons terhadap guncangan energi global. Bahkan Bhutan dilaporkan ikut terdampak, dengan kelangkaan bahan bakar memicu antrean panjang di ibu kota Thimphu, memperlihatkan bahwa krisis ini sudah menjalar hingga ke negara-negara yang jauh dari medan tempur.









