Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengumumkan penahanan terhadap dua perempuan yang disebut sebagai keponakan dan cucu keponakan mendiang Komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Qasem Soleimani. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan bahwa status penduduk tetap atau green card milik keduanya telah dicabut, lalu kasus mereka diserahkan ke Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai AS atau ICE untuk proses deportasi.
Dua individu itu diidentifikasi sebagai Hamideh Soleimani Afshar dan putrinya, Sarinasadat Hosseiny. Pemerintah AS menempatkan kasus ini dalam sorotan politik dan keamanan yang lebih luas karena menyangkut dugaan penipuan imigrasi, dukungan terhadap rezim Iran, dan keterkaitan simbolik dengan nama Qasem Soleimani yang masih memicu ketegangan di Washington dan Teheran.
Siapa yang ditangkap dan apa status mereka
Berdasarkan keterangan resmi Departemen Keamanan Dalam Negeri atau DHS, Hamideh Soleimani Afshar pertama kali masuk ke Amerika Serikat dengan visa turis pada 2015. Ia kemudian mendapat suaka pada 2019 dan memperoleh green card pada 2021.
Pemerintah AS menyebut Afshar dan putrinya kini ditahan oleh ICE sambil menunggu proses deportasi. Dalam pernyataan yang dikutip media, Marco Rubio menegaskan pencabutan green card dilakukan sebagai bagian dari langkah penegakan hukum imigrasi di tengah pengawasan yang lebih ketat terhadap individu yang diduga terkait dengan rezim Iran.
Alasan pemerintah AS mencabut green card
DHS menyatakan Afshar diduga melakukan penipuan untuk memperoleh suaka di AS. Kecurigaan itu menguat saat ia mengajukan permohonan naturalisasi pada 2025 dan mengakui telah bepergian ke Iran sebanyak empat kali setelah menjadi pemegang green card.
“Perjalanannya ke Iran menggambarkan bahwa klaim suakanya adalah penipuan,” ujar pihak DHS dalam penjelasan yang disampaikan ke publik. Otoritas AS juga menuduh Afshar sebagai pendukung vokal rezim Iran dan aktif menyebarkan propaganda Teheran melalui media sosial.
Sejumlah tindakan administratif ikut menyasar keluarganya. Suami Afshar dilaporkan telah dilarang masuk ke wilayah Amerika Serikat, meski rincian kebijakan terhadap dirinya tidak dijelaskan lebih lanjut dalam keterangan resmi yang tersedia.
1. Fakta utama dari kasus ini
1. AS mencabut green card Hamideh Soleimani Afshar dan putrinya, Sarinasadat Hosseiny.
2. Keduanya ditahan ICE sambil menunggu proses deportasi.
3. Afshar masuk ke AS dengan visa turis pada 2015.
4. Ia mendapat suaka pada 2019 dan green card pada 2021.
5. Pemerintah AS menuduh ada penipuan dalam pengajuan suaka.
6. Afshar disebut beberapa kali bepergian ke Iran setelah mendapat status tetap.
7. DHS juga menuduhnya mendukung rezim Iran di media sosial.
Bantahan dari keluarga Soleimani
Keluarga Qasem Soleimani membantah keras klaim pemerintah Amerika Serikat. Putri Soleimani, Narjes Soleimani, mengatakan bahwa dua perempuan yang ditangkap itu tidak memiliki hubungan keluarga dengan ayahnya.
“Individu yang ditangkap di AS tidak memiliki hubungan apa pun dengan Syahid Soleimani dan klaim yang dibuat oleh Departemen Luar Negeri AS adalah palsu,” kata Narjes dalam pernyataan resminya. Ia juga menuding Amerika Serikat sedang mencoba membangun narasi politik yang tidak berdasar.
Bantahan ini penting karena nama Soleimani memiliki bobot politik dan historis yang besar di Timur Tengah. Qasem Soleimani dipandang sebagai tokoh sentral Iran, sementara Washington menilainya sebagai ancaman utama sebelum ia tewas dalam serangan udara AS di Irak pada 2020.
Jejak Qasem Soleimani dalam konflik Iran-AS
Qasem Soleimani tewas dalam serangan udara Amerika Serikat di Irak pada Januari 2020 atas perintah Presiden Donald Trump saat itu. Peristiwa itu memperburuk hubungan Washington dan Teheran, sekaligus menjadikan nama Soleimani sebagai simbol pertarungan pengaruh antara kedua negara.
Dalam pidato terbarunya, Trump kembali menyinggung operasi tersebut dan menyebut Soleimani sebagai sosok berbahaya. Ia mengatakan, “Saya membunuh Jenderal Qasem Soleimani di masa jabatan pertama saya. Dia adalah seorang jenius yang jahat, orang yang brilian, namun merupakan manusia yang mengerikan.”
Pernyataan itu menunjukkan bahwa isu Soleimani masih hidup dalam politik dalam negeri AS. Karena itu, penahanan dua perempuan yang disebut terkait dengannya langsung menarik perhatian publik dan memunculkan berbagai spekulasi politik.
Mengapa kasus ini menjadi penting
Kasus ini tidak hanya soal status imigrasi, tetapi juga menyentuh persoalan keamanan nasional, loyalitas politik, dan perang narasi antara AS serta Iran. Pemerintah AS berupaya menunjukkan bahwa sistem suaka tidak boleh dipakai untuk menutupi informasi penting atau menyusupkan pengaruh politik asing.
Di sisi lain, kubu keluarga Soleimani melihat langkah ini sebagai tuduhan yang dibuat-buat dan sarat kepentingan politik. Perbedaan narasi tersebut membuat kasus ini berpotensi terus menjadi perhatian, terutama jika proses deportasi dan pemeriksaan dokumen imigrasi berlanjut ke jalur hukum.
2. Kronologi singkat peristiwa
1. 2015: Hamideh Soleimani Afshar masuk ke AS dengan visa turis.
2. 2019: Ia mendapat suaka.
3. 2021: Ia memperoleh green card.
4. 2025: Saat mengajukan naturalisasi, muncul dugaan penipuan.
5. 4 April waktu setempat: AS mengumumkan pencabutan green card dan penahanan.
6. Setelah itu: Keluarga Soleimani membantah hubungan kekerabatan dan menolak tuduhan AS.
Hingga kini, proses hukum terhadap Hamideh Soleimani Afshar dan putrinya masih berjalan di bawah pengawasan otoritas imigrasi AS. Kasus ini juga kembali menempatkan hubungan Amerika Serikat dan Iran dalam sorotan, terutama karena nama Qasem Soleimani masih menjadi salah satu simbol paling sensitif dalam konflik panjang kedua negara.
Baca selengkapnya di: www.medcom.id




