PBB Hari Ini Putuskan Selat Hormuz, Iran Hadapi Opsi Pengerahan Militer

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa dijadwalkan menggelar pemungutan suara hari ini untuk menentukan apakah kekuatan militer internasional akan dikerahkan ke Selat Hormuz. Langkah itu muncul setelah jalur pelayaran strategis tersebut ditutup Iran menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu.

Isu ini langsung menyedot perhatian dunia karena Selat Hormuz menjadi salah satu urat nadi energi global. Sekitar 20 persen minyak dunia melintas melalui jalur sempit itu, sehingga setiap gangguan di kawasan ini berpotensi memicu lonjakan risiko ekonomi dan keamanan internasional.

Draf resolusi Bahrain jadi fokus utama

Bahrain yang kini memimpin Dewan Keamanan PBB mengajukan resolusi yang berisi perlindungan terhadap jalur perdagangan di Selat Hormuz. Draf itu juga membuka opsi penggunaan “segala sarana pertahanan” untuk memastikan pelayaran kembali normal.

Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif bin Rashid Al Zayani mengatakan pihaknya berharap dewan menunjukkan sikap bersatu dalam pemungutan suara tersebut. Ia menegaskan bahwa tindakan bersama diperlukan karena, menurut Bahrain, Iran telah mengendalikan jalur perdagangan internasional itu secara ilegal dan sewenang-wenang.

Syarat lolos dan ancaman veto

Agar resolusi bisa disahkan, setidaknya sembilan dari 15 anggota Dewan Keamanan PBB harus menyetujuinya. Selain itu, tidak boleh ada veto dari lima anggota tetap, yaitu Amerika Serikat, Rusia, China, Inggris, dan Prancis.

Kombinasi syarat itu membuat hasil voting hari ini sangat sensitif. Dukungan cukup besar di antara anggota dewan belum tentu cukup jika ada satu negara tetap yang menolak dengan hak veto.

Dukungan dan penolakan dari berbagai pihak

Resolusi Bahrain mendapat sokongan dari dunia Arab. Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Aboul Gheit menyampaikan dukungan tersebut langsung kepada Dewan Keamanan PBB.

Inggris juga mengambil sikap serupa. Pada Kamis kemarin, London menggelar pertemuan dengan lebih dari 40 negara untuk membahas rencana pengerahan militer di Selat Hormuz demi menjamin keamanan lalu lintas kapal dagang.

Di sisi lain, China sudah menyatakan keberatan. Duta Besar China untuk PBB Fu Cong menolak penggunaan cara-cara militer untuk membuka kembali Selat Hormuz karena, menurut dia, langkah itu justru dapat memperburuk eskalasi konflik yang sedang berlangsung.

Mengapa Selat Hormuz sangat penting

Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Jalur ini sempit, tetapi perannya sangat besar karena menjadi rute utama ekspor minyak dari negara-negara penghasil energi di Timur Tengah.

Gangguan di wilayah ini selalu menimbulkan kekhawatiran pasar global. Ketika jalur ini tertutup atau terancam, biaya pengiriman, harga minyak, dan stabilitas rantai pasok energi dapat terdampak dalam hitungan jam.

Poin penting menjelang voting Dewan Keamanan PBB

  1. Bahrain mengajukan resolusi perlindungan Selat Hormuz.
  2. Resolusi itu memungkinkan penggunaan segala sarana pertahanan.
  3. Voting memerlukan minimal sembilan suara setuju.
  4. Tidak boleh ada veto dari lima anggota tetap Dewan Keamanan.
  5. Inggris dan sejumlah negara Arab mendukung langkah Bahrain.
  6. China menolak opsi militer karena dinilai berisiko memperbesar konflik.

Sikap Dewan Keamanan PBB hari ini akan menjadi penentu arah kebijakan internasional terhadap krisis Selat Hormuz. Jika resolusi disahkan, maka kehadiran kekuatan militer internasional di jalur strategis itu berpotensi menjadi babak baru dalam ketegangan antara Iran dan blok negara-negara pendukung keamanan pelayaran global.

Baca selengkapnya di: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button