Paus Leo XIV memimpin ritual pembasuhan kaki untuk pertama kalinya pada Kamis Putih di Roma, sebagai penanda kembalinya sebuah tradisi liturgi yang lama dikenal dalam Pekan Suci. Dalam upacara itu, ia membasuh kaki 12 imam Roma saat memimpin Misa Perjamuan Terakhir di Basilika St John Lateran, lalu mengeringkan dan mencium kaki mereka sebagai simbol pelayanan dalam tradisi Kristiani.
Tindakan tersebut menjadi sorotan karena ritual ini sebelumnya kerap dikaitkan dengan Paus Fransiskus, yang selama 12 tahun pontifikatnya memilih lokasi-lokasi di luar Vatikan seperti penjara, shelter pengungsi, dan tempat penampungan kaum miskin. Di bawah Fransiskus, pembasuhan kaki menjadi simbol kedekatan Gereja dengan kelompok yang sering terpinggirkan.
Tradisi yang kembali ke bentuk klasik
Paus Leo, yang berusia 70 tahun dan berasal dari Amerika Serikat, memimpin rangkaian perayaan Pekan Suci untuk pertama kalinya sejak terpilih pada Mei. Dengan mengenakan celemek linen putih, ia menuangkan air ke kaki para imam, mengecilkan jarak antara liturgi dan pesan pelayanan yang menjadi inti perayaan Kamis Putih.
Kembali ke Basilika St John Lateran juga menandai kembalinya bentuk tradisional ritual tersebut, yang dulu pernah dijalankan para paus sebelumnya. Dalam homilinya, Leo menyebut Fransiskus dan mengutip pernyataannya dari penampilan publik pada 2013 tentang pembasuhan kaki sebagai “tugas yang datang dari hati”.
Makna spiritual di tengah pesan sosial
Pembasuhan kaki dalam tradisi Katolik merujuk pada tindakan Yesus kepada para rasul pada Perjamuan Terakhir. Dalam konteks masa kini, ritual itu sering dibaca sebagai simbol kerendahan hati, pengabdian, dan ajakan untuk melayani sesama tanpa memandang status sosial.
Leo menegaskan dimensi itu dalam homilinya dengan menyerukan solidaritas terhadap mereka yang tertindas. Ia berkata bahwa ketika umat manusia “dibuat bertekuk lutut oleh begitu banyak tindakan brutalitas,” umat beriman juga harus “berlutut sebagai saudara dan saudari di sisi kaum tertindas.”
Jejak Fransiskus masih kuat dalam Pekan Suci
Warisan Fransiskus masih terasa kuat dalam cara Gereja menangani perayaan ini. Pada April, ketika kondisi kesehatannya melemah dan ia menggunakan kursi roda, Fransiskus melakukan kunjungan terakhir ke penjara di Roma, tetapi tidak lagi mampu menjalankan ritual pembasuhan kaki seperti sebelumnya.
Empat hari setelah kunjungan itu, ia wafat pada usia 88, sehari setelah Paskah. Peristiwa tersebut menambah bobot emosional pada keputusan Leo untuk menegaskan kembali tradisi kuno sekaligus tetap menghubungkannya dengan perhatian pada kelompok rentan.
Agenda Pekan Suci Leo di Roma
Rangkaian ibadah Leo tidak berhenti pada Kamis Putih dan berlanjut ke Jumat Agung dengan liturgi Sengsara serta prosesi Jalan Salib di Colosseum Roma. Tradisi tahunan itu biasanya menarik ribuan umat ke amfiteater yang diterangi cahaya malam, dan tahun ini Leo dijadwalkan memikul salib melewati 14 perhentian yang merekam perjalanan Yesus menuju penyaliban.
- Misa Perjamuan Terakhir di Basilika St John Lateran
- Pembasuhan kaki terhadap 12 imam Roma
- Liturgi Sengsara pada Jumat Agung
- Jalan Salib di Colosseum
- Prosesi 14 perhentian menuju penyaliban dan penguburan Yesus
Kehadiran Leo dalam seluruh rangkaian itu menandai fase awal pontifikatnya dalam memimpin salah satu periode liturgi paling sakral di Gereja Katolik, sambil menjaga kesinambungan antara tradisi klasik dan pesan solidaritas sosial yang diwariskan pendahulunya.









