Pasukan khusus Amerika Serikat mengevakuasi seorang penerbang yang terjebak di wilayah Iran lewat operasi berisiko tinggi di area pegunungan, sementara Presiden Donald Trump mengancam akan menjatuhkan “neraka” kepada Tehran jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali untuk arus minyak. Operasi itu terjadi di tengah eskalasi perang yang sudah mengguncang kawasan Teluk, memicu tekanan baru bagi pasar energi global yang sangat bergantung pada jalur sempit tersebut.
Trump menyebut penyelamatan itu sebagai salah satu misi paling berani dalam sejarah militer Amerika. Ia juga mengatakan perwira persenjataan F-15 yang ditembak jatuh pada Jumat lalu itu terluka, tetapi akan pulih, sementara pilot jet berhasil diselamatkan pada hari yang sama.
Operasi rahasia di wilayah pegunungan
Menurut laporan Reuters, komando Amerika bergerak pada malam hari dan masuk jauh ke wilayah Iran tanpa terdeteksi. Mereka memanjat punggungan setinggi sekitar 7.000 kaki atau 2.100 meter sebelum membawa personel Amerika itu ke titik pertemuan rahasia menjelang fajar.
Sekitar 100 personel operasi khusus terlibat dalam misi tersebut di medan yang berat di selatan Teheran. Dua pesawat MC-130 yang membawa sebagian pasukan mengalami gangguan mekanis dan tidak bisa lepas landas, sehingga komandan lapangan memutuskan mengirim pesawat tambahan untuk mengevakuasi tim dalam gelombang terpisah.
Keputusan itu membuat para komando elit menunggu selama beberapa jam dalam situasi yang tegang. U.S. troops kemudian menghancurkan dua MC-130 yang rusak serta empat helikopter tambahan di dalam Iran agar peralatan sensitif tidak tertinggal.
Iran menyatakan beberapa pesawat militer Amerika hancur selama operasi. Media sosial juga menampilkan puing pesawat yang hangus, dan Reuters menyebut rekaman itu telah diverifikasi berada di lokasi yang dimaksud.
Ancaman ke Selat Hormuz menaikkan tensi
Selain operasi penyelamatan, Trump melancarkan ancaman keras terhadap Iran bila Selat Hormuz tetap ditutup. Jalur air itu menjadi conduit bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam dunia, sehingga setiap gangguan langsung memukul harga energi dan biaya logistik internasional.
Trump mendesak Iran membuka jalur itu sebelum batas waktu yang ia sebut pada Selasa. Ia juga mengisyaratkan serangan terhadap infrastruktur energi dan transportasi, langkah yang menurut para pengkritik dapat melanggar hukum internasional.
Pada saat yang sama, ia memberi sinyal yang membingungkan pasar dan pendukungnya. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengatakan Iran sedang bernegosiasi dan kesepakatan bahkan mungkin tercapai pada Senin.
Respons Iran dan serangan balasan di kawasan Teluk
Tehran mengecam ancaman Washington dan menyebut langkah itu ceroboh. Ketua parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menuduh Trump tersesat oleh pengaruh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Iran juga menunjukkan bahwa kemampuan serangannya masih aktif meski mendapat tekanan dari serangan udara Amerika-Israel. Drone dan rudal diluncurkan ke fasilitas petrokimia di Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab, sementara Garda Revolusi mengklaim menyerang kapal yang terkait Israel di Pelabuhan Jebel Ali, Dubai.
Warga dan infrastruktur energi di kawasan itu ikut terdampak. Di Kuwait, drone memicu kebakaran dan menimbulkan kerusakan material serius di fasilitas petrokimia yang dioperasikan afiliasi Kuwait Petroleum Corporation.
Dampak lintas negara makin meluas
Konflik yang awalnya dimulai dari serangan udara Amerika dan Israel terhadap Iran kini melebar ke beberapa negara lain. Di Lebanon, Israel kembali menjalankan kampanye melawan Hizbullah yang didukung Iran, dan otoritas kesehatan Lebanon menyebut 11 orang tewas pada Minggu.
Di Israel, tim penyelamat menyisir puing-puing di kota Haifa setelah rudal Iran menghantam bangunan tempat tinggal. Paramedis Israel mengatakan sembilan orang sedang dirawat, sementara laporan lain menyebut serangan ke sebuah gedung di Qom, selatan Teheran, menewaskan sedikitnya lima orang.
Fakta penting yang membentuk krisis
- Selat Hormuz menyalurkan sekitar seperlima suplai minyak dan gas dunia.
- Operasi penyelamatan dilakukan diam-diam di wilayah pegunungan dekat Teheran.
- Dua pesawat MC-130 rusak, sehingga komandan mengirim pesawat tambahan untuk evakuasi.
- Iran membalas dengan serangan drone dan rudal ke sejumlah fasilitas energi di Teluk.
- Upaya mediasi yang didorong Pakistan sejauh ini belum membuahkan hasil.
Mengapa operasi ini penting bagi Washington
Penyelamatan airman itu mengurangi risiko munculnya krisis sandera baru bagi Trump di tengah perang yang makin tidak populer di kalangan publik Amerika. Situasi itu juga memberi gambaran bahwa Washington ingin mencegah konflik berkembang menjadi tekanan politik domestik yang lebih besar.
Namun, dengan Selat Hormuz yang masih terganggu dan serangan lintas batas terus berlanjut, pasar minyak tetap berada dalam posisi waspada. Selama belum ada kesepakatan yang menghentikan pertempuran dan memastikan jalur pelayaran tetap terbuka, tekanan terhadap energi, keamanan maritim, dan stabilitas kawasan akan terus meningkat.









