Diam-diam Amerika Serikat dan Iran disebut sedang membahas opsi gencatan senjata selama 45 hari yang bisa menjadi pintu awal menuju kesepakatan damai yang lebih permanen. Pembicaraan ini berlangsung di tengah ancaman eskalasi militer yang makin serius, terutama setelah tenggat yang diberikan Presiden AS Donald Trump kepada Iran terus mendekati batas akhir.
Laporan Axios yang dikutip Anadolu Agency menyebut negosiasi itu melibatkan mediator dari Timur Tengah dan sejumlah pejabat AS yang mengetahui jalannya pembicaraan. Meski ada dorongan kuat agar tercapai jeda konflik, para sumber menilai peluang lahirnya kesepakatan dalam 48 jam ke depan masih kecil.
Jalur Diplomasi Masih Dibuka
Washington dan Teheran kini berada pada fase paling sensitif dalam beberapa pekan terakhir. Di satu sisi, AS ingin menekan Iran agar menerima syarat tertentu, sementara Iran ingin jaminan bahwa setiap gencatan senjata tidak akan berakhir seperti di Gaza atau Lebanon, yang sewaktu-waktu bisa runtuh.
Menurut sumber yang mengetahui negosiasi, pembicaraan ini dipandang sebagai kesempatan terakhir untuk mencegah eskalasi yang lebih besar. Salah satu kekhawatiran utama adalah serangan terhadap infrastruktur sipil Iran yang bisa memicu balasan ke fasilitas minyak dan air di negara-negara Teluk.
Isi Rancangan Kesepakatan
Rancangan yang dibahas disebut terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah gencatan senjata selama 45 hari untuk memberi ruang negosiasi lanjutan, sedangkan tahap kedua diarahkan pada kesepakatan permanen.
- Gencatan senjata 45 hari sebagai fase jeda konflik.
- Negosiasi lanjutan untuk membahas stok uranium Iran.
- Pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai bagian dari pembahasan strategis.
- Jaminan kepatuhan gencatan senjata dari pihak AS.
- Langkah parsial dari Iran sebagai bentuk kompromi awal.
Masalah uranium dan Selat Hormuz menjadi dua isu sentral dalam posisi tawar Iran. Kedua hal itu dinilai sangat menentukan apakah Teheran bersedia bergerak ke arah kesepakatan yang lebih luas.
Trump Tekan Iran, Tenggat Diperpanjang
Presiden AS Donald Trump sebelumnya memberi Iran tenggat awal selama 10 hari, dan batas itu seharusnya habis pada Senin malam. Namun, tenggat tersebut kemudian diperpanjang 20 jam dan kini jatuh pada Selasa pukul 20.00 waktu setempat.
Dalam wawancara dengan Axios, Trump mengatakan peluang kesepakatan masih terbuka sebelum batas waktu habis. “Ada peluang yang cukup besar, tapi jika mereka tidak setuju, saya akan menghancurkan semuanya di sana,” kata Trump, sembari mengancam serangan terhadap infrastruktur Iran jika tidak ada kesepakatan.
Pernyataan itu memperlihatkan tekanan politik dan militer yang besar dari Washington. Namun, perpanjangan tenggat juga menunjukkan bahwa jalur diplomasi belum sepenuhnya ditutup.
Mediator dari Kawasan Timur Tengah Ikut Bergerak
Pembicaraan ini tidak hanya melibatkan komunikasi langsung antara Trump, utusannya Steve Witkoff, dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Beberapa mediator dari Pakistan, Mesir, dan Turki juga ikut menjembatani komunikasi yang berlangsung tertutup itu.
Peran mediator menjadi penting karena kedua pihak sama-sama berada dalam posisi sulit. AS ingin mencegah konflik meluas, sementara Iran menuntut kepastian bahwa setiap kesepakatan tidak akan dipakai sebagai alat tekan baru setelah gencatan senjata dimulai.
Sumber-sumber tersebut menyebut dua proposal sudah diajukan Washington, tetapi Iran belum menyetujuinya. Hal ini membuat negosiasi masih berada di titik rawan dan belum menghasilkan terobosan yang bisa diumumkan ke publik.
Ancaman Eskalasi Masih Besar
Di balik upaya diplomasi itu, ancaman konflik tetap tinggi. Dua sumber menyebut rencana serangan AS-Israel terhadap fasilitas energi Iran sebenarnya telah disiapkan, dan perpanjangan tenggat diberikan agar ada peluang terakhir untuk mencegah perang yang lebih luas.
Iran sendiri telah menyatakan akan membalas Israel dan negara-negara Teluk bila diserang. Jika hal itu terjadi, dampaknya bisa meluas ke jalur energi, pelayaran, dan infrastruktur penting di kawasan yang sudah lama rapuh akibat konflik geopolitik.
Situasi ini membuat 48 jam ke depan menjadi sangat krusial. Para mediator menilai periode singkat itu dapat menentukan apakah kawasan akan masuk ke de-eskalasi terbatas atau justru menghadapi benturan yang lebih besar.
Apa yang Dipertaruhkan dalam Negosiasi Ini
Negosiasi AS-Iran bukan hanya soal menghentikan serangan sementara. Pembicaraan ini juga menyangkut stabilitas kawasan, keamanan jalur perdagangan internasional, dan risiko gangguan terhadap pasokan energi global.
Ketika Selat Hormuz masuk ke dalam diskusi, maknanya jauh lebih luas dari sekadar isu regional. Selat itu adalah jalur vital bagi lalu lintas minyak dunia, sehingga setiap gangguan di sana berpotensi memengaruhi pasar energi global dan memicu tekanan ekonomi lintas negara.
Pernyataan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran pada Minggu juga menambah ketegangan. Mereka menyatakan situasi di Selat Hormuz tidak akan kembali seperti sebelum perang bagi AS dan Israel, menunjukkan bahwa Teheran belum berniat melunak dalam waktu dekat.
Di tengah semua tekanan itu, diplomasi masih berjalan meski rapuh. Hasil akhirnya kini bergantung pada apakah AS dan Iran mau mengambil langkah kompromi cukup jauh untuk menahan eskalasi, atau justru membiarkan ancaman militer mengambil alih meja perundingan.
