Zelenskyy Pimpin Pakta Keamanan Dengan Suriah, Kyiv Tawarkan Pengalaman Militer Di Timur Tengah

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan Kyiv dan Suriah sepakat memperkuat kerja sama keamanan setelah pertemuannya dengan Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa di Damaskus. Kunjungan itu menjadi lawatan pertama Zelenskyy ke ibu kota Suriah sejak Bashar al-Assad digulingkan pada 2024.

Zelenskyy menyebut kedua pihak ingin bekerja bersama untuk memberi “lebih banyak keamanan dan peluang pembangunan bagi masyarakat kami”. Ia juga mengatakan ada “minat besar” untuk saling bertukar pengalaman militer dan keamanan.

Latar diplomasi di tengah ketegangan kawasan

Pertemuan di Damaskus berlangsung ketika Ukraina terus mencari ruang kerja sama baru di Timur Tengah. Kyiv menawarkan pengalaman militernya kepada sejumlah pemerintah di kawasan, terutama dalam menghadapi ancaman drone dan rudal yang makin sering muncul dalam konflik regional.

Ukraina selama lebih dari empat tahun perang dengan Rusia telah membangun pengalaman besar dalam menghadapi serangan udara nirawak. Pengalaman itu membuat Kyiv menjadi mitra yang menarik bagi negara-negara yang ingin memperkuat pertahanan terhadap ancaman serupa.

Mengapa kerja sama keamanan ini penting

Suriah diketahui tidak memiliki sistem pertahanan udara yang dinilai mampu menangkal drone atau rudal Iran secara efektif. Kondisi itu membuat pembahasan kerja sama keamanan dengan Ukraina menjadi relevan, terutama saat ketegangan kawasan meningkat.

Berikut poin penting dari kerja sama yang dibahas:

  1. pertukaran pengalaman militer dan keamanan;
  2. penguatan kemampuan menghadapi ancaman drone dan rudal;
  3. peluang kerja sama yang mendukung stabilitas kawasan;
  4. pembicaraan lanjutan terkait keamanan regional.

Ukraina memperluas jejaring di Timur Tengah

Dalam beberapa kunjungan terakhir, Ukraina juga mengirim tim ke Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Langkah ini menunjukkan upaya Kyiv memperluas kerja sama pertahanan di luar Eropa sambil membangun dukungan politik dan strategis di kawasan Teluk.

Saat berada di negara-negara Teluk pekan lalu, Zelenskyy menandatangani kesepakatan kerja sama militer jangka panjang dengan Arab Saudi dan Qatar. Kesepakatan itu memperkuat sinyal bahwa Ukraina ingin memposisikan diri sebagai mitra keamanan yang aktif di kawasan.

Pembicaraan soal pangan dan energi ikut mengemuka

Zelenskyy juga mengatakan kepada al-Sharaa bahwa Kyiv merupakan pemasok gandum yang dapat diandalkan. Ia menambahkan bahwa keduanya membahas peluang bersama untuk memperkuat ketahanan pangan di seluruh kawasan.

Isu pangan menjadi penting karena banyak negara di Timur Tengah bergantung pada impor gandum dan komoditas pertanian lainnya. Dalam konteks ini, Ukraina melihat sektor pangan sebagai bagian dari diplomasi strategis yang bisa berjalan beriringan dengan kerja sama keamanan.

Pada saat yang sama, Zelenskyy juga menggelar pertemuan dengan Menlu Turkiye Hakan Fidan di Damaskus. Ia bertemu pula dengan Menlu Suriah Asaad al-Shaibani dan Menlu Ukraina Andrii Sybiha, sehari setelah melakukan kunjungan ke Turkiye.

Rangkaian pertemuan yang saling terhubung

Kunjungan ke Suriah tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari rangkaian diplomasi yang lebih luas. Di Turkiye, Zelenskyy bertemu Presiden Recep Tayyip Erdogan dan menyepakati “langkah baru” dalam kerja sama keamanan.

Ia juga membahas proyek infrastruktur gas bersama dan pengembangan ladang gas, yang menunjukkan bahwa agenda Kyiv di kawasan tidak hanya mencakup pertahanan. Dalam praktiknya, Ukraina juga tengah membangun hubungan yang menyentuh aspek energi, pangan, dan stabilitas regional.

Situasi ini memperlihatkan bagaimana perang yang masih berlangsung di Ukraina mendorong Kyiv mencari kemitraan yang lebih luas. Suriah, yang sedang menata ulang arah politik dan keamanannya setelah perubahan kepemimpinan, kini menjadi salah satu titik penting dalam strategi tersebut.

Berita Terkait

Back to top button