Serangan udara di sejumlah kota di Iran menewaskan lebih dari 25 orang dalam dua hari, dari Minggu (5/4/2026) hingga Senin (6/4/2026), di tengah eskalasi perang yang makin melebar di kawasan Timur Tengah. Situasi ini memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ultimatum agar Iran membuka kembali Selat Hormuz sebelum tenggat Selasa (7/4/2026), dengan ancaman akan menghantam infrastruktur penting Iran jika tuntutan itu tidak dipenuhi.
Trump menyampaikan ancaman itu lewat unggahan media sosial dengan nada keras. Ia menyebut Selasa sebagai “Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya terbungkus dalam satu hari, di Iran,” yang menandakan tekanan Washington terhadap Teheran belum mereda.
Serangan dan Korban Sipil
Laporan dari lapangan menunjukkan dampak serangan udara meluas ke berbagai wilayah di Iran. Selain menimbulkan korban jiwa, serangan itu juga merusak fasilitas di area permukiman dan memicu kekhawatiran baru terhadap keselamatan warga sipil.
Konflik yang dimulai dari serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026 kini telah menewaskan ribuan orang. Perang itu juga mengguncang pasar global, mengganggu jalur pelayaran utama, serta mendorong kenaikan harga bahan bakar di banyak negara.
PBB dan sejumlah pakar hukum internasional telah memperingatkan bahwa serangan yang menyasar target sipil dari kedua belah pihak dapat berujung pada dugaan kejahatan perang. Peringatan itu muncul karena pola serangan yang terus berulang dan semakin sulit dibedakan antara sasaran militer dan area hunian warga.
Dampak ke Kawasan Teluk
Ketegangan juga merembet ke kawasan Teluk. Pada Senin, sebuah serangan drone Iran dilaporkan merusak gedung telekomunikasi di Fujairah, Uni Emirat Arab, menurut kantor berita pemerintah WAM.
Pejabat setempat menyebut bangunan yang terkena serangan adalah milik perusahaan telekomunikasi yang didanai negara. Tidak ada korban luka dalam insiden itu, tetapi peristiwa tersebut menunjukkan konflik Iran-Israel-AS mulai mengganggu wilayah yang sebelumnya relatif tidak tersentuh langsung.
Perkembangan di Israel dan Haifa
Di sisi lain, serangan balasan Iran juga menimbulkan korban di Israel. Di Haifa, dua orang ditemukan tewas dan dua lainnya masih hilang di bawah reruntuhan sehari setelah serangan Iran, sementara tim penyelamat terus melakukan pencarian.
Layanan darurat Israel melaporkan beberapa kota di Israel bagian tengah terdampak rudal yang ditembakkan dari Iran. Berikut ringkasan lokasi yang disebut dalam laporan terbaru:
- Haifa: dua tewas, dua hilang di bawah reruntuhan.
- Petah Tikva: seorang perempuan luka berat di dada akibat serpihan ledakan.
- Tel Aviv: seorang pria luka ringan akibat pecahan kaca.
- Beberapa titik lain: kebakaran mobil dan kerusakan bangunan tempat tinggal.
Militer Israel pada Senin pagi juga kembali mengeluarkan peringatan serangan rudal dari Iran untuk ketiga kalinya, lalu disusul peringatan keempat dalam hari yang sama. Hingga kini belum dapat dipastikan apakah kerusakan di sejumlah lokasi terjadi karena hantaman langsung rudal atau akibat serpihan hasil pencegatan.
Respons Regional dan Tekanan Energi
Ketidakstabilan di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor paling sensitif dalam perang ini karena jalur itu penting bagi distribusi minyak dunia. Karena itu, seruan Trump agar Iran membuka kembali selat tersebut langsung memicu perhatian pasar dan pemerintah di kawasan.
Korea Selatan, yang sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah, ikut mengambil langkah antisipatif. Pemerintah di Seoul berencana mengirim sedikitnya lima kapal ke pelabuhan Yanbu di Arab Saudi dalam beberapa pekan mendatang untuk membangun jalur transportasi minyak baru di Laut Merah.
Kementerian Perdagangan, Industri, dan Sumber Daya Korea Selatan menyatakan pengiriman kapal akan dimulai bertahap dari pertengahan April. Pemerintah setempat juga menyiapkan utusan khusus ke Arab Saudi, Oman, dan Aljazair untuk memperkuat diplomasi energi serta mengamankan pasokan bahan bakar alternatif.
Posisi Korea Utara dan Sinyal dari Intelijen Korea Selatan
Di tengah perang yang terus melebar, Dinas Intelijen Nasional Korea Selatan menyatakan belum menemukan tanda-tanda Korea Utara memasok senjata atau perlengkapan militer lain ke Iran. Informasi itu disampaikan dalam pengarahan tertutup kepada parlemen dan menambah gambaran bahwa Pyongyang masih berhitung dalam merespons konflik ini.
Pejabat intelijen Korea Selatan menduga Korea Utara memilih berhati-hati agar tetap membuka peluang dialog dengan pemerintahan Trump. Meski Kementerian Luar Negeri Korea Utara telah mengecam serangan AS dan Israel ke Iran sebagai tindakan ilegal, belum ada pesan belasungkawa resmi dari Pyongyang atas meninggalnya Ayatollah Ali Khamenei.
Dalam beberapa tahun terakhir, Kim Jong Un memang memperluas kerja sama dengan negara-negara yang berseberangan dengan AS. Langkah itu termasuk pengiriman delegasi ekonomi ke Iran pada April 2024, yang menunjukkan hubungan kedua negara tetap dijaga di tengah ketegangan geopolitik.
Kondisi Dalam Negeri Iran
Di dalam negeri, Iran juga menghadapi tekanan dari sisi politik dan hak asasi manusia. Otoritas setempat kembali melaksanakan eksekusi terhadap seorang pria yang divonis terkait tuduhan dalam gelombang protes nasional pada Januari lalu.
Kantor berita Mizan milik lembaga kehakiman Iran mengidentifikasi pria itu sebagai Ali Fahim. Amnesty International mengatakan Fahim dan sejumlah terdakwa lain dalam kasus serupa mengalami penyiksaan, pemukulan, pencambukan, kurungan isolasi berkepanjangan, dan ancaman kematian sebelum dijatuhi vonis dalam persidangan yang dinilai tidak adil.
Tekanan perang yang belum mereda
Dengan serangan udara yang terus menewaskan warga di Iran, balasan rudal ke Israel, dan ancaman baru dari Washington, konflik ini tetap berada pada fase paling berbahaya sejak pecah pada akhir Februari. Kondisi itu membuat perhatian dunia kini tertuju pada tenggat Selasa yang disebut Trump, karena keputusan berikutnya berpotensi menentukan apakah eskalasi akan mereda atau justru memasuki babak yang lebih luas.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com




