Hamas menegaskan tuntutan agar kelompok itu melucuti senjata tidak dapat diterima dan menyebut tekanan tersebut sebagai upaya untuk melanjutkan genosida terhadap rakyat Palestina. Pernyataan ini muncul di tengah kebuntuan pembicaraan mengenai penerapan rencana perdamaian 20 poin yang didorong Amerika Serikat untuk Gaza.
Juru bicara sayap bersenjata Hamas, Abu Obeida, mengatakan bahwa pembahasan soal senjata sebelum Israel sepenuhnya menjalankan tahap pertama gencatan senjata tidak bisa diterima. Ia menilai pengangkatan isu persenjataan “secara kasar” hanya akan memperpanjang penderitaan warga Gaza.
Sikap Hamas terhadap tuntutan pelucutan senjata
Obeida menyebut tekanan yang disalurkan melalui mediator sebagai langkah berbahaya yang ditujukan untuk menekan perlawanan Palestina. Dalam pernyataannya di televisi pada hari Minggu, ia menegaskan bahwa tuntutan itu “tidak lain adalah upaya terbuka untuk melanjutkan genosida terhadap rakyat kami”.
Hamas juga disebut telah menyampaikan kepada mediator bahwa kelompok itu tidak akan membahas pelucutan senjata tanpa jaminan Israel menarik diri sepenuhnya dari Gaza. Tiga sumber yang dikutip Reuters mengatakan syarat itu menjadi posisi utama Hamas dalam pembicaraan yang sulit bergerak maju.
Hambatan utama dalam rencana perdamaian
Isu pelucutan senjata Hamas menjadi salah satu penghalang terbesar dalam upaya menjalankan tahap lanjutan dari rencana yang disusun untuk mengakhiri perang di Gaza. Rencana tersebut mencakup tuntutan agar Hamas menyerahkan senjatanya, namun Hamas menilai hal itu tidak dapat dipisahkan dari kewajiban Israel untuk mematuhi gencatan senjata.
Berikut poin penting yang memperlihatkan posisi masing-masing pihak:
| Pihak | Sikap utama |
|---|---|
| Hamas | Menolak membahas pelucutan senjata tanpa jaminan penarikan penuh Israel dari Gaza |
| Mediator | Mendorong implementasi tahap pertama gencatan senjata |
| Israel | Belum memberi tanggapan langsung atas pernyataan terbaru Hamas |
| Amerika Serikat | Mendorong rencana 20 poin sebagai kerangka penghentian perang |
Obeida juga mendesak para mediator memberi tekanan kepada Israel agar memenuhi komitmennya lebih dulu sebelum pembahasan tahap kedua dimulai. Ia menyatakan bahwa pihak lawanlah yang justru merusak kesepakatan.
Korban terus bertambah di Gaza
Sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat dan Qatar berlaku pada Oktober, lebih dari 705 warga Palestina dilaporkan tewas dalam serangan Israel, menurut kantor berita Palestina Wafa. Angka itu menunjukkan bahwa kekerasan masih berlangsung meski ada kesepakatan penghentian tembak-menembak.
Secara keseluruhan, perang Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina dan melukai sedikitnya 172.000 lainnya sejak serangan yang dipimpin Hamas di Israel selatan pada Oktober 2023. Data tersebut menggambarkan skala kehancuran yang membuat pembicaraan damai semakin rumit dan sarat tekanan politik.
Nada keras Hamas terhadap Israel dan sekutunya
Dalam pernyataan yang sama, Obeida juga mengecam serangan Israel terhadap Iran dan menyebutnya terjadi di tengah proses negosiasi yang menyesatkan. Ia menuduh Israel bertindak dengan “kolusi penuh” bersama Amerika Serikat.
Ia turut mengkritik serangan baru Israel ke Lebanon dan memuji Iran, Hizbullah, serta kelompok Houthi di Yaman atas serangan mereka terhadap Israel. Hamas juga mengecam parlemen Israel yang mengesahkan undang-undang hukuman mati yang hanya berlaku bagi warga Palestina.
Konteks politik yang membuat negosiasi makin sulit
Pernyataan Hamas menunjukkan bahwa isu senjata bukan hanya persoalan teknis keamanan, tetapi juga menyangkut syarat politik yang lebih luas. Bagi Hamas, pembicaraan soal pelucutan senjata tidak bisa lepas dari penghentian serangan, penarikan pasukan Israel, dan jaminan perlindungan bagi warga Gaza.
Bagi Israel dan negara-negara yang mendorong rencana perdamaian, pelucutan Hamas dianggap kunci untuk mengakhiri perang dan mencegah eskalasi baru. Namun selama kekerasan masih terjadi dan kedua pihak saling menuduh melanggar kesepakatan, jalan menuju tahap berikutnya tampak tetap sempit dan penuh kebuntuan.
