Raja Charles III Akhirnya Bicara Soal Paskah, Setelah Dituduh Lebih Memihak Islam

Raja Charles III akhirnya merilis pesan Paskah 2026 setelah menuai kritik tajam dari sebagian umat Kristen di Inggris dan luar negeri. Pesan itu muncul setelah Istana Buckingham sebelumnya dikenal aktif menyampaikan ucapan Ramadan dan Idul Fitri kepada umat Muslim, sementara untuk Paskah sempat disebut tidak akan ada pernyataan resmi.

Kritik terhadap keluarga kerajaan memanas di media sosial dan di sejumlah kalangan gereja sejak awal pekan Paskah. Sebagian pihak menilai kebijakan komunikasi Istana Buckingham memberi kesan tidak seimbang, apalagi Raja Charles III adalah Gubernur Tertinggi Gereja Inggris.

Latar kritik yang memicu sorotan publik

Kontroversi ini bermula dari penilaian bahwa Raja Charles lebih sering menunjukkan perhatian pada perayaan umat Islam. Sebelumnya, ia menyampaikan ucapan Ramadan yang berbunyi, “Semoga semua umat Muslim di Inggris, Persemakmuran, dan di seluruh dunia mendapatkan Ramadan yang diberkati dan damai.”

Pada Maret 2026, Istana Buckingham juga mengunggah ucapan Idul Fitri untuk umat Muslim di Inggris dan dunia. Pesan itu membuat sejumlah tokoh Kristen mempertanyakan mengapa ucapan serupa tidak segera muncul untuk Paskah, yang merupakan hari besar utama dalam kalender Kristen.

Isi pesan Paskah yang akhirnya dirilis

Pada Minggu Paskah, Raja Charles III akhirnya menyampaikan pesan singkat untuk umat Kristen yang merayakan di Inggris, Persemakmuran, dan di seluruh dunia. Pesan itu menegaskan ucapan “Selamat Hari Minggu Paskah yang penuh sukacita” kepada para perayanya.

Langkah ini datang setelah beredarnya kritik dari pendeta dan pengguna media sosial yang menilai kerajaan terlambat merespons. Bagi sebagian pengamat, keluarnya pesan tersebut menjadi upaya meredakan tensi yang terlanjur meningkat di ruang publik.

Reaksi dari tokoh gereja dan publik

Mantan pendeta mendiang Ratu Elizabeth II, Gavin Ashenden, termasuk yang paling vokal mengkritik sikap diam awal Raja Charles. Ia menyebut keheningan itu memberi kesan raja lebih bersimpati kepada Islam, terutama di tengah kekhawatiran tentang menurunnya pengaruh Kekristenan di Barat.

Uskup Ceirion H. Dewar juga menulis di platform X bahwa tidak adanya ucapan Paskah dari keluarga Kerajaan menimbulkan kekecewaan besar. Kritik semacam ini menunjukkan bahwa bagi sebagian kalangan, pesan simbolik dari monarki masih memiliki bobot moral dan politik yang tinggi.

Makna Paskah bagi umat Kristen

Paskah atau Minggu Paskah adalah perayaan inti dalam tradisi Kristen yang memperingati kebangkitan Yesus Kristus dari kematian. Dalam ajaran Perjanjian Baru, peristiwa itu terjadi tiga hari setelah penyaliban.

Di beberapa gereja Ortodoks Timur, tanggal Paskah bisa berbeda karena penggunaan kalender Julian. Dalam konteks yang lebih luas, perayaan ini tetap menjadi salah satu momen paling penting bagi umat Kristen di berbagai belahan dunia.

Fakta ringkas yang perlu diketahui

  1. Raja Charles III sempat tidak mengeluarkan pesan Paskah lebih dulu.
  2. Istana Buckingham sebelumnya aktif menyampaikan ucapan Ramadan dan Idul Fitri.
  3. Kritik datang dari sebagian umat Kristen, pendeta, dan pengguna media sosial.
  4. Gavin Ashenden menilai diamnya Raja memberi kesan keberpihakan pada Islam.
  5. Raja Charles akhirnya merilis pesan singkat pada Minggu Paskah 2026.

Perdebatan ini kembali menyorot tantangan yang dihadapi keluarga kerajaan dalam menjaga keseimbangan komunikasi antaragama di Inggris. Dalam situasi seperti ini, setiap pesan resmi dari Raja Charles III tidak hanya dibaca sebagai ucapan seremonial, tetapi juga sebagai sinyal sikap negara terhadap keragaman keyakinan di dalam masyarakatnya.

Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button