Krisis Selat Hormuz Mengguncang Dunia, Negara-Negara Mulai Ransum Energi

Krisis di Selat Hormuz memicu gelombang pembatasan energi di banyak negara karena jalur ini menjadi salah satu urat nadi pasokan minyak dunia. Sekitar seperlima minyak global melintasi selat tersebut, sehingga gangguan apa pun langsung terasa pada harga bahan bakar, jadwal penerbangan, dan pasokan listrik.

Dampaknya kini terlihat dari Eropa hingga Asia, dengan sejumlah pemerintah dan perusahaan mengambil langkah darurat untuk menjaga stok energi tetap aman. Kondisi ini juga mendorong kebijakan penghematan yang lebih ketat, mulai dari pembatasan pengisian bahan bakar hingga pengurangan jadwal kerja dan penerbangan.

Selat Hormuz dan efek domino pasokan energi

Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran terhadap sebagian besar lalu lintas kapal membuat rantai distribusi minyak dan bahan bakar terganggu. Jalur ini sangat penting karena menjadi penghubung utama ekspor energi dari kawasan Teluk ke pasar global.

Iran juga menyerang negara-negara penghasil minyak di Teluk yang menampung pangkalan militer Amerika Serikat, sehingga tekanan terhadap produksi energi semakin besar. Di tengah situasi itu, Presiden Donald Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik Iran jika selat tersebut tidak dibuka kembali.

Krisis bahan bakar penerbangan mulai terasa di Eropa

Bandara-bandara di Eropa mulai memberlakukan pembatasan pengisian bahan bakar jet karena pasokan menyusut. Sejumlah maskapai juga memilih membatalkan penerbangan lebih awal untuk menghindari kerugian saat biaya operasional naik tajam.

Di Italia, empat bandara di Bologna, Milan, Treviso, dan Venice memberlakukan pembatasan sementara pada bahan bakar jet. Pemberitahuan resmi menyebut layanan pengisian untuk operator yang terikat kontrak dengan Air BP Italia dapat terkena pembatasan karena keterbatasan pasokan.

Situasi serupa muncul di Inggris, saat Aurigny membatalkan sebagian penerbangan dari pertengahan April hingga awal Juni. CEO Ryanair Michael O’Leary bahkan memprediksi pembatalan musim panas mencapai 5 persen hingga 10 persen jika Selat Hormuz tetap tertutup.

1. Dampak paling cepat yang sudah terlihat

  1. Harga bahan bakar jet melonjak tajam di berbagai pasar.
  2. Maskapai menekan jadwal penerbangan yang tidak lagi menguntungkan.
  3. Penumpang kemungkinan menghadapi tarif tiket dan bagasi yang lebih mahal.
  4. Bandara mulai membatasi pengisian bahan bakar untuk menjaga ketersediaan.

Data International Air Transport Association menunjukkan harga jet fuel rata-rata mencapai $195 per barel pada pekan lalu, lebih dari dua kali rata-rata tahun lalu. Sementara itu, indeks Argus U.S. Jet Fuel mencatat biaya jet fuel di Amerika Serikat naik 95 persen sejak perang dimulai.

Scott Kirby, CEO United Airlines, mengatakan kenaikan harga energi sulit terus dibebankan ke pelanggan jika harga minyak bertahan tinggi lebih lama. Ia menambahkan bahwa dalam jangka pendek perusahaan harus memangkas jadwal penerbangan yang sementara tidak menguntungkan.

Bangladesh menghadapi penimbunan dan kerusuhan di SPBU

Di Bangladesh, kelangkaan bahan bakar memicu kepanikan yang berujung pada lonjakan pencurian di stasiun pengisian dan truk tangki. Mohammad Najmul Haque, kepala Bangladesh Petrol Pump Owners Association, mengatakan kepada Washington Post bahwa serangan dilaporkan terjadi setiap hari di sekitar 3.000 SPBU di negara itu.

Bangladesh sangat rentan karena sekitar 95 persen kebutuhan energinya bergantung pada impor. Dengan populasi sekitar 175 juta orang, tekanan pada distribusi energi membuat pemerintah mengambil langkah penghematan yang lebih luas.

Pemerintah memangkas jam kerja kantor dan belanja publik, lalu memerintahkan pasar serta pusat perbelanjaan tutup pukul 18.00 untuk mengurangi konsumsi listrik. Kondisi panik juga memicu efek berantai, karena antrean panjang di SPBU mendorong warga lain ikut menimbun bahan bakar.

Australia dan Selandia Baru ikut menata ulang konsumsi

Australia dan Selandia Baru memang mendapat banyak bahan bakar dari Asia, terutama China, Singapura, dan Korea Selatan. Namun keduanya tetap bergantung pada minyak mentah yang melintasi Timur Tengah, sehingga gangguan di Selat Hormuz tetap berdampak pada cadangan domestik mereka.

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese meminta warga tidak membeli bahan bakar berlebihan dan beralih ke transportasi publik bila memungkinkan. Menteri Energi Chris Bowen mengatakan lebih dari 50 kapal pengangkut bahan bakar sedang menuju Australia dan diperkirakan tiba dalam bulan ini.

Berikut langkah yang dilakukan kawasan tersebut untuk menahan tekanan pasokan:

Negara Langkah darurat Dampak langsung
Australia Imbauan memakai bus, kereta, atau trem Cadangan bahan bakar lebih terjaga
Selandia Baru Pemangkasan penerbangan dan bantuan tunai Warga dibantu menghadapi biaya fuel
Australia Aliran bahan bakar ke SPBU dan petani diprioritaskan Industri penting tetap bergerak

Meski pasokan masih masuk ke terminal impor dan kilang bekerja penuh, sektor pertanian serta ritel menanggung beban terbesar. Harga kebutuhan pokok juga diperkirakan naik dalam beberapa pekan karena biaya logistik dan pupuk ikut terdorong naik.

Korea Selatan menekan konsumsi energi secara nasional

Korea Selatan menaikkan seruan penghematan dengan meminta warga “menghemat setiap tetes bahan bakar”. Presiden Lee Jae Myung menyebut krisis ini bukan gangguan singkat, melainkan badai besar dengan durasi yang belum jelas.

Pemerintah sudah menetapkan batas harga bahan bakar dan pemotongan pajak bahan bakar. Opsi lain juga dikaji, termasuk menunda penutupan pembangkit listrik berbahan batu bara serta melonggarkan batas pemakaian listrik dari batu bara.

Korean Air turut menjalankan langkah penghematan biaya internal dan membuka kemungkinan pembatalan penerbangan. Kebijakan seperti ini menunjukkan bahwa sektor swasta kini ikut menanggung risiko dari terganggunya rantai pasok energi global.

Asia Tenggara menahan permintaan dengan kerja jarak jauh

Filipina sempat menetapkan keadaan darurat nasional karena harga minyak yang tinggi memberi tekanan berat pada ekonomi. Negara itu mengimpor 98 persen minyaknya dari kawasan Teluk, sehingga gangguan di Selat Hormuz langsung memukul biaya energi domestik.

Pemerintah Filipina meminta pekerja berbagi kendaraan, sementara sebagian kantor pemerintah beralih ke empat hari kerja dalam sepekan. Thailand, Vietnam, dan Indonesia juga mendorong kerja dari rumah untuk pegawai sipil agar konsumsi bahan bakar transportasi bisa ditekan.

Vietnam bahkan meminta dunia usaha mendorong work from home bila memungkinkan. Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa penghematan energi tidak lagi hanya menjadi isu industri, tetapi sudah masuk ke kebijakan kerja harian masyarakat.

Mengapa krisis ini bersifat global

Selat Hormuz menghubungkan produksi minyak Teluk dengan pasar di Eropa, Asia, dan kawasan lain yang bergantung pada impor. Begitu jalur itu terganggu, harga tidak hanya naik di negara produsen, tetapi juga di negara konsumen yang jauh dari lokasi konflik.

Kenaikan biaya bahan bakar kemudian merembet ke tiket pesawat, ongkos distribusi barang, harga pangan, dan biaya listrik. Karena itulah banyak pemerintah memilih menyiapkan pembatasan pemakaian energi lebih awal sebelum stok benar-benar menipis di tingkat konsumen.

Tekanan paling berat kini dirasakan oleh negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi, sektor penerbangan, serta rumah tangga berpenghasilan rendah yang paling rentan terhadap kenaikan harga. Dalam situasi seperti ini, keputusan politik di sekitar Selat Hormuz terus menentukan seberapa jauh dunia harus menahan laju konsumsi energinya.

Berita Terkait

Back to top button