Frustrasi publik di Iran terus meningkat ketika pemadaman internet nasional yang diberlakukan negara memecahkan rekor terburuk dalam sejarah pemutusan konektivitas satu negara. Menurut pemantau internet global NetBlocks, akses Iran ke internet global telah berada di sekitar 1 persen dari level sebelum perang sejak perang AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari.
Pemadaman ini bukan sekadar gangguan teknis, melainkan pembatasan terpusat yang membuat jutaan warga hanya mengandalkan intranet nasional yang terbatas. Dalam praktiknya, jaringan itu hanya menyediakan sebagian layanan dasar dan akses ke media serta pesan yang dikendalikan negara.
Pemadaman terlama yang pernah tercatat
NetBlocks menyebut Iran sebagai negara pertama yang sempat memiliki konektivitas internet lalu kehilangan akses itu dengan kembali ke jaringan nasional. Lembaga itu juga menegaskan bahwa meski Myanmar, Sudan, Kashmir yang dikelola India, dan Tigray di Ethiopia pernah mengalami pemadaman lebih lama, tidak ada yang menyamai skala pemutusan yang diberlakukan oleh negara seperti di Iran.
Pemadaman saat ini terjadi setelah pembatasan internet selama 20 hari pada Januari. Saat itu, pembatasan diberlakukan di tengah gelombang protes nasional yang menewaskan ribuan orang.
Dampak langsung ke warga dan dunia usaha
Banyak warga Iran kini menjalani hampir dua pertiga dari sepanjang tahun ini dalam kondisi digital yang nyaris gelap total. Akses internet bagi mereka yang masih tersambung pun sering kali bergantung pada daftar putih pemerintah atau koneksi proxy yang mahal dan tidak stabil, dan bisa diputus sewaktu-waktu.
Seorang perancang produk bernama Kamran di Karaj, dekat Teheran, mengatakan ia termasuk yang lolos dari gelombang PHK pada Januari, tetapi tidak bertahan dalam gelombang terbaru. Ia menjelaskan bahwa banyak pencari kerja kini saling mencocokkan keterampilan lewat kelompok lokal, namun peluang mendapatkan pekerjaan tetap sangat terbatas.
Seorang analis data senior di sebuah perusahaan Teheran yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan perusahaan memilih memberi kenaikan gaji lebih kecil agar tidak perlu memangkas pegawai untuk sementara. Ia menambahkan bahwa kontrak kerja kini banyak dibuat hanya untuk tiga bulan, sehingga ketidakpastian terus membayangi karyawan.
Biaya ekonomi yang makin berat
Kerusakan pada pabrik baja utama, perusahaan petrokimia, dan berbagai infrastruktur sipil diperkirakan memperburuk ekonomi yang sejak lama sudah dibebani inflasi tinggi dan pengangguran. Pada pembatasan Januari, pemerintah sendiri mengakui banyak bisnis online tidak mampu bertahan lebih dari tiga minggu tanpa koneksi, sementara ekonomi yang sudah tertekan disebut kehilangan puluhan juta dolar per hari secara langsung.
Berikut sejumlah tekanan yang kini dirasakan warga dan pelaku usaha di Iran:
- Akses internet global hanya tersisa sekitar 1 persen dari level normal sebelum perang.
- Banyak layanan digital beralih ke intranet nasional yang terbatas dan lambat.
- Pekerja teknologi dan industri digital menghadapi PHK dan kontrak jangka pendek.
- Bisnis online kesulitan beroperasi, mengirim data, dan menjangkau pelanggan.
- Masyarakat bergantung pada TV satelit, panggilan telepon, dan pesan singkat untuk mencari kabar.
Internet bertingkat dan akses selektif
Pemerintah Iran juga bergerak ke arah sistem internet bertingkat, tanda bahwa pembatasan berat kemungkinan tetap dipertahankan bahkan setelah perang berakhir. Sejumlah komunitas bisnis menerima panduan untuk mendaftar koneksi internasional melalui akun resmi di aplikasi pesan Bale, sementara jurnalis melaporkan menerima pesan bertajuk “Internet Pro” yang berisi tautan registrasi dari penyedia telekomunikasi besar.
Selain itu, sebuah operator yang terkait dengan negara disebut telah menyiapkan versi lain dari “Internet Pro” dalam bentuk paket data satu tahun dengan harga lebih mahal dari paket biasa. Di saat yang sama, penyedia layanan internet dilaporkan tidak mengembalikan dana pelanggan atau menurunkan tarif, meski akses internet global tidak tersedia.
Keresahan warga di tengah perang dan listrik yang tak pasti
Bagi warga yang masih tinggal di Iran, masalahnya bukan hanya internet. Banyak orang juga khawatir listrik akan padam, sementara akses ke layanan penting seperti pencarian Google dan alat berbasis kecerdasan buatan tetap dibatasi.
Seorang warga Teheran mengatakan ia dan teman-temannya berkumpul di rumah untuk saling bertukar kabar dari periode singkat ketika koneksi kembali muncul, ditambah informasi dari televisi nasional, saluran satelit luar negeri, serta panggilan dan pesan yang tak putus-putus. Ia menyebut sebagian pendukung pemerintah berkumpul di masjid dan alun-alun kota, tetapi banyak warga lain justru waswas terhadap pekerjaan, listrik, dan layanan air.
Pemerintahan Presiden Masoud Pezeshkian, yang sebelumnya menjanjikan pelonggaran pembatasan internet, hingga kini belum memberi penjelasan resmi atas pembatasan berat tersebut. Di tengah perang, pemutusan internet nasional ini telah menjadi simbol dari krisis yang meluas, dari kendali informasi hingga tekanan ekonomi yang makin menekan masyarakat sipil.









