Rusia Kembali Klaim Luhansk Direbut Penuh, Garis Depan Justru Hampir Tak Bergerak

Rusia kembali mengklaim telah sepenuhnya menguasai wilayah Luhansk di Ukraina timur. Namun, gambaran di lapangan jauh lebih rumit karena garis depan nyaris tidak bergerak, sementara Ukraina masih mempertahankan serangan balasan di sejumlah titik penting.

Klaim terbaru Moskow memunculkan pertanyaan serupa seperti sebelumnya, sebab Rusia sudah beberapa kali menyatakan wilayah itu telah “dibebaskan” meski pertempuran terus berlangsung. Bagi para pengamat perang, pernyataan semacam ini lebih mirip upaya membentuk persepsi bahwa Rusia tengah menang besar, bukan cerminan perubahan besar di medan tempur.

Klaim Moskow dan fakta di lapangan

Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan pasukannya telah menyelesaikan “pembebasan seluruh wilayah Republik Rakyat Luhansk”, istilah yang dipakai Kremlin untuk menyebut wilayah itu. Pernyataan tersebut muncul pada saat banyak penilaian independen justru menunjukkan bahwa perubahan posisi pasukan di Luhansk sangat terbatas.

Rusia memang telah menguasai hampir seluruh Luhansk sejak tahun pertama invasi besar-besaran ke Ukraina. Artinya, pengumuman terbaru ini tidak menunjukkan kemajuan strategis baru yang besar, melainkan lebih banyak menguatkan narasi yang sudah pernah disuarakan sebelumnya.

Respons Ukraina: garis depan belum banyak berubah

Juru bicara militer Ukraina, Victor Tregubov, menolak klaim tersebut dengan nada sinis. Ia mengatakan garis depan “hampir tidak bergerak sama sekali” dalam enam bulan terakhir dan menyebut pengumuman Rusia seperti “lelucon April Mop”.

Sikap Ukraina itu sejalan dengan gambaran yang disampaikan pengamat perang. Institut for the Study of War atau ISW menyebut Kremlin kerap membesar-besarkan perubahan kecil di medan perang untuk menciptakan kesan seolah pasukan Rusia bergerak cepat di banyak sektor.

Apa yang sebenarnya terjadi di Luhansk

Di wilayah yang menjadi target utama Rusia itu, pasukan Ukraina dari Korps Angkatan Darat Ketiga mengatakan Rusia melancarkan 144 upaya penyerangan ke dua desa saat berusaha menuntaskan kontrol penuh atas Luhansk. Angka tersebut menunjukkan bahwa pertempuran tetap intens, tetapi belum menghasilkan terobosan besar bagi Moskow.

Data pemantau perang juga memperlihatkan laju maju Rusia melambat. Dalam tiga bulan pertama tahun ini, kemajuan pasukan Rusia turun menjadi sekitar lima kilometer per hari, dibandingkan 11 kilometer pada kuartal pertama tahun lalu.

  1. Rusia sudah menguasai sebagian besar Luhansk sejak awal perang.
  2. Ukraine menyebut klaim terbaru Rusia tidak mencerminkan perubahan besar.
  3. ISW menilai Rusia membesar-besarkan kemajuan kecil untuk memengaruhi opini publik.
  4. Pasukan Ukraina masih melakukan serangan balasan di beberapa titik lain di front timur dan selatan.

Mengapa klaim ini diulang lagi

Pola pengulangan klaim semacam ini dinilai berkaitan dengan perang narasi. ISW menyebut pengumuman terbaru Rusia bertujuan menciptakan kesan bahwa pertahanan Ukraina berada di ambang runtuh dan mendorong mitra Barat menekan Kyiv agar menyerahkan wilayah yang secara militer belum tentu bisa direbut Rusia.

Pada saat yang sama, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky seharusnya sudah memerintahkan pasukannya keluar dari seluruh Donbas. Donbas mencakup Luhansk dan Donetsk, dan sekitar 20 persen wilayah itu masih berada di bawah kendali Ukraina.

Posisi Donbas dan tekanan diplomatik

Pernyataan Kremlin tidak hanya menyasar medan perang, tetapi juga ruang diplomasi. Dengan menekan isu Donbas, Moskow tampak berusaha memperkuat posisi tawarnya di tengah perang yang terus berjalan dan belum memperlihatkan tanda-tanda penyelesaian cepat.

ISW menilai narasi seperti ini juga dimaksudkan untuk mendorong Ukraina dan para sekutunya menerima pelepasan wilayah yang sebenarnya belum dapat direbut Rusia secara militer dalam waktu dekat. Bagi Ukraina, klaim semacam itu justru menjadi sinyal bahwa Rusia masih membutuhkan perang informasi untuk menutupi keterbatasan di lapangan.

Serangan balasan Ukraina masih berjalan

Sementara Rusia mengumumkan capaian di Luhansk, Ukraina terus menyerang target logistik Rusia jauh di belakang garis depan. Dalam sepekan terakhir, drone Ukraina menghantam tangki bahan bakar dan depot amunisi Rusia yang berjarak sekitar 100 kilometer dari garis depan di Luhansk.

Serangan lain juga menyasar sistem pertahanan udara Rusia yang berada lebih dari 130 kilometer dari perbatasan wilayah tersebut, berdasarkan video terverifikasi lokasi. Serangan-serangan ini menunjukkan bahwa medan perang tidak hanya ditentukan oleh perebutan desa atau kota di garis depan, tetapi juga oleh kemampuan mengganggu suplai dan pertahanan lawan.

Gambaran besar perang di front timur

Di luar Luhansk, Ukraina disebut mencatat sejumlah kemajuan penting selama musim dingin, terutama sejak serangan ke wilayah Kursk di Rusia pada tahun lalu. Panglima militer Ukraina, Jenderal Oleksandr Syrskyi, menyebut pasukannya merebut kembali 480 kilometer persegi di wilayah selatan Zaporizhzhia dan Dnipropetrovsk sejak Januari.

Selain itu, pasukan Ukraina juga mengambil kembali sedikitnya 180 kilometer persegi di dan sekitar Kupyansk di utara pada Desember, lalu sebagian besar mempertahankan capaian itu. ISW menilai wilayah-wilayah tersebut menunjukkan bahwa Ukraina masih mampu melakukan manuver ofensif di titik yang dianggap lemah oleh Rusia.

Tanda-tanda tekanan juga muncul dari pihak pro-Kremlin

Salah satu blogger militer pro-Kremlin yang populer, Yuri Podolyaka, bahkan meragukan kemampuan Rusia membalik keadaan dalam beberapa bulan ke depan. Dengan hampir tiga juta pelanggan di Telegram, komentarnya memiliki pengaruh besar di ruang opini pro-perang Rusia.

Podolyaka menyebut serangan balasan Ukraina “cukup berhasil” dan menilai pasukan Ukraina lebih cepat beradaptasi dibanding Rusia. Ia juga mengatakan pimpinan militer Moskow belum mampu menyesuaikan diri dengan drone pencegat Ukraina yang makin efektif.

Kerugian personel dan keterbatasan pasokan

Presiden Zelensky mengatakan kerugian Rusia pada Maret mencapai tingkat tertinggi sejak perang dimulai. Ia mengklaim serangan drone Ukraina saja menyebabkan 33.988 tentara Rusia tewas atau luka berat, sementara serangan artileri dan operasi lain menambah 1.363 korban.

ISW juga mencatat bahwa kemajuan Rusia melambat karena kerugian personel terus meningkat dan pasukan darat makin sering bergantung pada infanteri yang kurang terlatih serta minim peralatan. Di sisi lain, Ukraina juga menghadapi kekurangan personel di banyak bagian garis depan dan khawatir pasokan senjata dari Amerika Serikat bisa terdampak kebutuhan di kawasan lain.

Hal penting yang perlu dicermati dari klaim Rusia

Isu Fakta utama
Klaim Rusia soal Luhansk Sudah beberapa kali diumumkan, meski hampir seluruh wilayah itu telah dikuasai sejak awal perang
Situasi garis depan Menurut Ukraina dan pemantau perang, perubahan garis depan sangat terbatas
Serangan Ukraina Drone menyerang depot bahan bakar, amunisi, dan sistem pertahanan udara Rusia jauh dari garis depan
Dinamika perang Rusia masih menekan di timur, tetapi Ukraina juga mencatat sejumlah serangan balik yang berhasil
Tujuan narasi Kremlin Membentuk kesan kemenangan cepat dan menekan dukungan Barat kepada Ukraina

Di tengah perang yang terus berlanjut, klaim Rusia atas Luhansk tampak lebih sebagai upaya menegaskan kontrol politik dan psikologis daripada bukti terobosan militer baru. Sementara itu, laporan dari medan perang menunjukkan kedua pihak masih saling menekan, dengan Rusia memperlambat laju serangan dan Ukraina berusaha memanfaatkan celah di titik-titik yang paling rentan.

Berita Terkait

Back to top button