90 Menit Penentu Trump Mundur dari Serangan ke Iran, Mediasi Pakistan Ubah Arah Krisis

Donald Trump membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran hanya sekitar 90 menit sebelum tenggat yang ia tetapkan sendiri pada Rabu (8/4/2026) dini hari. Keputusan mendadak itu memicu tanda tanya besar, termasuk dugaan bahwa Trump menahan langkah ekstrem setelah mendapat tekanan diplomatik dan peringatan soal dampak global jika konflik makin membesar.

Langkah tersebut diumumkan lewat akun Truth Social setelah sebelumnya Trump melontarkan ancaman keras yang menyebut “sebuah peradaban akan mati malam ini” bila Teheran tidak tunduk pada tuntutan Washington. Namun, alih-alih melanjutkan eskalasi, Trump justru memilih menunda serangan selama dua minggu setelah ada komunikasi langsung dengan pemimpin Pakistan yang ikut mendorong penyelesaian darurat.

Keputusan dalam hitungan menit

Trump menyampaikan pembatalan serangan pada Selasa (7/4) malam waktu setempat, kurang dari satu setengah jam sebelum jadwal penyerangan yang disebut berada di pukul 20.00. Dalam unggahannya, ia menyebut telah berbicara dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir, yang memintanya menahan kekuatan militer yang akan dikirim ke Iran.

Ia juga menegaskan syarat yang harus dipenuhi Iran, yakni membuka kembali Selat Hormuz secara “lengkap, segera, dan aman.” Selat ini menjadi titik vital bagi distribusi energi dunia karena dilewati hampir 20 persen pasokan minyak dan gas alam global.

Keputusan Trump ini mengejutkan banyak pihak karena sebelumnya ia membangun narasi yang sangat agresif sepanjang hari. Dalam beberapa pernyataannya, ia bahkan mengisyaratkan bahwa opsi militer besar sedang dipertimbangkan sebelum akhirnya mundur pada menit-menit akhir.

Dugaan soal senjata nuklir dan tekanan politik

Sebelum pembatalan itu diumumkan, publik sempat dibuat khawatir soal kemungkinan penggunaan senjata nuklir. Kekhawatiran ini menguat setelah Wakil Presiden AS JD Vance menyebut pasukan AS bisa menggunakan alat-alat yang “sejauh ini belum mereka putuskan untuk digunakan”.

Sekretaris Pers Karoline Leavitt juga tidak memberi jawaban tegas saat ditanya kantor berita AFP apakah Trump siap menggunakan senjata nuklir. Ia hanya mengatakan, “Hanya Presiden yang tahu bagaimana situasinya dan apa yang akan dia lakukan.”

Pernyataan itu memunculkan dorongan dari Kongres AS agar Trump memperjelas bahwa ancamannya tidak mengarah ke senjata nuklir. Anggota Kongres dari Partai Demokrat Texas, Joaquin Castro, menegaskan bahwa Trump harus menyatakan secara terbuka bahwa ia tidak mempertimbangkan opsi tersebut.

Peran Pakistan dalam meredakan krisis

Di tengah meningkatnya ketegangan, Pakistan muncul sebagai mediator yang berperan penting. Seruan dari Islamabad disebut membantu membuka ruang dialog di saat situasi tampak nyaris tak terkendali.

Dalam unggahan Trump, ia secara khusus memberi apresiasi kepada Pakistan atas upaya mereka meredakan situasi. Pemerintah Pakistan dinilai bergerak cepat karena mengetahui bahwa konflik terbuka antara AS dan Iran berpotensi mengguncang stabilitas kawasan, terutama bila jalur energi utama terganggu.

Sumber diplomatik yang dikutip dalam pemberitaan menyebut bahwa mediasi Pakistan berfokus pada dua hal utama, yakni penghentian serangan dan jaminan lalu lintas aman di Selat Hormuz. Kesepakatan itu kemudian disusun sebagai gencatan senjata sementara selama dua pekan.

Respons Iran dan syarat balasan

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi bahwa ada kesepakatan tentatif setelah pesan Trump beredar. Ia menyatakan pasukan Iran siap menahan diri bila Amerika Serikat benar-benar menghentikan agresinya.

“Jika serangan terhadap Iran dihentikan, Angkatan Bersenjata kami yang kuat akan menghentikan operasi pertahanan mereka,” kata Araghchi, dikutip dari Al Jazeera. Ia juga menyebut lintas aman di Selat Hormuz bisa dilakukan selama dua pekan dengan koordinasi bersama militer Iran dan mempertimbangkan keterbatasan teknis.

Araghchi ikut menyampaikan terima kasih kepada Pakistan atas diplomasi menit terakhir itu. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran bahkan memberi sinyal bahwa gencatan senjata bisa diperpanjang jika perundingan lanjutan di Islamabad berjalan positif.

Ancaman yang sempat mengguncang kawasan

Sebelum keputusan membatalkan serangan muncul, suasana di Timur Tengah berada dalam titik yang sangat menegangkan. Trump sebelumnya menulis pesan provokatif yang menggambarkan situasi seolah dunia sedang berada di ambang kehancuran.

“Saya tidak ingin hal itu terjadi, tapi kemungkinan besar itu akan terjadi,” tulisnya saat menggambarkan ancaman “kematian peradaban” pada Selasa pagi. Ia juga menyebut momen tersebut sebagai salah satu yang terpenting dalam sejarah dunia.

Trump bahkan sempat mengancam akan menghancurkan infrastruktur sipil Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan. Para ahli hukum internasional menilai ancaman terhadap fasilitas sipil seperti itu bisa masuk dalam kategori pelanggaran serius dalam hukum perang.

Meski begitu, pada malam harinya ia mengklaim telah meraih kemenangan diplomatik. Trump menyebut Teheran mengajukan proposal gencatan senjata yang masuk akal dan menegaskan bahwa AS telah mencapai banyak tujuan militernya.

Dampak pada pasar energi dan keamanan kawasan

Ketegangan yang terjadi langsung berdampak pada pasar energi global. Selat Hormuz menjadi fokus utama karena jalur itu sangat menentukan arus minyak dan gas dunia, sehingga setiap ancaman penutupan bisa memicu lonjakan harga bahan bakar.

Di Amerika Serikat sendiri, tekanan inflasi energi disebut ikut memengaruhi kalkulasi politik Trump. Biaya hidup yang meningkat membuat eskalasi militer berisiko menambah beban ekonomi domestik, apalagi jika harga energi terus meroket akibat konflik.

Di kawasan Timur Tengah, napas lega sempat terasa setelah pembatalan serangan diumumkan. Namun, sejumlah pihak masih skeptis karena konflik yang sudah berlangsung lebih dari lima minggu telah menelan banyak korban dan memicu ketidakpastian baru.

Data yang disebut dalam laporan itu menunjukkan hampir 2.076 orang tewas di Iran, sementara puluhan lainnya gugur di negara-negara Teluk dan Israel. Angka tersebut menggambarkan betapa cepatnya konflik regional bisa berubah menjadi krisis kemanusiaan dan geopolitik yang lebih luas.

Situasi yang masih rapuh

Meski gencatan senjata dua pekan sudah diumumkan, pertanyaan terbesar kini tertuju pada kepatuhan semua pihak. Israel disebut masih bisa bergerak dengan agenda keamanannya sendiri, terutama terkait ancaman dari Hizbullah di Lebanon.

Berikut faktor yang dipantau dalam 14 hari ke depan:

  1. Kepatuhan Iran dalam menjaga jalur aman di Selat Hormuz.
  2. Keputusan AS apakah benar menahan diri dari serangan lanjutan.
  3. Sikap Israel terhadap kesepakatan sementara yang dimediasi Pakistan.
  4. Dampak pasar energi global jika ketegangan kembali naik.

Dengan semua faktor itu, keputusan Trump yang diambil hanya 90 menit sebelum tenggat serangan menunjukkan bahwa tekanan diplomatik dan kekhawatiran atas efek ekonomi global bisa menjadi pertimbangan besar dalam konflik yang nyaris berubah menjadi perang terbuka. Hingga kini, nasib gencatan senjata masih bergantung pada perundingan lanjutan dan apakah Selat Hormuz benar-benar bisa tetap terbuka aman selama dua pekan ke depan.

Baca selengkapnya di: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button