Amerika Serikat dan Iran sama-sama mengklaim keluar sebagai pemenang setelah menyepakati gencatan senjata selama dua minggu, yang diumumkan hanya sekitar satu jam sebelum tenggat ultimatum Presiden Donald Trump berakhir. Kesepakatan ini juga dikaitkan dengan syarat utama dari Washington, yakni Iran membuka kembali Selat Hormuz secara sementara agar jalur pelayaran energi global tetap berjalan.
Gencatan senjata itu menghentikan eskalasi yang sudah berlangsung lebih dari sebulan dan sempat mengguncang pasar keuangan dunia. Harga minyak sempat meroket karena pelaku pasar khawatir konflik akan meluas dan mengganggu suplai energi dari kawasan Teluk.
Klaim kemenangan dari Washington
Trump menyebut kesepakatan itu sebagai “kemenangan total dan lengkap” bagi Amerika Serikat dalam pernyataannya kepada AFP. Di Gedung Putih, Sekretaris Pers Karoline Leavitt juga menegaskan bahwa Presiden Trump dan militer AS telah “mencapai dan melampaui tujuan inti” dalam 38 hari operasi.
Leavitt mengatakan kampanye militer AS berhasil menciptakan pengaruh maksimal untuk mendorong negosiasi. Ia juga mengeklaim langkah itu membantu membuka kembali Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak paling penting di dunia.
Dalam unggahan di X, Leavitt menulis bahwa keberhasilan militer AS memberi ruang bagi diplomasi dan membuka peluang untuk “solusi diplomatik dan perdamaian jangka panjang”. Ia menambahkan bahwa pencapaian itu merupakan kemenangan bagi Amerika Serikat yang diwujudkan oleh Trump dan militer AS.
Iran menyatakan tidak kalah
Dari Teheran, narasi yang muncul justru sebaliknya. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyebut lawannya telah mengalami “kekalahan yang tak terbantahkan, bersejarah, dan telak” dalam perang yang mereka sebut sebagai agresi ilegal terhadap Iran.
Pernyataan itu juga menegaskan bahwa Iran meraih kemenangan besar. Di saat yang sama, Iran menyatakan setuju untuk memulai pembicaraan dengan Washington pada Jumat di Pakistan guna mencari jalan keluar dari konflik yang sempat membawa kawasan ke titik paling rawan dalam beberapa pekan terakhir.
Klaim dua pihak ini menunjukkan bahwa gencatan senjata tidak otomatis mengakhiri pertarungan narasi. Dalam konflik seperti ini, kemenangan sering diukur bukan hanya dari hasil militer, tetapi juga dari posisi politik yang berhasil dipertahankan di meja perundingan.
Peran Selat Hormuz dalam kesepakatan
Selat Hormuz menjadi syarat utama dalam pengumuman Trump. Ia menulis di platform Truth Social bahwa penangguhan serangan selama dua minggu hanya akan berlaku jika Iran menyetujui pembukaan “lengkap, segera, dan aman” atas selat tersebut.
Trump juga mengatakan kesepakatan itu memberi waktu untuk menyelesaikan poin-poin yang masih diperdebatkan. Menurut dia, hampir semua unsur perselisihan sebelumnya sudah mengarah pada kesepakatan, meski masih dibutuhkan masa dua minggu untuk memfinalkannya.
- Selat Hormuz adalah jalur vital ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk.
- Gangguan di selat ini biasanya langsung memicu reaksi pasar energi global.
- Pembukaannya kembali menjadi simbol penting bahwa konflik belum mengunci perdagangan internasional.
Kepentingan ekonomi di jalur ini membuat setiap kabar soal gencatan senjata segera berdampak pada pasar. Investor biasanya membaca Selat Hormuz sebagai indikator apakah risiko eskalasi masih tinggi atau mulai mereda.
Israel, Lebanon, dan dinamika perang yang lebih luas
Gedung Putih menyebut Israel juga sudah menyetujui gencatan senjata, tetapi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan kesepakatan itu tidak mencakup Lebanon. Pernyataan ini penting karena perang di kawasan tidak hanya melibatkan Iran dan AS, tetapi juga konflik yang melebar melalui serangan Israel di wilayah lain.
Israel sebelumnya mendorong Trump untuk bergabung dalam perang melawan Iran, musuh bebuyutannya. Dalam eskalasi awal, serangan Israel bahkan menewaskan salah satu pemimpin tertinggi Iran yang telah lama menjabat, Ayatollah Ali Khamenei, menurut laporan yang dikutip media.
Di Lebanon, serangan balasan Israel terhadap Hizbullah yang didukung Iran telah menimbulkan lebih dari 1.500 korban jiwa menurut otoritas setempat. Fakta ini membuat gencatan senjata AS-Iran belum otomatis menenangkan seluruh front konflik di Timur Tengah.
Dari ultimatum ke meja perundingan
Trump sebelumnya memberi tenggat yang tegas dan mengancam akan melancarkan serangan besar jika Iran tidak memenuhi tuntutannya. Namun pada menit-menit akhir, ia justru mengumumkan penangguhan pemboman selama dua minggu agar ruang negosiasi tetap terbuka.
Trump mengatakan kepada publik bahwa ia telah berbicara dengan para pemimpin Pakistan yang meminta agar kekuatan penghancur itu ditahan. Langkah itu kemudian disambut perdana menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang juga mendorong perpanjangan tenggat melalui unggahan di X.
Sharif menyebut upaya diplomatik untuk penyelesaian damai perang di Timur Tengah masih berjalan kuat dan berpotensi menghasilkan hasil konkret. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa Pakistan ikut memainkan peran penting dalam mendorong jeda konflik di tengah tekanan internasional yang meningkat.
Apa arti gencatan senjata dua minggu ini
Masa gencatan senjata dua minggu memberi ruang bagi kedua pihak untuk mengukur posisi masing-masing tanpa harus terus menaikkan eskalasi. Namun, periode ini juga menjaga ketegangan tetap tinggi karena semua pihak tahu bahwa kegagalan negosiasi bisa memicu serangan baru.
Bagi AS, kesepakatan ini dipresentasikan sebagai keberhasilan strategi tekanan militer yang berujung pada diplomasi. Bagi Iran, jeda ini digunakan untuk menegaskan bahwa mereka tidak menyerah dan tetap punya posisi tawar dalam perundingan yang akan datang.
Perkembangan berikutnya akan sangat bergantung pada apakah pembicaraan di Pakistan menghasilkan kerangka kesepakatan yang lebih permanen. Selama itu belum terjadi, gencatan senjata dua minggu ini tetap dipandang sebagai jeda rapuh di tengah persaingan klaim kemenangan antara Washington dan Teheran.





