Easter di Yerusalem Terhenti, Holy Sepulchre Sepi Di Bawah Bayang Perang dan Pembatasan

Easter di Yerusalem tahun ini berlangsung dalam suasana sunyi setelah perang dan pembatasan akses mengubah kawasan Kota Tua menjadi lebih tegang dari biasanya. Gereja Makam Kudus, yang diyakini umat Kristen sebagai tempat penyaliban, penguburan, dan kebangkitan Yesus Kristus, hanya dipenuhi sedikit jemaat karena penjagaan keamanan diperketat di sejumlah titik masuk.

Di lorong-lorong yang biasanya ramai oleh peziarah dan pedagang, banyak toko tutup dan aparat memeriksa orang-orang yang hendak mendekati lokasi suci itu. Situasi ini membuat perayaan Paskah di salah satu pusat ibadah terpenting dunia Kristen terasa jauh dari tradisi keramaian yang selama ini melekat pada Yerusalem.

Akses ke Gereja Makam Kudus dibatasi ketat

Polisi Israel menempatkan pos pemeriksaan di jalur menuju Gereja Makam Kudus dan hanya mengizinkan sejumlah kecil umat untuk masuk. Langkah ini diambil sebagai bagian dari pengamanan di Yerusalem timur yang dianeksasi, wilayah yang juga menjadi lokasi situs suci bagi Yahudi, Kristen, dan Muslim.

Pembatasan itu berdampak langsung pada umat yang datang dari berbagai tempat untuk mengikuti misa Paskah. Beberapa peziarah yang mencoba mendekat ke gereja terpaksa dihentikan oleh petugas keamanan, sementara sebagian lain memilih pulang setelah gagal masuk.

Cardinal Pierbattista Pizzaballa, Patriark Latin Yerusalem, memimpin misa Paskah dengan rombongan klerus yang kecil. Saat memasuki gereja selepas fajar, ia menyapa dengan ucapan, “Happy Easter,” di tengah suasana yang jauh lebih hening dari tahun-tahun sebelumnya.

Keluhan peziarah dan warga Kristen setempat

Bagi banyak umat, pembatasan itu terasa sangat berat karena Paskah dipandang sebagai momen paling penting dalam kalender liturgi Kristen. Christina Toderas, seorang perempuan Katolik asal Rumania berusia 44 tahun, mengatakan sangat sulit datang untuk berdoa lalu mendapati semuanya tertutup.

Ia menyebut perayaan kali ini kehilangan makna karena akses ke tempat ibadah utama itu terhalang. Seorang perempuan Kristen Palestina dari Yerusalem, Huda al-Imam, juga mengungkapkan kekecewaannya karena tidak bisa melangkah ke gereja seperti pada tahun-tahun sebelumnya.

“Menutup Gereja Makam Kudus sama artinya menghentikan jantung kehidupan budaya dan spiritual kami,” kata Huda al-Imam. Ia menegaskan bahwa Paskah bukan sekadar acara yang dihadiri, melainkan bagian dari identitas umat.

Suasana di dalam dan luar gereja sama-sama membatasi ekspresi ibadah

Di dalam Gereja Makam Kudus, misa berlangsung tertutup dengan jemaat yang sangat sedikit. Kondisi itu sangat berbeda dari biasanya, ketika ribuan orang memadati area gereja untuk mengikuti rangkaian doa, nyanyian, dan prosesi Paskah.

Di luar gereja, suasana Kota Tua juga tidak menunjukkan hiruk-pikuk khas perayaan. Suara yang terdengar hanya bisikan-bisikan dari umat yang bergerak hati-hati di lorong sempit, sementara toko-toko di sekitar kawasan tetap tertutup.

Otmar Wassermann, 65 tahun, mengatakan ia merasa kecewa karena gagal masuk ke gereja. Meski begitu, ia memahami alasan keamanan karena ancaman masih ada di tengah perang yang berlangsung.

Titik-titik utama pembatasan dan dampaknya

  1. Pos pemeriksaan diperketat di jalur menuju Gereja Makam Kudus.
  2. Jumlah jemaat yang diizinkan masuk sangat terbatas.
  3. Banyak toko di Kota Tua tutup selama perayaan berlangsung.
  4. Prosesi dan nyanyian yang biasanya meramaikan Paskah nyaris tidak terdengar.
  5. Sejumlah umat memilih menonton misa melalui televisi.

Father Bernard Poggi, yang bersiap menghadiri misa di gereja lain dekat lokasi suci, mengatakan ia memahami kebutuhan keamanan. Namun ia menilai penerapan aturan tampak semakin tidak merata, yang menunjukkan ketegangan sosial masih terasa di lapangan.

Latar keamanan yang memperberat situasi

Pemerintah Israel menaikkan pengamanan di Kota Tua karena ancaman serangan selama perang di Timur Tengah yang masih berlangsung. Sejak perang dimulai, puing-puing dari rudal Iran atau sistem pencegat dilaporkan sempat jatuh di sekitar Kota Tua, termasuk dekat Gereja Makam Kudus, Masjid Al-Aqsa, dan kawasan Yahudi.

Peristiwa itu memperkuat alasan otoritas untuk memperketat pembatasan terhadap kerumunan besar. Namun bagi umat Kristen, langkah tersebut juga menambah beban psikologis karena ruang ibadah utama mereka terasa semakin jauh dari jangkauan.

Pizzaballa menyinggung kondisi ini dalam homilinya dengan menyebut bahwa umat sedang berhadapan dengan “kekosongan yang nyata” di tempat suci tersebut. Ia juga mengatakan masih banyak “batu yang tersegel” oleh kebencian, kekerasan, dan balas dendam, sebuah pernyataan yang menggambarkan beratnya situasi sosial dan politik di wilayah itu.

Ketegangan sebelumnya ikut membentuk suasana Paskah

Pembatasan tahun ini juga tidak lepas dari ketegangan yang terjadi pada Minggu Palma, ketika Pizzaballa sempat dicegah polisi Israel masuk ke Gereja Makam Kudus untuk misa. Insiden itu memicu kemarahan, sebelum Perdana Menteri Benjamin Netanyahu meminta agar ia diizinkan masuk.

Netanyahu kemudian menyampaikan pesan Paskah yang menekankan perlindungan kebebasan beribadah bagi semua agama. Ia mengatakan, “Di tanah tempat kisah itu bermula, kami terus melindungi kebebasan beribadah bagi semua keyakinan, terutama pada waktu suci ini.”

Bagi banyak umat, meski pesan tersebut penting, pengalaman di lapangan tetap memperlihatkan realitas yang lebih rumit. Pasko di Yerusalem kali ini tidak hanya dipengaruhi aturan keamanan, tetapi juga oleh perang yang membuat simbol-simbol iman berhadapan langsung dengan rasa takut, pembatasan, dan keterbatasan mobilitas di salah satu kota paling suci di dunia itu.

Berita Terkait

Back to top button