Dua kapal pengangkut minyak curah menjadi armada pertama yang melintasi Selat Hormuz setelah pengumuman gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, menurut laporan The New York Times yang mengutip pelacak pelayaran Kpler. Peristiwa ini langsung menarik perhatian pasar energi global karena Selat Hormuz adalah jalur sempit yang menjadi salah satu urat nadi pengiriman minyak dunia.
Kapal yang melintas pada Rabu itu terdiri dari satu kapal milik Yunani dan satu kapal berbendera Liberia. Kpler menyebut lalu lintas di kawasan itu masih sangat terbatas, sementara lebih dari 400 kapal tanker dan kapal lain disebut masih tertahan di Teluk Persia akibat ketegangan yang belum sepenuhnya hilang.
Lintasan pertama setelah jeda tempur
Kabar melintasnya dua kapal tersebut menjadi sinyal awal bahwa aktivitas pelayaran mulai bergerak lagi setelah konflik memuncak. Namun, data pelacakan menunjukkan pemulihan ini masih rapuh karena jumlah kapal yang berani masuk ke jalur itu per hari masih sedikit.
Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan sangat penting bagi pengiriman minyak mentah serta produk energi dari negara-negara produsen besar di Timur Tengah. Gangguan di jalur ini biasanya langsung berdampak pada premi risiko asuransi, biaya angkut, dan pergerakan harga minyak global.
Lalu lintas masih jauh dari normal
Kpler melaporkan hanya ada sejumlah kecil kapal yang terlihat melintas setiap hari sejak perang dimulai. Kondisi itu menunjukkan pelayaran komersial belum pulih penuh meski gencatan senjata mulai berlaku.
Berikut gambaran situasi pelayaran di Selat Hormuz berdasarkan laporan yang ada:
- Dua kapal tanker curah disebut sebagai kapal pertama yang melintas usai pengumuman gencatan senjata.
- Salah satunya berbendera Yunani, sementara satunya berbendera Liberia.
- Lebih dari 400 kapal tanker dan kapal lain masih terjebak di Teluk Persia.
- Pergerakan kapal harian tetap terbatas karena pelaku industri masih menilai risiko keamanan.
Pernyataan Trump soal pembukaan jalur
Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington akan membantu mengelola lalu lintas pengiriman di Selat Hormuz. Dalam unggahan di Truth Social, ia menyebut Amerika Serikat akan membantu “peningkatan lalu lintas” di jalur air strategis itu.
Ia juga menulis, “Hari besar untuk Perdamaian Dunia! Iran menginginkannya terjadi, mereka sudah muak!” Trump menambahkan bahwa akan ada “banyak tindakan positif” dan menyebut Iran dapat memulai rekonstruksi setelah berminggu-minggu konflik.
Trump kemudian mengatakan bahwa gencatan senjata dua minggu dengan Iran memberi ruang untuk menyelesaikan kesepakatan damai yang lebih permanen. Ia menyebut periode itu penting untuk memastikan kesepakatan jangka panjang bisa dirampungkan.
Mengapa Selat Hormuz sangat sensitif
Selat Hormuz berada di titik yang sangat strategis karena menjadi salah satu jalur utama ekspor energi dunia. Saat ketegangan meningkat, bahkan ancaman gangguan kecil saja bisa membuat operator kapal menunda perjalanan atau mengubah rute.
Kondisi itu juga memengaruhi rantai pasok global karena banyak negara bergantung pada pasokan minyak dari kawasan Teluk. Ketika lebih dari 400 kapal masih tertahan, pasar melihat bahwa risiko logistik belum sepenuhnya mereda meski ada jeda konflik.
Dampak yang kini dipantau pelaku pasar
Pelaku industri pelayaran dan energi kini memantau tiga hal utama setelah kapal pertama melintas kembali. Ketiganya adalah keamanan jalur, konsistensi gencatan senjata, dan kecepatan pemulihan arus kapal komersial.
Tiga faktor yang paling diperhatikan pasar:
- Apakah gencatan senjata bertahan tanpa pelanggaran.
- Seberapa cepat kapal tanker kembali masuk ke jalur normal.
- Bagaimana respons harga minyak dan biaya asuransi laut dalam beberapa hari ke depan.
Sorotan dari dinamika diplomasi
Trump sebelumnya mengatakan AS telah mencapai kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran menjelang tenggat ultimatum yang semakin dekat. Ia juga menyebut Washington menerima proposal 10 poin dari Iran yang dinilai bisa menjadi dasar negosiasi lebih lanjut.
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa hampir semua poin perselisihan utama antara AS dan Iran disebut telah disepakati. Ia menilai jeda dua minggu itu memberi kesempatan bagi kedua pihak untuk menyusun bentuk kesepakatan yang lebih final.
Di saat yang sama, kalangan pengamat menilai pemulihan arus pelayaran tidak hanya bergantung pada perjanjian politik. Pelaku pasar juga menunggu tanda bahwa risiko serangan, intersepsi, atau penutupan akses di sekitar selat benar-benar turun ke level yang dapat diterima armada niaga.
Sampai situasi benar-benar stabil, Selat Hormuz masih akan menjadi pusat perhatian dunia karena setiap kapal yang berani melintas membawa pesan penting tentang mulai pulihnya perdagangan di kawasan yang selama berhari-hari berada di bawah bayang-bayang perang dan ketidakpastian keamanan.





