Gencatan senjata rapuh antara Iran dan Amerika Serikat memasuki hari kedua saat ketegangan justru kembali memanas di Lebanon. Di saat Washington dan تهران sama-sama mengklaim kemenangan, Israel melancarkan bombardemen besar-besaran yang memicu korban jiwa baru dan membuat masa depan perjanjian damai itu dipertanyakan.
Situasi ini memperlihatkan bahwa jeda perang yang diumumkan bukan berarti wilayah Timur Tengah benar-benar tenang. Serangan di Lebanon, ancaman balasan dari Iran, serta pernyataan keras dari Washington dan Tel Aviv membuat peluang diplomasi masih sangat rentan.
Ledakan di Lebanon memicu keraguan atas gencatan senjata
Israel meningkatkan serangan ke Lebanon pada hari kedua gencatan senjata Iran-AS, termasuk hantaman besar di Beirut tengah yang padat penduduk. Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut sedikitnya 182 orang tewas dan hampir 900 lainnya luka-luka dalam serangan pada hari itu.
Pejabat PBB untuk hak asasi manusia, Volker Turk, menyebut skala pembunuhan itu “mengerikan”. Di lapangan, warga menggambarkan suasana panik saat ledakan terjadi tanpa peringatan dan asap memenuhi area permukiman.
Perbedaan tafsir soal isi kesepakatan
Israel menegaskan bahwa perang melawan Hezbollah tidak masuk dalam cakupan gencatan senjata US-Iran. Wakil Presiden AS JD Vance juga menyatakan serangan Israel di Lebanon bukan bagian dari kesepakatan yang dicapai dengan Tehran.
Namun, Iran merespons dengan nada keras. Ketua parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan bahwa “basis yang dapat digunakan untuk bernegosiasi” уже dilanggar dan negosiasi lanjutan menjadi “tidak masuk akal”.
Dalam unggahan di X, Ghalibaf menuding tiga pelanggaran utama, yakni serangan yang terus berlangsung di Lebanon, masuknya drone ke wilayah udara Iran, dan penolakan hak Iran untuk pengayaan uranium.
Tekanan militer belum mereda
Pemimpin Iran menyatakan pasukan Garda Revolusi siap “memenuhi tugas” jika serangan Israel tidak dihentikan. Hezbollah juga menegaskan memiliki “hak” untuk membalas, sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan negaranya tetap siap menghadapi Iran bila diperlukan.
Militer Israel menyebut operasi mereka masih berfokus pada upaya “melucuti” Hezbollah di Lebanon. Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan pasukan Amerika tetap siaga jika konflik kembali membesar.
Dampak kemanusiaan di Lebanon terus memburuk
Konflik yang melibatkan Hezbollah ini sudah berlangsung sejak awal Maret, saat kelompok yang didukung Iran itu bergabung dalam perang. Otoritas lokal Lebanon menyebut lebih dari 1.700 orang telah tewas sejak Israel memulai serangan udara dan invasi darat bulan lalu.
Di Beirut, serangan tanpa peringatan menimbulkan kepanikan di jalan-jalan. Seorang warga, Ali Younes, menggambarkan bagaimana orang-orang berlarian ke sana kemari saat asap membubung di kawasan Corniche al-Mazraa.
Titik-titik krusial yang membuat situasi makin rapuh
- Israel menganggap pertempuran di Lebanon bukan bagian dari kesepakatan gencatan senjata dengan Iran.
- Iran menilai sejumlah tindakan AS dan sekutunya sudah melanggar kesepakatan.
- Hezbollah tetap aktif dan mengklaim berhak membalas serangan.
- Jalur Laut Hurmuz kembali menjadi sumber ketegangan karena menyangkut distribusi energi global.
- Pembicaraan lanjutan di Pakistan masih dibayangi ancaman batal jika serangan terus berlanjut.
Ketidakpastian merembet ke jalur energi dan diplomasi
Sebelum gencatan senjata diumumkan, Iran sempat menyetujui pembukaan sementara Selat Hormuz di bawah tekanan ancaman dari Presiden AS Donald Trump. Namun laporan kemudian menyebut jalur itu kembali ditutup pada hari yang sama, dan Gedung Putih menyebut langkah itu “sepenuhnya tidak dapat diterima”.
Iran lalu mengumumkan jalur alternatif bagi kapal-kapal yang melintas di selat tersebut, dengan alasan risiko ranjau laut di zona navigasi utama. Langkah ini menambah kekhawatiran karena selat strategis itu dilewati sekitar seperlima minyak dunia.
Di pasar global, pengumuman gencatan senjata sempat menekan harga minyak hingga 15 persen dan gas alam Eropa turun 20 persen. Namun ketidakpastian baru membuat pelaku pasar tetap waspada terhadap potensi lonjakan harga lagi.
Pembicaraan lanjutan masih dibayangi syarat yang saling bertentangan
Pakistan, yang berperan sebagai mediator, meminta semua pihak menahan diri dan menghormati gencatan senjata selama dua pekan agar jalur diplomasi bisa bekerja. Tetapi pernyataan Iran dan AS menunjukkan isi kesepakatan masih diperdebatkan.
Tehran tetap menuntut ruang untuk pengayaan uranium, pelonggaran sanksi ekonomi, dan masa depan kontrol atas Selat Hormuz. Washington dan Israel menegaskan serangan mereka bertujuan menurunkan kemampuan militer Iran.
Di tengah situasi yang belum stabil, beberapa pemimpin Eropa, Kanada, dan Inggris menuntut “akhir perang yang cepat dan langgeng”. Paus Leo juga menyebut momen ini sebagai “harapan yang nyata”, tetapi perkembangan di Lebanon menunjukkan bahwa jeda senjata masih sangat mudah runtuh.
Di Teheran, suasana sempat lebih tenang pada hari Rabu saat banyak toko tutup setelah malam yang tegang akibat kekhawatiran serangan besar AS. Seorang warga bernama Sakineh Mohammadi mengatakan dirinya merasa lebih lega dan bangga kepada negaranya, sementara pemerintah Barat masih menunggu apakah gencatan senjata ini bisa bertahan atau justru pecah lebih cepat.









