Iran mengancam akan menggagalkan gencatan senjata yang baru berlaku jika Hezbollah tetap dikeluarkan dari kesepakatan. Sikap itu muncul setelah Washington menegaskan bahwa perjanjian tersebut tidak mencakup kelompok yang didukung Tehran, sementara ledakan konflik di Lebanon terus menambah tekanan diplomatik di kawasan.
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menulis di X bahwa syarat gencatan senjata “jelas dan tegas”, dan Amerika Serikat harus memilih antara gencatan senjata atau perang yang terus berlanjut melalui Israel. Ia juga menambahkan bahwa “dunia melihat pembantaian di Lebanon” dan menilai bola sekarang berada di tangan Washington.
Iran Jadikan Hezbollah Titik Tekan
Pernyataan Araghchi memperlihatkan bahwa Iran memosisikan pengecualian Hezbollah sebagai isu inti dalam negosiasi. Bagi Tehran, kesepakatan yang tidak melibatkan sekutunya di Lebanon dinilai tidak lengkap dan berpotensi mengubah jeda tempur menjadi pertempuran lanjutan.
Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf kemudian menyuarakan sikap serupa dengan menyinggung serangan Israel di Lebanon. Pada saat yang sama, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang disebut menjadi perantara penting dalam pembicaraan gencatan senjata mengatakan jeda dua pekan itu juga akan mencakup Lebanon.
Latar Konflik yang Memanas
Ketegangan ini terjadi di tengah rentetan serangan udara Israel yang menghantam berbagai sasaran Hezbollah. Pada hari Rabu, IDF menyatakan telah menyerang lebih dari 100 target dalam 10 menit, termasuk markas, jaringan militer, dan pusat komando yang digunakan Hezbollah untuk merencanakan serangan terhadap tentara Israel dan warga sipil.
Reuters, mengutip kementerian kesehatan setempat, melaporkan sekitar 91 orang tewas di Beirut dan sedikitnya 182 orang tewas di seluruh Lebanon pada hari itu. AP juga mencatat bahwa sejak perang dimulai dan sebelum serangan terbaru, serangan udara Israel telah menewaskan lebih dari 1.530 orang di Lebanon.
Apa yang Menjadi Sengketa Utama
Sengketa utama bukan hanya soal penghentian tembak-menembak, tetapi juga nasib Hezbollah dalam arsitektur keamanan Lebanon. Sejumlah pakar menilai stabilitas jangka panjang di kawasan hanya bisa tercapai jika pemerintah dan tentara Lebanon mengambil alih senjata berat kelompok itu secara bertahap.
Pakar keamanan Israel Edy Cohen mengatakan Hezbollah tidak akan melucuti senjata dengan sendirinya karena kelompok itu menganggap diri sebagai pelindung komunitas Syiah. Ia menilai langkah terbaik adalah menetapkan Hezbollah sebagai organisasi teroris dan secara bertahap memindahkan kendali senjata ke tangan negara Lebanon.
Pandangan dari Lebanon dan Implikasi Regional
Guila Fakhoury, tokoh diaspora Lebanon dan aktivis keluarga sandera, menilai Iran dan Garda Revolusi Islam melalui Hezbollah sedang menguasai Lebanon lewat proksi. Ia juga menyebut banyak warga Lebanon ingin hidup damai dan menolak dominasi Iran maupun Hezbollah.
Presiden Lebanon Joseph Aoun disebut telah mendorong pembicaraan dengan Israel, sebuah langkah yang dibaca sebagai sinyal bahwa sebagian elite Beirut mencari jalur deeskalasi. Namun, situasi menjadi lebih rumit setelah Iran juga menolak perintah Lebanon untuk mengusir duta besarnya, Mohammad Reza Shibani, dari negara itu.
- Iran menilai Hezbollah harus masuk dalam kesepakatan gencatan senjata.
- Amerika Serikat menegaskan kesepakatan tidak mencakup Hezbollah.
- Israel terus melancarkan serangan besar-besaran di Lebanon.
- Lebanon menghadapi tekanan politik, keamanan, dan diplomatik sekaligus.
Di tengah kondisi itu, masa depan gencatan senjata sangat bergantung pada apakah Washington, Beirut, dan para mediator lain mampu menahan eskalasi lebih lanjut. Jika Hezbollah tetap menjadi titik buntu dalam negosiasi, peluang jeda tempur berubah menjadi konflik yang lebih luas masih terbuka lebar.
