People Are Afraid di Beirut, Serangan Israel Hancurkan Rasa Aman Lebanon

Warga Lebanon kembali hidup dalam ketakutan setelah Israel melancarkan serangan udara paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir. Sedikitnya 254 orang tewas dan lebih dari 1.160 lainnya घायल atau terluka dalam rentetan serangan yang menghantam Beirut, pinggiran kota, wilayah selatan, dan Lembah Bekaa timur.

Gelombang serangan itu memicu kepanikan luas karena banyak warga tidak mendapat peringatan sebelumnya. Rumah, apartemen, dan bangunan komersial rusak berat, sementara rumah sakit kewalahan menangani lonjakan korban dan mulai menyerukan donor darah.

Serangan yang menyebar cepat di banyak wilayah

Serangan berlangsung dalam waktu sangat singkat dan mengenai sejumlah titik di beberapa kawasan padat penduduk. Militer Israel mengklaim menargetkan lebih dari 100 markas dan sasaran militer Hizbullah, tetapi banyak ledakan terjadi di area permukiman yang dihuni warga sipil.

Di Beirut, suara ledakan terdengar beruntun hingga membuat warga berhamburan mencari perlindungan. Em Walid, pemilik toko pakaian di pusat ibu kota, mengatakan bahkan kucing-kucing jalanan ikut lari ketakutan saat ledakan mengguncang kota.

Di kawasan Manara, dekat pesisir Beirut, Najib Merhe melihat restoran burger miliknya porak-poranda setelah sebuah apartemen di lantai atas terkena serangan. Ia menyebut situasi itu tidak bisa dijalani siapa pun, sementara kaca toko berserakan di jalan dan petugas keamanan memasang garis pembatas di sekitar bangunan yang rusak.

Warga sipil terjebak di tengah eskalasi

Banyak warga yang sudah mengungsi dari selatan Lebanon justru kembali diselimuti ketidakpastian ketika serangan baru datang. Sebagian mencoba pulang setelah muncul kebingungan soal apakah Lebanon termasuk dalam gencatan senjata yang dinegosiasikan Pakistan antara Amerika Serikat dan Iran.

Dalam pernyataan terpisah, Pakistan dan Iran menyebut Lebanon termasuk bagian dari kesepakatan, tetapi Washington dan Tel Aviv menolak tafsir itu. Presiden AS Donald Trump menyebut Lebanon sebagai “perselisihan terpisah”, sedangkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan gencatan senjata “tidak mencakup Lebanon”.

Situasi ini membuat banyak keluarga berpindah lagi dari satu tempat aman ke tempat lain. Seorang mahasiswa Universitas Amerika Beirut mengatakan ia mendengar beberapa ledakan dan melihat asap naik dari berbagai penjuru kota, sementara kabar serangan juga muncul dari daerah lain di luar ibu kota.

Korban terus bertambah dan kekhawatiran makin besar

Data korban diperkirakan belum final karena pencarian masih berlangsung di bawah puing-puing. Pejabat dan tenaga medis khawatir jumlah korban tewas akan naik seiring ditemukannya lebih banyak jenazah dan korban luka dari reruntuhan.

Berikut ringkasan dampak utama serangan terbaru:

  1. Sedikitnya 254 orang tewas.
  2. Lebih dari 1.160 orang terluka.
  3. Serangan menghantam Beirut, pinggiran kota, selatan Lebanon, dan Lembah Bekaa.
  4. Rumah sakit meminta donor darah karena kapasitas darurat menipis.
  5. Banyak bangunan warga sipil rusak berat tanpa peringatan sebelumnya.

Sejumlah saksi menggambarkan rentetan ledakan sebagai sesuatu yang belum pernah mereka alami sebelumnya, terutama karena serangan datang cepat dan menyebar di banyak lokasi. Seorang anggota pertahanan sipil Beirut mengatakan ia mendengar suara “woooooo” sebelum serangan beruntun menghantam berbagai titik sekaligus.

Ketegangan regional ikut memperumit situasi

Eskalasi terbaru terjadi ketika pertempuran Israel dan Hizbullah sudah berlangsung sejak lama dan terus memakan korban. Sejak gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah yang diumumkan sebelumnya, Israel tetap melancarkan serangan hampir setiap hari dan menewaskan ratusan warga Lebanon.

Menurut laporan yang dikutip dari analis Dania Arayssi, Israel diduga memanfaatkan situasi yang masih cair untuk memaksimalkan capaian militernya di Lebanon. Ia juga menyebut kemungkinan kesepakatan AS-Iran dapat memperumit operasi Israel terhadap Hizbullah jika ada pembatasan terhadap perang melawan kelompok-kelompok yang didukung Iran.

Hizbullah sendiri menyatakan memiliki “hak” untuk membalas serangan dan menegaskan darah para korban tidak akan sia-sia. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa ketegangan belum mereda dan potensi balasan masih terbuka.

Kehidupan sehari-hari berubah menjadi upaya bertahan

Di sejumlah lokasi yang terkena serangan, warga membersihkan pecahan kaca, memeriksa kerusakan, dan mencari kabar keluarga mereka. Di sekitar restoran Hani’s di Manara, orang-orang tua berjalan di tepi laut sambil menatap lubang besar bekas apartemen yang hancur hanya beberapa jam sebelumnya.

Situasi serupa terjadi di rumah sakit, tempat para tenaga medis bekerja di bawah tekanan untuk menangani korban dalam jumlah besar. Bagi warga Beirut dan wilayah lain yang terdampak, ancaman serangan lanjutan membuat rasa aman nyaris hilang, sementara kehidupan harian berubah menjadi upaya bertahan di tengah suara ledakan yang belum sepenuhnya berhenti.

Exit mobile version