Dunia Butuh Stabilitas, Gencatan Senjata AS-Iran Diharapkan Jadi Awal Perdamaian Permanen

Wakil Ketua Komisi I DPR Sukamta menilai gencatan senjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran perlu dijaga agar tidak berhenti sebagai jeda singkat. Ia berharap kesepakatan itu berkembang menjadi perdamaian permanen karena, menurut dia, dunia saat ini membutuhkan stabilitas yang lebih kuat.

Sukamta menyampaikan harapan itu di Jakarta, Rabu (9/4/2026), setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata dua pekan dengan Iran. Di saat yang sama, Trump juga menyebut Selat Hormuz akan segera dibuka, sementara Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) mengonfirmasi pembicaraan lanjutan dengan AS akan dimulai pada Jumat (10/4/2026) di Islamabad, Pakistan.

Gencatan senjata dinilai langkah awal yang positif

Sukamta menyebut penghentian eskalasi ini sebagai langkah yang patut diapresiasi karena dapat membuka ruang bagi penurunan ketegangan. Namun, ia menegaskan semua pihak harus menahan diri dan tidak kembali memakai kekuatan militer maupun tekanan ekonomi yang dapat merugikan masyarakat lintas negara.

Ia juga mengingatkan bahwa kestabilan global tidak hanya dipengaruhi oleh perang terbuka, tetapi juga oleh langkah-langkah yang mengganggu pasokan energi dan aktivitas perdagangan. Menurut dia, tekanan semacam itu bisa langsung terasa pada harga barang, biaya logistik, dan daya beli masyarakat di banyak negara.

Peringatan atas rekam jejak pelanggaran kesepakatan

Sukamta menyoroti bahwa sejumlah gencatan senjata sebelumnya yang melibatkan Israel kerap menyisakan catatan pelanggaran. Ia menyebut pengalaman di Palestina dan Lebanon sebagai contoh yang membuat proses damai perlu diawasi ketat agar tidak kembali gagal di tengah jalan.

Dia meminta pihak-pihak terkait, termasuk Presiden Donald Trump, memastikan Israel benar-benar mematuhi kesepakatan yang telah dibuat. Menurutnya, tanpa pengawasan dan komitmen yang jelas, gencatan senjata berisiko hanya menjadi jeda sebelum ketegangan kembali meningkat.

Peluang menuju penyelesaian konflik yang lebih luas

Sukamta menilai momen ini seharusnya tidak berhenti pada penghentian serangan semata. Ia melihat ada peluang untuk mendorong penyelesaian konflik yang lebih luas, termasuk membuka jalan bagi terwujudnya kemerdekaan Palestina sebagai negara yang berdaulat.

Pandangan itu sejalan dengan dorongan agar perdamaian di Timur Tengah dibangun di atas keadilan, bukan hanya penghentian senjata sesaat. Dalam konteks tersebut, ia menilai masalah Palestina tetap menjadi isu inti yang tidak boleh diabaikan jika dunia ingin mencapai stabilitas jangka panjang.

Dunia butuh stabilitas di tengah tekanan energi dan ekonomi

Sukamta menilai konflik global kini tidak lagi berdampak pada pertempuran bersenjata saja. Ia melihat adanya pergeseran menuju tekanan sistemis pada sektor energi dan ekonomi, yang dampaknya bisa menjalar ke berbagai kawasan, termasuk Indonesia.

Karena itu, kawasan strategis seperti Selat Hormuz disebut memiliki arti besar bagi stabilitas dunia. Jalur tersebut menjadi salah satu titik penting dalam arus energi global, sehingga setiap gejolak di wilayah itu bisa memengaruhi pasar internasional.

Berikut sejumlah dampak yang paling mungkin terasa jika ketegangan kembali naik:

  1. Harga energi berpotensi bergejolak.
  2. Biaya distribusi dan logistik bisa meningkat.
  3. Pasar keuangan global dapat ikut tertekan.
  4. Daya beli masyarakat di banyak negara ikut terdampak.

Indonesia diminta aktif mendorong diplomasi damai

Sukamta menekankan bahwa Indonesia punya kepentingan besar terhadap stabilitas global karena dampak konflik internasional bisa langsung masuk ke sektor energi, perdagangan, dan kebutuhan harian masyarakat. Ia mendorong pemerintah tetap menjalankan diplomasi aktif di berbagai forum internasional agar penyelesaian damai terus diutamakan.

Ia menyebut peran Indonesia di ASEAN, Organisation of Islamic Cooperation, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa penting untuk menjaga jalur dialog tetap terbuka. Menurut dia, Indonesia juga perlu konsisten menolak segala bentuk agresi antarnegara dan mendukung upaya penyelesaian konflik yang adil serta berimbang.

Di tengah perkembangan ini, perhatian dunia kini tertuju pada apakah gencatan senjata yang diumumkan AS bisa benar-benar bertahan dan membuka ruang pembicaraan yang lebih serius. Jika komitmen semua pihak tetap terjaga, peluang menuju stabilitas kawasan dan penyelesaian isu-isu lama, termasuk Palestina, akan menjadi lebih besar.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com

Berita Terkait

Back to top button