
Gelombang kecaman dunia menguat setelah serangan udara Israel menghantam berbagai wilayah Lebanon dan menewaskan sedikitnya 203 orang, beberapa jam setelah gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran diumumkan. Serangan itu memicu pertanyaan besar soal cakupan perjanjian damai, karena sejumlah mediator dan negara lain menilai Lebanon semestinya ikut dilindungi oleh truce tersebut.
Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut sekitar 1.000 orang terluka dalam serangan yang menyasar Beirut, Lembah Bekaa, Gunung Lebanon, Sidon, dan sejumlah desa di Lebanon selatan. Militer Israel menyatakan operasi itu sebagai serangan terkoordinasi terbesar di Lebanon sejak memulai operasi militer baru pada 2 Maret, dengan klaim menyasar lebih dari 100 pusat komando dan lokasi militer Hezbollah.
Krisis kemanusiaan di Lebanon memburuk
Di tengah meningkatnya korban sipil, kepala serikat dokter Lebanon, Elias Chlela, menyerukan seluruh dokter dari semua spesialisasi untuk segera datang ke rumah sakit mana pun yang membutuhkan bantuan. Salah satu rumah sakit besar di Beirut juga meminta donasi seluruh golongan darah karena tekanan layanan darurat terus meningkat.
Jumlah korban yang tinggi dan lokasi serangan di wilayah padat penduduk membuat organisasi kemanusiaan serta pemerintah asing menyoroti risiko pelanggaran hukum humaniter internasional. Kondisi ini juga memperkuat kekhawatiran bahwa konflik bisa meluas ketika proses diplomatik baru saja mulai bergerak.
Reaksi keras dari Lebanon dan Hezbollah
Ketua parlemen Lebanon, Nabih Berri, menyebut serangan itu sebagai “kejahatan perang skala penuh”. Ia mengatakan serangan yang bertepatan dengan pengumuman gencatan senjata regional itu menjadi ujian serius bagi komunitas internasional dan pembangkangan terang-terangan terhadap hukum serta konvensi internasional.
Hezbollah menyatakan memiliki “hak” untuk membalas serangan tersebut. Anggota parlemen Hezbollah, Hassan Fadlallah, kepada Reuters menyebut serangan Israel sebagai “pelanggaran serius terhadap gencatan senjata” dan memperingatkan bahwa pelanggaran berlanjut akan berdampak pada seluruh perjanjian.
Posisi Israel dan perdebatan soal gencatan senjata
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata AS-Iran. Ia juga mengatakan Israel akan terus menyerang Lebanon karena jeda tembak-menembak itu, menurutnya, tidak berlaku bagi Hezbollah.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyebut Israel sengaja memisahkan perang melawan Iran dari pertempuran di Lebanon untuk “mengubah realitas di Lebanon”. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Tel Aviv memandang front Lebanon sebagai jalur konflik tersendiri, meski banyak pihak menilai situasinya tetap saling terkait.
Pernyataan para mediator dan sekutu Barat
Pakistan, yang disebut sebagai mediator utama dalam pembicaraan gencatan senjata, justru menegaskan bahwa Lebanon termasuk dalam cakupan truce. Perdana Menteri Shehbaz Sharif sebelumnya menyatakan Iran, Amerika Serikat, dan para sekutunya menyetujui gencatan senjata “di mana pun termasuk Lebanon”, sementara Menteri Perencanaan Pakistan Ahsan Iqbal Chaudhary mengatakan pemboman itu menciptakan “atmosfer negatif”.
Wakil Presiden AS JD Vance menyebut ada “kesalahpahaman yang sah” soal posisi Lebanon dalam kesepakatan tersebut, meski pernyataan itu berseberangan dengan pandangan Pakistan. Trump sendiri mengatakan kepada PBS bahwa Lebanon tidak termasuk dalam perjanjian karena Hezbollah, dan menambahkan, “That’s a separate skirmish.”
Daftar reaksi internasional yang paling menonjol
- Qatar mengecam “rangkaian brutal” serangan Israel dan menyebutnya pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Lebanon serta Resolusi DK PBB 1701.
- Prancis menegaskan gencatan senjata Iran-AS harus mencakup aksi militer di Lebanon dan mengecam serangan Israel sebagai “massive”.
- Mesir menyebut serangan itu sebagai upaya yang telah direncanakan untuk menggagalkan de-eskalasi regional.
- Turki menyerukan komunitas internasional bertindak segera demi melindungi warga sipil dan mengakhiri pendudukan Israel di Lebanon.
- Spanyol menilai sikap Netanyahu sebagai bentuk “penghinaan terhadap kehidupan dan hukum internasional” yang tidak bisa ditoleransi.
- Italia menyebut serangan terhadap warga sipil Lebanon “tidak sah dan tidak dapat diterima” serta menuntut jaminan keselamatan penuh bagi pasukan UNIFIL.
- Inggris menilai gencatan senjata AS-Iran harus memasukkan Lebanon karena Israel masih melanjutkan serangan mematikan di sana.
- Australia menyebut truce itu sebagai langkah penting, tetapi juga “rapuh” dan harus berlaku untuk Lebanon.
- China menekankan bahwa kedaulatan dan keamanan Lebanon tidak boleh dilanggar.
- Uni Eropa menilai tindakan Israel memberi tekanan besar pada gencatan senjata dan sulit dibenarkan sebagai pembelaan diri.
Kecaman dari PBB dan organisasi kemanusiaan
Wakil juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Farhan Haq, mengatakan PBB “sangat mengecam” serangan Israel yang menimbulkan korban sipil besar. Ia menyerukan semua pihak menempuh jalur diplomatik dan memanfaatkan gencatan senjata baru sebagai kesempatan untuk mencegah korban tambahan.
Kepala HAM PBB Volker Turk menyebut skala pembunuhan dan kehancuran di Lebanon sebagai sesuatu yang “mengerikan”. Ia menilai waktu serangan, yang terjadi hanya beberapa jam setelah kesepakatan dengan Iran, memberi tekanan besar pada perdamaian yang sudah rapuh.
Komite Palang Merah Internasional juga menyatakan keprihatinan mendalam atas korban di wilayah padat penduduk. ICRC menegaskan setiap kesepakatan menyeluruh untuk kawasan harus memperhitungkan keselamatan, perlindungan, dan martabat warga sipil di Lebanon.
Tekanan terhadap jalur diplomasi regional
Serangan ini memperlihatkan betapa rapuhnya gencatan senjata yang baru diumumkan dan betapa cepat eskalasi di Lebanon bisa mengguncang agenda regional yang lebih luas. Sejumlah negara kini mendesak agar Lebanon secara eksplisit dimasukkan ke dalam kesepakatan, sementara Israel tetap mempertahankan operasinya dengan alasan keamanan dan tekanan terhadap Hezbollah.
Di lapangan, rumah sakit di Beirut masih menerima korban dalam jumlah besar, sementara perdebatan diplomatik soal batas gencatan senjata terus berlangsung di ibu kota-ibu kota dunia. Dengan jumlah korban yang terus bertambah dan pernyataan politik yang saling bertentangan, Lebanon tetap menjadi titik paling sensitif dalam krisis yang sedang dipantau ketat oleh PBB, negara mediator, dan kekuatan regional.









