Otoritas keamanan Turki menangkap hampir 200 orang dalam operasi nasional sehari setelah baku tembak terjadi di luar konsulat Israel di Istanbul. Menteri Kehakiman Akin Gurlek mengatakan 198 tersangka ditangkap dalam penggerebekan serentak di 34 provinsi yang menargetkan “organisasi teroris Daesh”, sebutan lain untuk kelompok Islamic State.
Insiden itu menambah ketegangan keamanan di Istanbul, terutama karena terjadi di kawasan bisnis Levent di sisi Eropa kota tersebut. Tidak ada diplomat Israel yang berada di lokasi saat baku tembak berlangsung karena sebagian besar telah dievakuasi sejak serangan Hamas pada 7 Oktober yang memicu perang di Gaza.
Operasi besar-besaran di banyak provinsi
Gurlek menyampaikan penangkapan itu melalui X dan menegaskan bahwa aparat bergerak serempak di sejumlah wilayah. Dari total 198 orang yang diamankan, 12 di antaranya ditempatkan dalam tahanan pra-persidangan, termasuk dua penyerang yang terluka dan kini dirawat di rumah sakit.
Langkah ini menunjukkan respons cepat aparat Turki setelah serangan bersenjata di salah satu kawasan paling sibuk di Istanbul. Pemerintah juga mengarahkan penyelidikan pada jaringan yang diduga terkait dengan kelompok ekstremis, bukan hanya pelaku di lapangan.
Apa yang terjadi di luar konsulat Israel
Menurut keterangan resmi, seorang penyerang tewas dan dua lainnya terluka dalam baku tembak dengan polisi pada hari Selasa. Dua anggota kepolisian juga mengalami luka ringan saat berusaha menghentikan serangan tersebut.
Rekaman yang beredar memperlihatkan salah satu pelaku membawa senapan otomatis, mengenakan celana cargo warna krem, dan memakai ransel. Aparat menyebut para penyerang datang menggunakan kendaraan sewaan dari Izmit, sekitar 86 kilometer dari Istanbul, lalu baku tembak berlangsung setidaknya 10 menit menurut saksi mata.
Detail identitas dan dugaan keterkaitan pelaku
Media Turki melaporkan pria yang tewas berusia 32 tahun dan diduga terkait dengan IS. Kementerian Dalam Negeri menyebut dia punya hubungan dengan sebuah “organisasi teroris”, sementara dua penyerang yang terluka disebut bersaudara dan terkait dengan perdagangan narkoba.
Hingga kini, belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas penembakan tersebut. Kondisi ini membuat aparat masih menelusuri apakah serangan itu terkait langsung dengan jaringan militan atau merupakan aksi yang memiliki motif campuran.
Respons keamanan dan konteks ancaman di Turki
Pemerintah Turki sudah beberapa kali meningkatkan operasi anti-IS setelah serangan sebelumnya. Pada Desember, anggota IS menembaki polisi di Yalova, sekitar 90 kilometer di tenggara Istanbul, dan menewaskan tiga petugas serta melukai sembilan lainnya.
Setelah kejadian itu, polisi Turki menangkap 125 tersangka dalam penggerebekan nasional. Berikut rangkuman peristiwa penting yang tercatat dari dua serangan terbaru:
- Serangan di Istanbul: baku tembak di luar konsulat Israel, satu penyerang tewas dan dua terluka.
- Respons aparat: 198 orang ditangkap dalam operasi di 34 provinsi.
- Penanganan hukum: 12 tersangka ditahan pra-persidangan.
- Konteks ancaman: aparat mengaitkan penyelidikan dengan jaringan Daesh/IS.
Turki memang pernah menjadi sasaran serangan mematikan IS, termasuk serangan di sebuah klub malam di Istanbul yang menewaskan 39 orang pada 2017. Dengan latar keamanan seperti itu, operasi terbaru memperlihatkan bahwa pemerintah Turki masih menempatkan ancaman jaringan ekstremis sebagai prioritas utama, terutama di kota besar seperti Istanbul yang memiliki simbol diplomatik, ekonomi, dan politik penting.







