Gedebug Nuklir Iran, Gedung Putih Tegaskan Garis Merah Trump Tak Bergeser

Gedung Putih menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap menolak segala bentuk pengayaan uranium di dalam Iran. Juru bicara Presiden Donald Trump, Karoline Leavitt, menyebut batas merah sang presiden tidak berubah, yakni menghentikan seluruh pengayaan uranium Iran di dalam negeri.

Pernyataan itu muncul di tengah perdebatan baru soal proposal gencatan senjata yang diajukan Teheran kepada Washington. Situasi ini kembali menempatkan isu program nuklir Iran sebagai titik paling sensitif dalam hubungan kedua negara, terutama setelah perang berkepanjangan dan munculnya rencana perundingan lanjutan.

Sikap Gedung Putih tetap keras

Leavitt mengatakan Trump tidak pernah menyetujui apa yang disebutnya sebagai “wish list” dari Iran. Ia juga menegaskan bahwa proposal 10 poin yang diajukan Iran berbeda dari versi yang dirilis pemerintah Teheran kepada publik.

Menurut Leavitt, Gedung Putih tidak akan menerima kesepakatan yang memberi pengakuan penuh terhadap hak Iran untuk memperkaya uranium di dalam negeri. Ia menambahkan bahwa setiap perjanjian harus “terbaik bagi kepentingan Amerika Serikat”.

Isi proposal Iran jadi sumber sengketa

Dalam versi yang dipublikasikan Teheran, Iran disebut menginginkan pengakuan atas hak pengayaan uranium, keringanan sanksi, dan penghentian serangan secara permanen. Namun, pihak Gedung Putih menolak anggapan bahwa isi proposal itu bisa langsung menjadi dasar kesepakatan.

Trump sendiri sempat menyebut proposal Iran sebagai “dasar yang bisa digunakan untuk bernegosiasi”. Meski begitu, Leavitt kemudian menegaskan kembali bahwa sikap presiden tidak bergeser dan larangan atas pengayaan uranium di Iran tetap menjadi garis batas utama.

Latar belakang perundingan nuklir yang alot

Isu pengayaan uranium domestik sudah lama menjadi penghalang utama dalam pembicaraan Washington dan Teheran. Iran menyatakan tidak mengejar senjata nuklir, tetapi tetap menganggap pengayaan uranium sebagai hak nasional yang tidak bisa dilepaskan.

Di sisi lain, pemerintahan Trump mendorong pembongkaran total program nuklir Iran. Sikap ini membuat ruang kompromi menjadi sempit karena kedua pihak mempertahankan posisi yang saling bertolak belakang.

Gencatan senjata dan jalur diplomasi baru

Setelah lebih dari 38 hari perang, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu. Dalam kesepakatan itu, Amerika Serikat menghentikan serangan, sementara Iran membuka kembali Selat Hormuz yang sempat ditutup di awal konflik dan memicu lonjakan harga energi.

Leavitt menyebut tim Trump akan memusatkan perhatian pada pembicaraan dengan Iran selama dua pekan ke depan selama Selat Hormuz tetap terbuka tanpa batasan atau penundaan. Ia juga mengonfirmasi bahwa putaran awal negosiasi akan digelar di Islamabad pada Sabtu.

Tokoh utama dalam tim negosiasi

Delegasi Amerika Serikat akan dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, Utusan Khusus Steve Witkoff, dan Jared Kushner. Susunan ini menunjukkan bahwa Gedung Putih menempatkan pembicaraan dengan Iran sebagai agenda tingkat tinggi yang melibatkan lingkar terdekat Trump.

Di saat yang sama, Leavitt mengklaim serangan Amerika dan Israel telah menghancurkan kemampuan militer Iran yang paling penting. Ia menyebut kekuatan laut, rudal, industri pertahanan, dan ambisi membangun bom nuklir di dalam negeri tidak lagi bisa dijalankan.

Respons keras dari parlemen Iran

Di pihak Iran, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf mempertanyakan masa depan pembicaraan tersebut. Ia menilai Amerika Serikat dan Israel telah melanggar gencatan senjata dengan tetap melanjutkan perang di Lebanon, membiarkan drone masuk ke wilayah udara Iran, dan menolak hak Teheran untuk melakukan pengayaan uranium.

Ghalibaf juga menulis di X bahwa dasar negosiasi yang disebut dapat bekerja itu telah dilanggar bahkan sebelum perundingan dimulai. Menurut dia, dalam kondisi seperti itu, gencatan senjata bilateral atau negosiasi menjadi tidak masuk akal.

Poin-poin utama yang kini menentukan arah pembicaraan

  1. Amerika Serikat tetap menolak pengayaan uranium di dalam Iran.
  2. Iran tetap menuntut hak pengayaan uranium sebagai hak nasional.
  3. Proposal gencatan senjata Iran ditolak sebagai dasar final kesepakatan.
  4. Selat Hormuz menjadi faktor penting dalam kelanjutan pembicaraan.
  5. Negosiasi awal dijadwalkan berlangsung di Islamabad dengan delegasi tingkat tinggi.

Ketegangan terbaru menunjukkan bahwa isu nuklir Iran belum bergerak ke titik temu yang jelas, meski jalur diplomasi masih dibuka. Selama posisi Washington tetap menahan diri pada larangan pengayaan uranium dan Teheran mempertahankan klaim atas hak tersebut, perundingan yang dimulai di Islamabad akan tetap berjalan di atas medan yang rapuh.

Exit mobile version