Selat Hormuz Jadi Kunci, Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Gagal

Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran kembali disorot setelah dinilai berada di ujung tanduk. Kesepakatan yang semula dipandang sebagai langkah awal meredakan ketegangan di Timur Tengah itu kini menghadapi tekanan besar akibat perbedaan sikap, terutama terkait konflik yang melibatkan Israel dan Lebanon.

Pakar ekonomi politik internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Faris Al-Fadhat, menilai kesepakatan itu sangat rapuh dan berpotensi gagal bertahan lama. Ia bahkan menyebut masa bertahannya bisa lebih singkat dari yang diperkirakan, karena dalam hitungan hari sudah muncul faktor-faktor yang memperlemah isi gencatan senjata.

Gencatan senjata yang baru seumur jagung

Faris menilai kesepakatan ini memang bisa dibaca sebagai pintu awal menuju damai. Namun, perkembangan di lapangan justru menunjukkan sebaliknya karena sejumlah pihak belum memiliki komitmen yang sama untuk menjaga stabilitas.

Ia mengatakan ada indikasi kuat bahwa gencatan senjata selama dua pekan itu sudah berada di ambang batal hanya beberapa hari setelah diumumkan. Situasi ini memperlihatkan betapa rapuhnya konsensus di tengah konflik yang masih terus bergerak.

Selat Hormuz jadi titik krusial

Salah satu masalah utama yang disorot Faris adalah belum adanya kesepakatan mengenai pengelolaan Selat Hormuz. Jalur air strategis itu memegang peran penting dalam lalu lintas energi dan perdagangan global, sehingga setiap gangguan di kawasan tersebut langsung memicu kekhawatiran internasional.

Menurut Faris, Iran memandang Selat Hormuz sebagai bagian dari ruang politik dan pengaruhnya di kawasan. Di sisi lain, Amerika Serikat menginginkan jalur pelayaran itu tetap terbuka agar arus perdagangan tidak terganggu.

Berikut faktor yang membuat Selat Hormuz menjadi isu sensitif:

  1. Jalur ini penting bagi distribusi minyak dan logistik regional.
  2. Iran punya kepentingan strategis untuk mempertahankan pengaruh di kawasan perairan itu.
  3. AS menuntut kebebasan navigasi agar risiko eskalasi tidak melebar.
  4. Ketidakpastian keamanan membuat kapal-kapal enggan melintas.

Iran kembali menutup akses perairan strategis

Situasi makin rumit setelah Iran memutuskan menutup kembali akses Selat Hormuz di tengah masa gencatan senjata. Langkah itu disebut berkaitan dengan serangan udara Israel ke wilayah Lebanon pada Rabu, 8 April 2026 waktu setempat.

Teheran menilai serangan tersebut merupakan bentuk pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata. Dari sudut pandang Iran, tindakan Israel itu menunjukkan bahwa penghentian tembak-menembak belum benar-benar dihormati semua pihak.

Keputusan menutup akses itu langsung memperbesar keraguan terhadap masa depan gencatan senjata. Dalam situasi seperti ini, setiap tindakan balasan dari salah satu pihak berpotensi memicu respons susulan yang lebih luas.

Ancaman meluasnya konflik

Persoalan gencatan senjata AS-Iran tidak berdiri sendiri karena konflik di Lebanon ikut menyeret kepentingan regional yang lebih besar. Ketegangan antara Israel, Iran, dan Amerika Serikat membuat kawasan Timur Tengah kembali menghadapi risiko eskalasi.

Faris menilai kondisi tersebut membuat peluang perdamaian semakin tipis. Ia melihat dinamika yang terjadi bukan sekadar pelanggaran teknis, melainkan tanda bahwa kesepakatan belum memiliki fondasi politik yang cukup kuat untuk bertahan.

Dalam konteks geopolitik, gencatan senjata hanya bisa berjalan jika semua pihak mematuhi isi kesepakatan. Saat satu pihak merasa dirugikan atau menilai lawan melanggar komitmen, ruang untuk mempertahankan perdamaian menjadi semakin sempit.

Mengapa gencatan senjata ini rentan gagal

Ada beberapa alasan utama yang membuat kesepakatan ini dinilai mudah runtuh:

  1. Belum ada titik temu soal pengelolaan Selat Hormuz.
  2. Israel dan Iran masih saling menuding melanggar komitmen.
  3. Serangan di Lebanon memperburuk persepsi terhadap kesepakatan.
  4. Kepentingan strategis Amerika Serikat dan Iran belum sepenuhnya sejalan.
  5. Situasi keamanan di kawasan membuat pelayaran dan perdagangan terancam.

Faris menekankan bahwa perkembangan terbaru menunjukkan kesepakatan itu mungkin tidak berumur panjang. Menurut dia, bahkan dalam hitungan satu hari saja sudah muncul dua persoalan besar yang cukup untuk menggoyahkan stabilitas gencatan senjata.

Dampak besar bagi kawasan

Jika gencatan senjata benar-benar gagal, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh Iran dan Amerika Serikat. Gangguan di Selat Hormuz dapat memengaruhi jalur energi global, meningkatkan kekhawatiran pasar, dan memperbesar ketidakpastian di Timur Tengah.

Kondisi ini juga bisa mendorong negara-negara lain di kawasan untuk mengambil langkah antisipasi. Dalam situasi yang masih sangat dinamis, setiap keputusan militer maupun politik dari pihak-pihak yang terlibat akan menentukan apakah ketegangan mereda atau justru kembali membesar.

Baca selengkapnya di: www.medcom.id

Berita Terkait

Back to top button