Maghazi di Bawah Tembakan, Warga Sipil Terkepung Milisi Bersenjata

Serangan kelompok bersenjata di Maghazi, Gaza tengah, memicu kepanikan besar setelah rumah-rumah warga sipil dan sebuah sekolah yang menampung pengungsi menjadi sasaran tembakan. Dalam insiden itu, setidaknya 10 warga Palestina tewas dan 44 lainnya terluka, menurut laporan Rumah Sakit Al-Aqsa dan Kementerian Kesehatan Gaza.

Peristiwa ini memperlihatkan betapa rapuhnya situasi keamanan di Gaza saat perang terus mengubah wilayah padat penduduk menjadi arena bentrokan bersenjata. Kesaksian warga, laporan lembaga kesehatan, dan keterangan kelompok حقوق asasi manusia menunjukkan bahwa warga sipil kembali terjebak di tengah operasi kelompok bersenjata yang bergerak di sekitar “garis kuning” atau area pemisah antara wilayah yang dikuasai Palestina dan area yang dikendalikan Israel.

Apa yang terjadi di Maghazi?

Asaad Nteel dan keluarganya sedang berada di rumah ketika sekelompok pria bersenjata mendadak menerobos masuk ke rumah mereka di wilayah timur Maghazi. Mereka semula mengira para penyerbu itu tentara Israel karena lokasi rumah mereka sangat dekat dengan garis pemisah, tetapi para pria bersenjata itu justru mengaku sebagai “Popular Forces combating terrorism”.

Nteel mengatakan para penyerbu memecah pintu, menahan pamannya dan seorang pria lain, lalu membawa mereka ke arah dekat garis kuning. Sementara itu, seluruh keluarga diminta berkumpul di satu ruangan dan tidak bergerak agar tidak menjadi korban tembakan atau kekerasan lanjutan.

Di saat yang sama, baku tembak pecah di sekitar rumah tersebut. Menurut pengakuan keluarga, rumah mereka bahkan dijadikan salah satu dari empat bangunan di lingkungan itu sebagai perlindungan dalam pertempuran yang terjadi pada hari itu.

Bagaimana serangan meluas ke sekolah pengungsi?

Serangan tidak berhenti di area permukiman. Kelompok bersenjata itu bergerak dari arah garis kuning menuju rumah warga dan Sekolah Dasar Putra Al-Maghazi yang dikelola UNRWA, tempat banyak orang mengungsi.

Mohammad Jouda, seorang pengungsi di sekolah itu, menggambarkan suasana sebagai kepanikan total ketika tembakan masuk langsung ke area sekolah. Ia mengatakan warga tidak bisa bergerak karena intensitas tembakan sangat tinggi, lalu beberapa saat kemudian pesawat tempur menyerang gerbang sekolah.

  1. Tembakan meletus saat warga tak siap menerima serangan.
  2. Kelompok bersenjata masuk ke area sekolah dan menembak dari dalam.
  3. Serangan udara menghantam gerbang sekolah dan memperparah situasi.
  4. Banyak korban berjatuhan di sekitar lokasi pengungsian.

Jouda mengatakan sekolah itu dipenuhi perempuan, anak-anak, dan warga yang mengungsi. Menurut dia, warga yang mencoba melawan memicu tembakan perlindungan dari pasukan Israel yang mendampingi kelompok bersenjata tersebut, sehingga para penyerang sempat mundur.

Siapa kelompok bersenjata itu?

Laporan yang beredar menyebut kelompok ini beroperasi di sejumlah wilayah Gaza yang dekat dengan garis depan dan memanfaatkan kekosongan keamanan akibat perang. Para analis menyebut kelompok-kelompok ini umumnya kecil dan tidak berjalan dalam struktur tradisional yang mapan.

Ada kelompok di Beit Lahiya di Gaza utara, kelompok lain di timur Kota Gaza terutama Shujayea, lalu kelompok di timur Deir al-Balah yang dikaitkan dengan serangan di Maghazi. Di selatan, kelompok lain dilaporkan aktif di timur Khan Younis dan Rafah.

Menurut kesaksian warga Maghazi, kelompok-kelompok itu bergerak di sekitar garis kuning. Mereka memanfaatkan medan yang kacau, termasuk kawasan padat penduduk dan lokasi pengungsian yang masih dipenuhi warga sipil.

Mengapa warga menilai ada dukungan dari Israel?

Warga lokal mengatakan kelompok bersenjata itu mendapat perlindungan dan dukungan dari pasukan Israel. Dalam laporan yang sama, disebutkan bahwa drone bersenjata memberikan tembakan langsung untuk membantu kelompok itu mundur, sementara tembakan acak terjadi di gang-gang sempit kamp.

Pusat Hak Asasi Manusia Gaza juga menyatakan telah mendokumentasikan serangkaian kekerasan sebelumnya yang melibatkan kelompok-kelompok tersebut, termasuk penjarahan konvoi bantuan, penculikan, penyiksaan, dan pembunuhan. Lembaga itu menilai dukungan semacam ini melanggar Konvensi Jenewa Keempat tahun 1949.

Lembaga tersebut juga menyebut kemunculan kelompok-kelompok bersenjata itu sebagai eskalasi berbahaya yang mengaburkan tanggung jawab hukum. Mereka mendesak penyelidikan independen dari komunitas internasional dan Perserikatan Bangsa-Bangsa agar perlindungan terhadap warga sipil benar-benar ditegakkan.

Dampak langsung bagi warga Maghazi

Khaled Abu Saqr, warga Maghazi lainnya, mengatakan situasi pada hari itu terasa seperti zona perang. Ia menyebut banyak warga berusaha menghadang pergerakan milisi, tetapi justru menjadi sasaran tembakan berat dan ledakan.

Menurut Abu Saqr, kekerasan berlangsung lebih dari satu setengah jam. Ia menyebut warga sangat menolak kehadiran kelompok bersenjata tersebut, tetapi mereka tetap terjebak di bawah tembakan dan serangan dari berbagai arah.

Ia juga menggambarkan jalanan yang dipenuhi mobil pembawa korban luka dan korban tewas. Suasana itu membuat banyak keluarga panik, terutama karena sekolah dan rumah warga yang semestinya menjadi tempat aman justru ikut menjadi sasaran.

Data korban dan situasi setelah gencatan senjata

Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan 10 orang tewas dan 44 orang luka-luka dalam kekerasan di Maghazi pada hari itu. Rumah Sakit Al-Aqsa juga melaporkan jumlah korban serupa, sementara laporan lain menyebut korban muncul di beberapa titik saat bentrokan meluas ke area sekolah dan permukiman.

Sejak dimulainya gencatan senjata antara Israel dan Hamas pada 11 Oktober, sedikitnya 733 warga Palestina tewas di Gaza dan 2.034 lainnya terluka, menurut data yang dikutip dalam laporan tersebut. Selain itu, 759 jenazah juga telah ditemukan dari reruntuhan atau lokasi terdampak serangan.

KeteranganData yang dilaporkan
Tewas di Maghazi10
Luka-luka di Maghazi44
Korban tewas di Gaza sejak gencatan senjata dimulai733
Korban luka di Gaza sejak gencatan senjata dimulai2.034
Jenazah yang ditemukan759

Mengapa insiden ini memicu kemarahan luas?

Serangan di Maghazi memicu gelombang kemarahan di media sosial setelah video korban yang dibawa ke rumah sakit beredar luas. Banyak aktivis menyoroti fakta bahwa warga sipil kembali menjadi korban di kawasan yang sudah dipenuhi pengungsi dan infrastruktur sipil yang sangat terbatas.

Bagi warga setempat, masalah terbesar bukan hanya tembakan yang terjadi pada hari itu, tetapi juga rasa tidak aman yang terus berulang. Mereka harus hidup di tengah perang, pengungsian, dan kehadiran kelompok bersenjata yang bergerak di wilayah sipil tanpa memberi peringatan yang jelas.

Asaad Nteel mengatakan keluarganya memilih tidak melawan agar anak-anak dan perempuan di rumah mereka tetap selamat. Setelah para pria bersenjata pergi, mereka masih harus menghadapi kehilangan peralatan kerja, termasuk kamera dan lensa yang disita saat rumah mereka digeledah.

Peristiwa Maghazi menunjukkan bahwa ancaman terhadap warga sipil di Gaza tidak hanya datang dari serangan udara dan operasi militer, tetapi juga dari kehadiran kelompok bersenjata yang bergerak di tengah permukiman padat dan pusat pengungsian. Di kamp yang sudah lama hidup dalam tekanan perang, satu jam lebih tembakan dapat mengubah sekolah, rumah, dan jalanan menjadi lokasi korban berjatuhan.

Berita Terkait

Back to top button