Negara Kaya Kembali Pangkas Bantuan Pembangunan, Dunia Miskin Menanggung Harga

Negara-negara kaya memangkas bantuan pembangunan mereka pada fase ini untuk tahun kedua berturut-turut, dan pemotongannya diperkirakan mencapai rekor baru. Kelompok utang Eurodad menyebut total bantuan pembangunan resmi global bisa turun ke kisaran $170 miliar hingga $190 miliar, level yang terakhir terlihat saat pandemi COVID-19.

Data itu muncul menjelang rilis resmi dari Organisation for Economic Cooperation and Development atau OECD yang berbasis di Paris. Eurodad membandingkan proyeksi tersebut dengan bantuan pembangunan resmi global sebesar $223,7 miliar dan $212,1 miliar pada dua tahun sebelumnya, sehingga menunjukkan penurunan yang tajam dalam waktu singkat.

Pemangkasan yang bergerak lebih cepat dari kebutuhan pembangunan

Eurodad menilai penurunan bantuan ini terjadi saat kebutuhan di negara berkembang justru masih tinggi. Tekanan fiskal, konflik, dan perlambatan ekonomi membuat banyak pemerintahan di Afrika dan wilayah lain bergantung pada aliran dana luar negeri untuk layanan dasar, kesehatan, dan ketahanan pangan.

Organisasi itu juga menyoroti kesenjangan yang makin lebar antara belanja sosial dan belanja militer. Di sisi lain, belanja pertahanan di 32 negara anggota NATO mencapai $1,4 triliun pada fase ini, angka yang menunjukkan prioritas anggaran di banyak negara maju bergeser ke keamanan dan militer.

Dampak terbesar diperkirakan menimpa negara paling rentan

Eurodad menilai negara-negara kurang berkembang dan kawasan sub-Sahara Afrika akan menanggung dampak terberat. Matthew Simons, senior policy and advocacy officer Eurodad, mengatakan pemangkasan bantuan pembangunan resmi bagi dua kelompok itu diperkirakan berada di rentang 13% hingga 28%.

Penurunan itu dapat menekan pendanaan untuk proyek air bersih, pendidikan, kesehatan, dan adaptasi iklim. Dalam banyak negara penerima, bantuan bilateral menjadi sumber pendanaan penting karena akses ke pasar obligasi masih mahal dan kapasitas fiskal pemerintah sangat terbatas.

Kritik atas janji 0,7% yang tak terpenuhi

Maria Jose Romero, policy and advocacy manager Eurodad, menilai pemangkasan ini merusak kemajuan pembangunan yang dibangun selama bertahun-tahun. Ia mengatakan negara-negara kaya sedang “menulis cek kosong untuk perang” sambil meninggalkan komitmen lama untuk menyalurkan 0,7% dari pendapatan nasional bruto sebagai bantuan pembangunan.

Komitmen 0,7% itu sudah lama menjadi patokan dalam kebijakan bantuan internasional, tetapi implementasinya terus tertinggal. Dari 34 anggota dan mitra Development Assistance Committee OECD, hanya tiga yang diperkirakan memenuhi benchmark itu pada fase ini, meski Eurodad tidak menyebutkan nama negara-negara tersebut.

Mengapa bantuan turun saat kebutuhan naik

Ada beberapa faktor yang mendorong penurunan bantuan pembangunan resmi, dan berikut poin utamanya:

  1. Prioritas anggaran negara maju bergeser ke pertahanan dan keamanan.
  2. Tekanan politik domestik membuat bantuan luar negeri lebih mudah dipangkas.
  3. Penutupan U.S. Agency for International Development pada tahun lalu mengurangi salah satu sumber pendanaan terbesar.
  4. Sejumlah negara donor lain juga menurunkan alokasi bantuan mereka.

Gabungan faktor itu menciptakan efek berantai di negara berkembang, terutama di Afrika. Saat bantuan bilateral menyusut, banyak pemerintah dan lembaga pembangunan harus mencari sumber pendanaan pengganti yang biasanya lebih mahal atau sulit diakses.

PBB, Bank Dunia, dan IMF ikut masuk dalam sorotan

Eurodad menyebut pertemuan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional pada pekan berikutnya akan membahas cara menutup kekosongan yang ditinggalkan oleh turunnya bantuan bilateral. Pembahasan itu penting karena melemahnya bantuan tradisional berpotensi mendorong lembaga multilateral mengambil peran lebih besar.

Namun, kapasitas lembaga multilateral juga tidak tak terbatas. Jika negara donor utama terus menahan bantuan, proyek pembangunan di negara miskin bisa menghadapi jeda pendanaan, penundaan program, atau pengurangan cakupan layanan publik.

Gambaran perbandingan angka yang disorot Eurodad

IndikatorAngka
Bantuan pembangunan resmi global$223,7 miliar
Bantuan pembangunan resmi global berikutnya$212,1 miliar
Proyeksi bantuan pada fase ini$170 miliar – $190 miliar
Belanja pertahanan negara anggota NATO$1,4 triliun

Rangkaian angka itu memperlihatkan ironi kebijakan global saat ini, yakni bantuan untuk pembangunan justru melemah ketika ketimpangan, utang, dan kebutuhan kemanusiaan masih tinggi. Dengan tekanan anggaran yang belum mereda, masa depan pembiayaan pembangunan akan sangat bergantung pada keputusan negara donor dan kemampuan lembaga multilateral menutup celah yang makin lebar.

Terkait