Gencatan Paskah Rusia-Ukraina Gagal, 469 Pelanggaran Picu Keraguan Baru

Gencatan senjata singkat yang diumumkan Rusia untuk meredakan suasana Paskah Ortodoks kembali goyah setelah Ukraina menuduh Moskow melanggar jeda tempur itu ratusan kali. Dalam laporan militer Ukraina, tercatat hampir 470 insiden pelanggaran, mulai dari serangan udara, serangan drone, hingga penembakan artileri.

Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya memerintahkan gencatan senjata itu pada hari Kamis, setelah usulan pertama datang dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky lebih dari sepekan sebelumnya. Meski kedua pihak sempat menyatakan akan mematuhinya, situasi di lapangan menunjukkan sebaliknya.

Laporan serangan dan tuduhan pelanggaran

Militer Ukraina menyebut pada Sabtu malam telah terjadi 469 pelanggaran gencatan senjata. Rinciannya mencakup 22 aksi serangan darat, 153 serangan artileri, 19 serangan dengan drone serang, dan 275 serangan menggunakan drone FPV.

Dalam pernyataan terpisah, militer Ukraina juga mengatakan Rusia melancarkan 57 serangan udara, menjatuhkan 182 bom udara berpemandu, mengerahkan 3.928 drone, dan melakukan 2.454 tembakan ke “wilayah berpenduduk dan posisi pasukan kami”. Angka-angka ini memperlihatkan bahwa jeda tempur yang semestinya berlangsung 32 jam nyaris tidak memberi ruang bagi penurunan eskalasi.

Di sisi lain, pejabat Rusia juga menuduh Ukraina melanggar gencatan senjata. Gubernur wilayah Kursk, Alexander Khinshtein, mengatakan Kyiv menyerang sebuah stasiun pengisian gas di kota Lgov dengan drone dan melukai tiga orang, termasuk seorang bayi.

Serangan menit terakhir memperburuk situasi

Beberapa jam sebelum gencatan senjata dimulai, Ukraina mengatakan Rusia meluncurkan sedikitnya 160 drone. Serangan itu menewaskan empat orang di wilayah timur dan selatan Ukraina serta melukai puluhan lainnya.

Pada waktu yang hampir bersamaan, gelombang drone Ukraina memicu kebakaran di depot minyak dan merusak gedung apartemen di wilayah Krasnodar, Rusia selatan, menurut otoritas setempat. Pola saling serang ini menunjukkan bahwa kedua pihak masih memilih tekanan militer ketimbang menahan diri.

  1. Rusia mengumumkan gencatan senjata untuk Paskah Ortodoks selama 32 jam.
  2. Ukraina menuduh Rusia melakukan 469 pelanggaran dalam sehari.
  3. Rusia juga menuduh Ukraina melakukan serangan di wilayah Kursk.
  4. Serangan drone terjadi sebelum dan selama periode jeda tempur.
  5. Kedua pihak tetap bertukar tawanan perang di tengah ketegangan.

Harapan warga di kota garis depan

Di Kharkiv, kota dekat perbatasan Rusia yang hampir setiap hari menjadi sasaran serangan, warga menyambut truce itu dengan hati-hati. Banyak yang tidak yakin jeda singkat itu akan benar-benar dihormati.

Oleg Polyskin, 65 tahun, mengatakan ia berharap gencatan senjata bisa bertahan, meski hanya sebentar. Namun ia juga menyebut bahwa tidak ada jaminan keamanan penuh dan kepercayaan terhadap Presiden Putin serta pemerintahnya sangat rendah.

Sofiia Liapina, 16 tahun, menyampaikan harapan serupa dengan nada waspada. Ia ingin malam berlangsung tenang tanpa sirene serangan udara, tetapi mengaku tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi karena pihak lawan dianggap sulit dipercaya.

Pertukaran tahanan tetap berjalan

Di tengah saling tuduh pelanggaran, kedua negara tetap melakukan pertukaran tahanan perang. Sebanyak 175 tawanan dari masing-masing pihak dipulangkan pada Sabtu, disusul pertukaran 14 warga sipil, dengan komposisi tujuh orang dari tiap sisi.

Salah satu yang dibebaskan adalah Maksym, tentara Ukraina yang mengatakan ia baru benar-benar menyadari kebebasannya setelah empat tahun menjadi tawanan. Pertukaran ini menjadi salah satu sedikit titik terang dalam situasi yang masih didominasi serangan dan ketidakpercayaan.

Diplomasi yang belum menemukan jalur keluar

Perundingan yang dipimpin atau didorong Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik ini juga belum bergerak jauh. Pembicaraan melambat dalam beberapa pekan terakhir, sebagian karena perang di Timur Tengah mengalihkan perhatian diplomatik internasional.

Bahkan sebelum konflik regional itu memanas, kemajuan menuju kesepakatan damai di Ukraina sudah berjalan lambat. Penyebab utamanya adalah perbedaan tajam soal wilayah, terutama di Donetsk.

  1. Ukraina mengusulkan pembekuan konflik di sepanjang garis depan saat ini.
  2. Rusia menolak dan menuntut Ukraina menyerahkan seluruh wilayah Donetsk yang masih dikuasai Kyiv.
  3. Kyiv menyebut tuntutan itu tidak bisa diterima.
  4. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan gencatan senjata tidak dibahas lebih dulu dengan Ukraina maupun Amerika Serikat.
  5. Moscow menegaskan jeda tempur itu tidak terkait langsung dengan negosiasi damai.

Perang yang masih jauh dari reda

Perang Rusia-Ukraina telah menelan ratusan ribu korban jiwa dan memaksa jutaan orang meninggalkan rumah mereka. Konflik ini juga menjadi perang paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia Kedua.

Menurut Institute for the Study of War yang berbasis di Amerika Serikat, Rusia mencatat kemajuan wilayah dalam skala kecil tetapi dengan biaya sangat tinggi. Kyiv belakangan juga berhasil menahan dan mendorong balik tekanan Rusia di tenggara, sementara laju serangan Moskow dilaporkan melambat sejak akhir tahun lalu.

Saat ini, Rusia masih menguasai sedikit lebih dari 19 persen wilayah Ukraina, dan sebagian besar wilayah itu direbut pada pekan-pekan awal perang. Kondisi tersebut membuat gencatan senjata singkat seperti jeda Paskah Ortodoks lebih sering dipandang sebagai ujian kepercayaan ketimbang langkah nyata menuju perdamaian.

Terkait