ICE Buru Jejaring Judi Lahir di AS, Mengintai Skema Warga Baru Lewat Visa

Dinas Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai Amerika Serikat, ICE, meluncurkan operasi baru untuk menelusuri jaringan yang diduga membantu perempuan hamil mengajukan visa dengan keterangan palsu demi melahirkan di AS. Langkah ini muncul di tengah upaya pemerintah Donald Trump untuk menyoroti apa yang disebut sebagai “birth tourism” sebagai alasan membatasi kewarganegaraan otomatis bagi bayi yang lahir di wilayah Amerika Serikat.

Dalam email internal yang ditinjau Reuters, ICE meminta agen penyidik di berbagai wilayah memusatkan perhatian pada “Birth Tourism Initiative”. Operasi ini ditujukan untuk membongkar jaringan yang diduga memfasilitasi warga negara asing yang sedang hamil agar datang ke AS untuk melahirkan, sehingga anak mereka bisa memperoleh kewarganegaraan AS.

Fokus baru penegakan imigrasi

Administrasi Trump menempatkan isu ini dalam agenda pengetatan imigrasi legal dan ilegal setelah kembali berkuasa pada Januari. Gedung Putih menyebut praktik tersebut menimbulkan biaya besar bagi pembayar pajak dan mengancam keamanan nasional.

Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly mengatakan dalam pernyataan bahwa “uninhibited birth tourism poses a tremendous cost to taxpayers and threatens our national security”. Ia juga menambahkan bahwa sebagian besar negara tidak memberikan kewarganegaraan otomatis saat lahir.

Kementerian Keamanan Dalam Negeri AS, DHS, menolak berkomentar soal penyelidikan yang masih berlangsung. Namun, lembaga itu menyatakan mengetahui adanya jaringan yang memfasilitasi perjalanan ke AS untuk tujuan birth tourism.

Apa yang ditargetkan ICE

ICE menyebut operasi barunya dijalankan lewat Homeland Security Investigations, atau HSI. Dalam email internal, HSI mengatakan sedang meningkatkan upaya untuk melindungi integritas sistem imigrasi dan identifikasi AS, terutama terhadap aktivitas penipuan yang terkait skema birth tourism.

  1. Menemukan indikasi penipuan dalam permohonan visa.
  2. Mengusut aliran dana dan kejahatan finansial yang mendukung skema itu.
  3. Mengganggu jaringan fasilitator yang memanfaatkan jalur imigrasi legal.
  4. Menindak dugaan kerja terorganisasi yang membantu calon ibu melahirkan di AS.

ICE belum menjelaskan berapa banyak kasus yang mungkin muncul dari operasi ini. Belum ada data resmi yang mencatat jumlah pasti warga asing yang datang ke AS khusus untuk melahirkan demi kewarganegaraan anak mereka.

Aturan yang sudah ada dan celah yang dipersoalkan

Tidak ada undang-undang federal yang secara langsung melarang birth tourism. Namun, aturan federal yang berlaku sejak 2020 semasa masa jabatan pertama Trump melarang penggunaan visa turis dan bisnis sementara jika tujuan utamanya adalah mendapatkan kewarganegaraan AS bagi bayi yang baru lahir.

Orang yang terlibat dalam skema semacam itu dapat dituntut atas penipuan atau tindak pidana lain yang berkaitan. Di sisi lain, lahir di AS memang tidak dilarang, tetapi DHS menegaskan pihaknya tetap fokus pada dugaan pelanggaran hukum federal yang terkait dengan aktivitas tersebut.

Latar politik yang lebih luas

Isu birth tourism telah lama dipakai Partai Republik untuk mendukung pembatasan akses kewarganegaraan AS. Selama lebih dari satu abad, kewarganegaraan otomatis bagi bayi yang lahir di AS dilandasi oleh amendemen Konstitusi.

Pada hari pertama menjabat, Trump mengeluarkan perintah eksekutif yang meminta lembaga federal tidak mengakui kewarganegaraan anak yang lahir di AS jika kedua orang tuanya bukan warga negara Amerika atau pemegang izin tinggal tetap sah. Kebijakan itu menyimpang tajam dari preseden hukum yang bertahan lebih dari seratus tahun.

Sejumlah hakim federal memblokir perintah tersebut, sehingga perkara itu berlanjut ke Mahkamah Agung untuk sidang lisan pekan lalu. Jaksa Agung AS D. John Sauer, yang mewakili pemerintahan Trump, mengatakan kewarganegaraan otomatis telah mendorong tumbuhnya “a sprawling industry of birth tourism”.

Sauer juga menilai janji kewarganegaraan bagi anak yang lahir di AS mendorong ribuan orang dari “potentially hostile nations” datang untuk melahirkan. Menurut dia, kondisi itu menciptakan “a whole generation of American citizens abroad with no meaningful ties to the United States.”

Data yang tersedia masih terbatas

Belum ada angka resmi yang menghitung berapa banyak orang asing yang datang ke AS dengan tujuan eksplisit untuk melahirkan dan memperoleh kewarganegaraan bagi anak mereka. Perkiraan juga berbeda-beda karena praktik ini sulit dilacak secara terbuka.

Center for Immigration Studies, lembaga yang mendukung pembatasan imigrasi, memperkirakan dalam analisis pada 2020 bahwa 20.000 hingga 25.000 ibu datang ke AS untuk birth tourism dalam satu periode satu tahun pada 2016-2017. Angka itu tetap jauh lebih kecil dibanding total kelahiran di AS.

Reuters mencatat ada 3,6 juta kelahiran di AS pada 2025, sehingga birth tourism kemungkinan hanya mencakup sebagian kecil dari total kelahiran nasional.

Kasus hukum yang pernah muncul

Penegakan hukum terhadap skema semacam ini bukan hal baru. Pada sebuah kasus federal di 2019, lebih dari selusin orang didakwa dalam skema “birth houses” di Southern California yang melayani perempuan kaya dari China.

Dalam kasus yang saat itu disebut ICE sebagai penuntutan pertama AS terkait birth tourism, warga negara China Dongyuan Li mengaku bersalah atas dakwaan federal yang berkaitan dengan skema tersebut. Ia dijatuhi hukuman 10 bulan penjara dan dibebaskan pada Desember 2019.

Kasus lainnya melibatkan warga negara China Chao “Edwin” Chen, yang dijatuhi hukuman tiga tahun penjara pada 2020 tetapi sudah melarikan diri ke China, menurut ICE. Rekam jejak ini menunjukkan bahwa otoritas AS memandang birth tourism bukan sekadar pelanggaran administratif, melainkan juga potensi pintu masuk bagi penipuan, kejahatan finansial, dan jaringan fasilitator lintas negara.

Exit mobile version