Trump Unggah Foto AI Seolah Tuhan Yesus, Kecaman Publik Mengalir Deras

Author: Qoo Media

Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah mengunggah gambar hasil kecerdasan buatan atau AI yang menampilkan dirinya seolah-olah berada dalam peran mirip Tuhan Yesus. Unggahan itu muncul di akun Truth Social miliknya dan langsung memicu reaksi keras dari publik, terutama karena dinilai berlebihan dan menyinggung simbol keagamaan.

Dalam gambar tersebut, Trump tampak mengangkat tangan bercahaya ke dahi seorang pria yang sedang tertidur, sementara di sekelilingnya ada sosok perawat, seorang perempuan yang berlutut berdoa, serta sejumlah elemen simbolik lain seperti bendera Amerika Serikat, Patung Liberty, pesawat militer, dan figur pria berseragam. Konten itu disebut dibagikan di tengah kepanikan publik yang sensitif terhadap perpaduan antara pesan politik, agama, dan citra personal seorang presiden.

Unggahan yang Memicu Gelombang Kritik

Menurut laporan Sky News yang dikutip pada Selasa, 14 April 2026, unggahan itu segera menuai kecaman luas dari pengguna media sosial. Banyak warganet meminta Trump menghapus gambar tersebut karena menilai visual AI itu tidak pantas dan memicu kesan bahwa ia sedang memposisikan diri secara religius.

Trump akhirnya menghapus unggahan itu sekitar satu jam kemudian, tetapi respons negatif sudah terlanjur menyebar luas. Reaksi publik terhadap konten seperti ini biasanya cepat membesar karena AI kini makin mudah membuat gambar yang terlihat nyata, sehingga batas antara satire, propaganda, dan penghinaan simbolik menjadi semakin kabur.

Riwayat Trump Menggunakan Gambar AI

Ini bukan kali pertama Trump membagikan gambar berbasis AI yang memancing perhatian publik. Tahun lalu, saat bersiap mengerahkan Garda Nasional ke Chicago, ia juga pernah mengunggah gambar parodi dirinya yang terinspirasi dari film Apocalypse Now.

Kebiasaan membagikan visual semacam ini menunjukkan bahwa Trump sering memakai media sosial untuk membangun citra, menggoda lawan politik, atau memancing percakapan luas. Namun, ketika unsur agama ikut masuk ke dalam konten, risiko kritik biasanya jauh lebih besar karena publik menilai ada batas yang dilanggar.

Ketegangan dengan Paus Leo XIV

Unggahan AI itu muncul tidak lama setelah Trump melontarkan kritik keras terhadap Paus Leo XIV. Dalam pernyataannya, Trump menyinggung pandangan Paus soal perang di Iran dan menuduh pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu lemah dalam isu kejahatan serta kebijakan luar negeri.

Paus Leo sebelumnya menyampaikan pesan damai dan menegaskan bahwa Tuhan menolak doa para pemimpin yang memulai perang dengan tangan berlumuran darah, menurut kutipan pidatonya bulan lalu. Ia juga menggambarkan konflik di Iran sebagai sesuatu yang mengerikan serta mendesak agar kekerasan dikurangi.

Trump kemudian membalas dengan nada tajam dan berkata, “Kami tidak menyukai Paus yang mengatakan bahwa memiliki senjata nuklir itu boleh saja… Dia adalah orang yang tidak berpikir kita seharusnya bermain-main dengan negara yang ingin memiliki senjata nuklir agar bisa menghancurkan dunia.”

Ia juga menambahkan, “Kami juga tidak menginginkan Paus yang menganggap kejahatan itu wajar di kota-kota kami. Saya tidak menyukainya. Saya bukan penggemar Paus Leo,” kata Trump.

Respons Paus Leo XIV

Di sisi lain, Paus Leo XIV membantah kesan yang dibangun Trump itu. Dalam wawancara dengan NBC News, ia mengatakan bahwa dirinya tidak takut terhadap pemerintahan Trump dan menegaskan bahwa seruan untuk perdamaian berangkat dari ajaran Injil.

“Kami bukan politisi. Kami tidak melihat kebijakan luar negeri dari sudut pandang seperti yang ia pahami, tetapi saya percaya pada pesan Injil sebagai pembawa damai,” ujarnya.

Dalam pernyataan terpisah kepada Reuters saat berada dalam penerbangan menuju Aljir, Paus Leo juga menyampaikan bahwa ia tidak ingin terlibat perdebatan langsung dengan Trump. Ia menegaskan bahwa pesan Injil tidak seharusnya disalahgunakan untuk kepentingan tertentu.

Reaksi Publik di Era AI dan Politik

Kasus ini menambah daftar panjang bagaimana AI dipakai dalam komunikasi politik yang memancing emosi publik. Dalam situasi seperti ini, satu gambar yang terlihat sederhana bisa membawa dampak besar karena mencampurkan identitas, agama, dan kekuasaan dalam satu unggahan.

Di Amerika Serikat, hubungan antara tokoh politik dan simbol keagamaan memang sering menjadi isu sensitif, terutama menjelang momen-momen politik yang sarat polarisasi. Karena itu, banyak pengamat menilai unggahan Trump bukan sekadar lelucon visual, tetapi juga bagian dari strategi komunikasi yang berisiko memperlebar perdebatan soal etika bermedia sosial dan batas penggunaan teknologi AI oleh pejabat publik.

  1. Trump mengunggah gambar AI dirinya di Truth Social.
  2. Visual itu menampilkan nuansa religius mirip sosok Yesus.
  3. Publik langsung mengecam dan meminta unggahan dihapus.
  4. Trump menghapusnya sekitar satu jam kemudian.
  5. Kontroversi ini terjadi setelah Trump menyerang Paus Leo XIV soal perang di Iran.

Sky News melaporkan bahwa Tahta Suci telah dihubungi untuk dimintai tanggapan atas unggahan dan pernyataan Trump tersebut, tetapi belum ada keterangan resmi yang disampaikan dalam laporan itu. Sementara itu, kontroversi ini kembali menegaskan bahwa unggahan berbasis AI dari figur politik besar bisa memicu reaksi luas, terutama ketika menyentuh simbol agama dan momen geopolitik yang sedang tegang.

Terbaru