Pete Hegseth Di Pentagon, Sosok Menteri Perang AS Dengan Tato Kafir yang Mengguncang Dunia

Hubungan pertahanan Indonesia dan Amerika Serikat kembali menghangat setelah Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin bertemu Menteri Perang AS Pete Hegseth di Pentagon pada Senin, 13 April 2026, waktu setempat. Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan untuk membentuk Kemitraan Kerja Sama Pertahanan Utama atau Major Defense Cooperation Partnership (MDCP), yang disebut Pentagon sebagai peningkatan signifikan dalam hubungan bilateral kedua negara.

Di tengah sorotan kerja sama tersebut, nama Pete Hegseth ikut menjadi perhatian publik karena jejak karier, sikap politik, dan sejumlah kontroversi yang melekat padanya. Sosoknya dikenal sebagai tokoh konservatif garis keras di lingkaran pertahanan pemerintahan Donald Trump, sekaligus figur yang kerap memicu perdebatan di dalam dan luar Amerika Serikat.

Latar belakang dan masa kecil

Pete Hegseth lahir dengan nama lengkap Peter Brian Hegseth pada 6 Juni 1980 di Minneapolis, Minnesota. Ia tumbuh dalam keluarga kelas menengah, dengan ayah bernama Brian Hegseth yang bekerja sebagai pelatih bola basket dan ibu Penelope “Penny” Hegseth yang berprofesi sebagai pelatih karier.

Lingkungan keluarga itu membentuk disiplin dan ambisinya sejak muda. Hegseth kemudian menapaki jalur pendidikan tinggi di dua kampus bergengsi Amerika Serikat, yang menguatkan reputasinya sebagai tokoh dengan latar akademis mapan.

Pendidikan dan karier militer

Hegseth meraih gelar Bachelor of Arts bidang politik dari Princeton University pada 2003. Ia lalu melanjutkan studi dan memperoleh gelar Master of Public Policy dari Harvard University pada 2013.

Di bidang militer, ia mengabdi di Army National Guard selama hampir 20 tahun, dari 2002 hingga 2021, dengan pangkat terakhir mayor. Rekam jejaknya mencakup penempatan di Teluk Guantanamo, Irak, dan Afghanistan, serta penghargaan dua Bronze Star Medals, Combat Infantryman Badge, dan Expert Infantryman Badge.

  1. Pendidikan: Princeton University dan Harvard University
  2. Dinas militer: Army National Guard
  3. Masa tugas: 2002–2021
  4. Pangkat terakhir: Mayor
  5. Penghargaan: dua Bronze Star Medals dan beberapa lencana tempur

Karier sipil dan naiknya nama Hegseth

Setelah berhenti dari tugas aktif, Hegseth aktif memimpin organisasi advokasi veteran seperti Vets for Freedom dan Concerned Veterans for America. Peran itu membuatnya dikenal sebagai figur yang vokal dalam isu-isu pertahanan dan kepentingan veteran.

Namanya semakin dikenal luas ketika bergabung dengan Fox News pada 2014. Di jaringan televisi itu, ia menjadi salah satu pembawa acara populer di program “Fox & Friends Weekend” hingga akhir 2024.

Penunjukan sebagai Menteri Perang AS

Donald Trump menunjuk Hegseth sebagai Menteri Pertahanan pada November 2024. Penunjukan itu sempat memicu perdebatan, terutama karena munculnya isu pelecehan seksual dan kebiasaan minum alkohol dalam proses konfirmasi Senat.

Meski menghadapi hambatan, Hegseth akhirnya dilantik pada 25 Januari 2025 dengan dukungan suara penentu dari Wakil Presiden JD Vance. Sejak saat itu, ia memimpin kebijakan pertahanan AS dengan gaya yang jauh lebih agresif dan konfrontatif dibanding pendahulunya.

Langkah-langkah kontroversial di Pentagon

Di bawah kepemimpinannya, Pentagon mengalami sejumlah perubahan besar yang memicu kritik publik. Hegseth mendorong pengembalian nama Departemen Pertahanan menjadi “Department of War” sebagai bagian dari upaya memulihkan citra kekuatan militer.

Ia juga menghentikan kantor-kantor keberagaman, ekuitas, dan inklusi atau DEI, serta melarang perayaan identitas gender di lingkungan militer. Selain itu, ia menegakkan kembali aturan fisik yang ketat bagi personel militer, termasuk standar tinggi dan berat badan.

Kebijakan lainnya termasuk upaya menghapus aturan pelibatan yang dianggap terlalu “benar secara politik” dan mendorong pendekatan tempur yang lebih agresif. Ia juga menginstruksikan anggota National Guard di Washington D.C. untuk membawa senjata sampingan dalam agenda anti-kejahatan.

Skandal dan dampaknya

Kepemimpinan Hegseth tidak lepas dari skandal keamanan dan konflik politik. Laporan Pentagon menyebut ia menggunakan aplikasi Signal untuk membahas rencana serangan militer terhadap Houthi di Yaman bersama istri dan pengacaranya dalam sebuah grup chat, yang memunculkan kekhawatiran soal keamanan operasional.

Ia juga pernah berupaya memotong gaji pensiun dan pangkat Senator Mark Kelly karena kritik yang diarahkan kepadanya. Langkah itu kemudian dibatalkan oleh hakim federal karena dinilai inkonstitusional.

Di sisi lain, New York Times menggugat kantor urusan hukum Departemen Pertahanan atas pembatasan akses pers di Pentagon. Sengketa itu menambah daftar panjang ketegangan antara Hegseth dan media.

Pandangan ideologis yang keras

Hegseth dikenal sebagai penganut Kristen konservatif garis keras dan tercatat sebagai anggota Pilgrim Hill Reformed Fellowship. Gereja itu dikaitkan dengan pastor Doug Wilson yang juga kerap menuai kritik karena pandangan religiusnya yang konservatif.

Dalam buku yang ia tulis, Hegseth menegaskan pandangan bahwa Islam “bukanlah agama damai”. Pernyataan ini berkali-kali dikutip ulang dalam pemberitaan dan dianggap memperkuat citranya sebagai figur yang keras terhadap Islam.

Kutipan tersebut memicu reaksi luas, terutama karena ia memegang jabatan strategis yang berhubungan dengan hubungan militer Amerika Serikat di banyak kawasan Muslim. Dalam konteks diplomasi pertahanan, pandangan seperti itu mudah menjadi sorotan karena bisa memengaruhi persepsi terhadap kebijakan dan pendekatan AS.

Tato “Kafir” dan gelombang kritik

Nama Hegseth kembali viral setelah foto-foto dirinya di media sosial menunjukkan tato bertuliskan “Kafir”. Istilah itu berasal dari bahasa Arab dan dalam konteks Islam merujuk pada orang yang tidak beriman, sehingga tato tersebut dianggap provokatif oleh banyak pihak.

The Guardian melaporkan bahwa tato itu sempat kembali terlihat dalam unggahan Instagram Hegseth pada Juli 2024. Kemunculannya memicu kritik di media sosial karena dinilai menyinggung umat Muslim, terlebih saat militer AS berupaya menampilkan citra inklusif terhadap keberagaman agama.

Perdebatan juga muncul karena tato itu bukan satu-satunya simbol tubuh yang melekat pada Hegseth. Sebelumnya, ia pernah memamerkan tato yang disebut menunjukkan ketertarikan pada “crusader aesthetics”, sebuah gaya yang belakangan populer di kalangan sayap kanan Amerika Serikat.

Mengapa sosok Hegseth terus disorot

Figur Pete Hegseth menarik perhatian karena memadukan tiga unsur besar sekaligus: pengalaman tempur, pengaruh media, dan agenda ideologis yang tajam. Kombinasi itu membuatnya dianggap efektif oleh pendukungnya, tetapi juga berisiko tinggi memunculkan konflik.

Di satu sisi, ia dipandang sebagai pejabat yang ingin memperkuat daya gentar militer AS. Di sisi lain, kebijakan keras, retorika ideologis, dan riwayat kontroversinya membuat banyak pihak meragukan kemampuannya menjaga keseimbangan antara kekuatan, diplomasi, dan sensitivitas sosial.

Dalam konteks kerja sama pertahanan dengan Indonesia, profil Hegseth menjadi penting karena kebijakan dan sikap pribadinya dapat ikut membentuk arah hubungan militer kedua negara. Saat MDCP mulai dibicarakan sebagai babak baru kerja sama, sorotan terhadap latar belakang Hegseth menunjukkan bahwa setiap langkah Pentagon di bawah kepemimpinannya akan terus dibaca secara politik, ideologis, dan strategis.

Baca selengkapnya di: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button