Iran Tantang AS Invasi Darat, Selat Hormuz Jadi Titik Paling Berbahaya

Pernyataan keras pejabat senior Iran Mohsen Rezaei terhadap Amerika Serikat kembali memanaskan situasi di Timur Tengah. Ia menantang Presiden AS Donald Trump untuk melancarkan invasi darat ke Iran dan menyebut langkah itu akan menjadi “hal besar”, sembari mengklaim kapal perang AS di Selat Hormuz kini berada dalam jangkauan serangan rudal Iran.

Rezaei, yang pernah menjabat panglima Korps Garda Revolusi Iran, menyampaikan ancaman itu di tengah meningkatnya ketegangan atas blokade militer AS di jalur perairan strategis tersebut. Dalam pernyataannya, sebagaimana dikutip NDTV pada Kamis, 16 April 2026, ia juga menegaskan bahwa Iran siap menghadapi perang jangka panjang jika konflik terus membesar.

Ancaman Iran di Selat Hormuz

Selat Hormuz kembali menjadi titik paling sensitif dalam rivalitas Washington dan Teheran. Jalur sempit ini menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi rute vital bagi pengiriman minyak dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan ini segera memicu kekhawatiran global.

Rezaei menyebut kapal-kapal perang AS di kawasan itu sudah masuk dalam jangkauan rudal Iran. Ia bahkan mengatakan peluncur rudal Iran kemungkinan telah dipindahkan untuk mengincar kapal perusak dan kapal induk AS, termasuk Abraham Lincoln, yang disebutnya berada dalam daftar target.

Pernyataan itu menambah tekanan pada situasi yang sejak awal memang rapuh. Iran sebelumnya sempat membatasi lalu lintas kapal selama lebih dari enam minggu perang, sebelum muncul gencatan senjata sementara selama dua minggu.

Tantangan ke Washington

Dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran, Rezaei mempertanyakan peran AS di Selat Hormuz. Ia menyebut Donald Trump "ingin menjadi polisi" di jalur pelayaran itu dan menanyakan apakah itu memang tugas militer Amerika Serikat.

Ucapan tersebut memperlihatkan sikap Tehran yang tidak hanya menolak kehadiran militer AS, tetapi juga berusaha menunjukkan bahwa Iran siap membalas dengan kekuatan asimetris. Di kawasan Teluk, pendekatan seperti ini kerap muncul dalam bentuk ancaman terhadap kapal perang, kapal tanker, dan jalur suplai energi.

Rezaei juga mengeluarkan ancaman yang lebih ekstrem dengan menyebut Iran dapat menangkap ribuan sandera. Meski terdengar sebagai retorika politik, pernyataan semacam itu biasanya dibaca sebagai sinyal bahwa Teheran ingin menaikkan biaya konflik bagi AS dan sekutunya.

Mengapa Invasi Darat Akan Jadi “Hal Besar”

Seruan Rezaei soal invasi darat bukan sekadar provokasi. Dalam konteks geopolitik, perang darat terhadap Iran akan jauh lebih kompleks dibanding serangan udara atau operasi laut karena wilayah Iran luas, topografi sulit, dan memiliki struktur militer yang tersebar.

Iran memiliki pengalaman panjang dalam perang berlarut-larut, termasuk perang dengan Irak pada 1980-an yang membentuk doktrin pertahanan nasionalnya hingga kini. Karena itu, ketika Rezaei mengatakan Iran siap untuk perang panjang, ia sedang menegaskan bahwa konflik darat akan memaksa AS menanggung biaya militer, logistik, dan politik yang sangat besar.

Bagi Washington, operasi darat di Iran juga hampir pasti memicu eskalasi regional. Risiko serangan balasan dapat meluas ke pangkalan AS di Timur Tengah, jalur pelayaran internasional, dan kepentingan sekutu Amerika di kawasan.

Tiga Risiko Besar Jika Konflik Melebar

  1. Gangguan energi global: Selat Hormuz adalah jalur penting ekspor minyak dunia, sehingga gangguan apa pun bisa memicu lonjakan harga energi.
  2. Serangan balasan terhadap aset AS: Kapal perang, pangkalan militer, dan aset logistik AS di kawasan berpotensi menjadi sasaran.
  3. Krisis keamanan regional: Konflik dapat menyeret negara-negara tetangga dan memperbesar risiko salah kalkulasi militer.

Ancaman itu juga menjelaskan mengapa setiap eskalasi di Selat Hormuz selalu mendapat perhatian pasar energi dan pemerintah negara-negara G7. Mereka khawatir gangguan di jalur tersebut bisa memperburuk ketidakpastian ekonomi global, terutama bila konflik mengancam suplai minyak.

Gencatan Senjata Masih Rapuh

Di tengah ancaman yang saling berbalas, gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran disebut masih sangat rapuh. Rezaei sendiri mengaku tidak setuju jika jeda pertempuran itu diperpanjang, meski ia mengatakan keputusan akhir tetap berada di tangan pihak berwenang Iran.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa ruang diplomasi belum tertutup, tetapi posisinya sangat lemah. Iran juga memberi sinyal akan lebih keras dalam perundingan lanjutan, termasuk dengan menegaskan bahwa Teheran yang akan menetapkan syarat awal, bukan Washington.

Rezaei bahkan memperingatkan pejabat Iran agar lebih berhati-hati dalam negosiasi ekonomi dengan AS. Ia menilai pihak Amerika justru takut menghadapi perang berkepanjangan, sementara Iran mengklaim sudah terbiasa dengan konflik jangka panjang.

Apa yang Terjadi di Lapangan

Blokade militer AS di Selat Hormuz terjadi setelah Iran sempat membatasi arus kapal selama konflik berlangsung. Langkah ini membuat jalur perdagangan energi dunia berada dalam situasi waspada, karena setiap kapal yang melintas bisa menjadi titik gesekan baru antara kedua pihak.

Dalam konteks ini, ancaman Rezaei bukan hanya ditujukan kepada Trump, tetapi juga kepada strategi tekanan maksimum yang selama ini sering dipakai Washington. Iran tampaknya ingin menegaskan bahwa jika jalur laut dipersempit, mereka juga memiliki kemampuan untuk mengacaukan operasi militer AS.

Ketegangan terbaru menunjukkan bahwa Selat Hormuz tetap menjadi salah satu titik paling berbahaya dalam peta keamanan global. Selama retorika perang, blokade, dan ancaman rudal terus bergulir, kawasan itu akan tetap berada di bawah bayang-bayang eskalasi yang bisa berubah cepat menjadi konflik besar.

Source: www.viva.co.id
Exit mobile version