Warga Turkiye berduka setelah serangan bersenjata di sebuah sekolah di provinsi Kahramanmaras menewaskan sedikitnya 10 orang, termasuk delapan siswa dan seorang guru matematika. Pemakaman para korban pada hari Kamis menjadi momen pilu yang memperlihatkan betapa dalamnya luka masyarakat setelah negara itu diguncang penembakan sekolah kedua hanya dalam dua hari.
Suasana duka di Kahramanmaras
Jenazah para korban dibawa ke pemakaman dengan iringan tangis keluarga dan warga yang datang untuk memberi penghormatan terakhir. Di dekat masjid utama kota Kahramanmaras, seorang ayah terlihat duduk diam di samping peti jenazah putrinya yang berusia 10 tahun, Zeynep, dalam prosesi yang dilaporkan AFP.
Di tengah suasana itu, seorang warga bernama Vezir Yucel menggambarkan kesedihan yang dirasakan banyak keluarga. “Our grief is endless. These children were like our own. They were all innocent,” ujarnya, menegaskan bahwa korban adalah anak-anak yang tak terlibat dalam konflik apa pun.
Korban terus bertambah
Pihak berwenang menyebut satu korban lagi meninggal di rumah sakit pada hari Kamis setelah sempat menjalani perawatan intensif. Enam korban luka lainnya dilaporkan masih dalam kondisi kritis, sehingga jumlah korban jiwa berpotensi bertambah jika kondisi mereka memburuk.
Penembakan terjadi di Ayser Calik School ketika seorang siswa berusia 14 tahun, Isa Aras Mersinli, melepaskan tembakan ke dua ruang kelas. Menurut laporan resmi, pelaku kemudian ditemukan tewas, sementara Menteri Dalam Negeri Mustafa Ciftci menyatakan senjata yang digunakan diduga milik ayah pelaku yang merupakan mantan perwira polisi.
Gelombang kekhawatiran soal keamanan sekolah
Serangan ini datang hanya dua hari setelah penembakan di sebuah sekolah menengah di provinsi Sanliurfa di tenggara, yang dilakukan oleh mantan siswa dan melukai 16 orang. Hingga Kamis, sebanyak 20 orang telah ditahan terkait serangan di Sanliurfa, menandakan aparat bergerak cepat menyelidiki kemungkinan keterkaitan dan motif di balik rentetan kekerasan tersebut.
Pemerintah Turkiye merespons dengan menggelar rapat keamanan sekolah bersama di Ankara pada hari Kamis. Pertemuan itu dihadiri menteri dalam negeri, menteri pendidikan, seluruh 81 gubernur provinsi, kepala kepolisian, dan direktur pendidikan provinsi untuk membahas peningkatan pengamanan di lingkungan sekolah.
Detik-detik panik dan kesaksian warga
Sejumlah warga menceritakan bagaimana suara tembakan memicu kepanikan di lingkungan sekolah. Nilgun Ruci, ibu rumah tangga berusia 55 tahun, mengatakan dirinya bergegas ke Ayser Calik School setelah mendengar suara tembakan dan menemukan anak tetangga dalam kondisi luka parah.
Ruci menuturkan bahwa korban mengalami luka tembak di kaki dan bahu. Awalnya ia mengira anak itu pingsan, namun kemudian mengetahui bahwa korban meninggal dunia.
Langkah darurat setelah dua serangan beruntun
Rentetan kejadian ini memicu kekhawatiran yang lebih luas tentang akses senjata, pengawasan sekolah, dan potensi peniruan serangan di media sosial. Otoritas Turkiye menyebut puluhan pelajar ditangkap pada hari Kamis karena dugaan unggahan yang mengisyaratkan kemungkinan melakukan serangan serupa.
Menteri Kehakiman Akin Gurlek mengatakan 67 pengguna media sosial ditahan karena unggahan yang menargetkan 54 sekolah berbeda. Berikut rangkuman fakta penting dari kejadian ini:
- Serangan di Kahramanmaras menewaskan sedikitnya 10 orang.
- Delapan siswa dan seorang guru matematika termasuk di antara korban tewas.
- Satu korban tambahan meninggal saat dirawat di rumah sakit.
- Enam korban luka dilaporkan masih dalam kondisi kritis.
- Pelaku diduga menggunakan senjata milik ayahnya, mantan polisi.
- Pemerintah menggelar rapat keamanan sekolah nasional di Ankara.
- Sebanyak 67 pengguna media sosial ditahan terkait unggahan yang dinilai mengancam sekolah.
Di tengah duka yang belum mereda, keluarga korban dan masyarakat Turkiye kini menghadapi pertanyaan besar tentang bagaimana sekolah bisa tetap aman setelah dua serangan terjadi dalam waktu berdekatan. Pemerintah juga berada di bawah tekanan untuk memperketat pengawasan, meninjau kepemilikan senjata, dan mencegah ancaman serupa muncul kembali di ruang publik maupun media sosial.
