Ketegangan antara Donald Trump dan Paus Leo XIV memicu kemarahan sebagian umat Katolik di Amerika Serikat. Mereka menilai kritik Trump kepada pemimpin Gereja Katolik itu sudah melewati batas, terutama setelah Presiden AS tersebut menyebut Paus sebagai “lemah”.
Perselisihan ini tidak hanya menyentuh urusan pribadi, tetapi juga merembet ke isu perang Iran, imigrasi, dan penggunaan kecerdasan buatan. Bagi sejumlah umat Katolik, serangan verbal Trump terhadap Paus Leo memantik pertanyaan tentang batas kritik politik terhadap otoritas moral agama.
Kritik yang dianggap terlalu jauh
Paus Leo, yang lahir di Chicago, sebelumnya menegaskan bahwa dirinya punya tanggung jawab moral untuk berbicara menentang perang dan kekerasan. Pernyataan itu menjadi salah satu titik yang memanaskan hubungan keduanya, karena Trump menanggapinya dengan nada menyerang.
Jim Supp, pensiunan profesor berusia 88 tahun di New York, mengecam keras sikap Trump. Ia mengatakan, “Untuk orang seperti Trump mempertanyakan pandangan teologis seorang imam adalah hal yang tidak masuk akal.”
Jim juga menyoroti unggahan Trump berupa gambar berbasis AI yang menampilkan dirinya menyerupai Yesus Kristus, sebelum akhirnya dihapus. Menurutnya, ada hal-hal yang tidak pantas dijadikan bahan lelucon.
John O’Brian, 68 tahun, menyebut unggahan itu sebagai bentuk penistaan bagi umat Kristiani. Di saat yang sama, Paus Leo juga sempat mengingatkan bahaya penyalahgunaan teknologi AI, meski tanpa menyinggung Trump secara langsung.
Pemicu dari isu Iran dan kebijakan luar negeri
Salah satu sumber ketegangan datang dari pernyataan Paus Leo yang mengkritik ancaman Trump terhadap Iran. Paus menilai ancaman itu sebagai tindakan yang tidak dapat diterima, sedangkan Trump membalas dengan menyebut Paus lemah dalam isu keamanan dan kebijakan luar negeri.
Benturan ini memperlihatkan perbedaan tajam antara pendekatan moral dan pendekatan politik. Di satu sisi, Paus berbicara dari sudut pandang kemanusiaan, sementara Trump menekankan lini keamanan dan kepentingan strategis.
Secara historis, presiden AS biasanya berhati-hati saat mengomentari Paus. Sikap itu muncul karena pemilih Katolik memiliki bobot politik yang penting, tetapi Trump tampak mengambil jalur berbeda meski ia meraih dukungan mayoritas pemilih Katolik pada Pemilu 2024.
Respons umat Katolik terbelah
Reaksi umat Katolik di AS tidak seragam, karena ada yang marah namun ada pula yang tetap mendukung Trump. Sebagian menilai Paus Leo justru menunjukkan sikap tegas yang dibutuhkan untuk menghadapi pemerintahan yang dinilai terlalu agresif.
Carolina Herrera, 22 tahun, mengatakan dirinya senang karena Paus Leo tetap teguh dan tidak takut terhadap pemerintah. Pandangan ini mencerminkan dukungan dari umat yang menilai otoritas moral Gereja harus tetap berdiri di luar tekanan politik.
Di sisi lain, ada pula umat Katolik yang menilai keduanya sama-sama terlalu keras. Seorang jemaat di Texas yang enggan disebutkan namanya mengatakan, “Saya rasa keduanya tidak bersikap sebagaimana mestinya.”
Di kubu pendukung Trump, pembelaan juga tetap kuat. Brenda Gifford menyatakan tidak lagi menghormati Paus, sementara Armando Azpeitia menilai Trump tetap mengutamakan kepentingan rakyat Amerika meski berbeda pandangan dengan Paus.
Anthony Clark, aktivis kebijakan berusia 20 tahun, mencoba melihat dari sisi lain. Ia menilai Trump memiliki niat baik, tetapi sering tidak bijak dalam menyampaikan pendapat.
Dampak politik yang ikut membesar
Pertikaian ini kini dipandang bukan sekadar konflik antara seorang presiden dan pemimpin agama. Ketegangan tersebut juga dinilai bisa menjadi celah politik bagi Partai Republik, terutama jika perdebatan ini terus memengaruhi persepsi pemilih Katolik menjelang pemilu paruh waktu.
Pada saat yang sama, perdebatan soal perang, imigrasi, dan AI membuat konflik ini terasa lebih luas daripada sekadar saling sindir. Umat Katolik yang marah melihat persoalan ini sebagai ujian bagi etika publik, sedangkan pendukung Trump menilainya sebagai benturan biasa dalam politik yang keras.
Di tengah polemik itu, posisi Paus Leo tetap mendapatkan simpati dari mereka yang menginginkan suara moral yang lebih tegas. Sementara itu, ucapan dan unggahan Trump terus memicu perdebatan tentang batas kritik, penghormatan terhadap pemimpin agama, dan cara politik modern memperlakukan otoritas spiritual.
Source: www.beritasatu.com






