Jejak ChatGPT Dalam Pembunuhan Dua Mahasiswa Florida, Pertanyaan Kunci Yang Kini Memburu Suspek

Penyidikan atas kematian dua mahasiswa doktoral Universitas South Florida memasuki arah baru setelah jaksa menyebut tersangka diduga menanyakan ChatGPT soal cara membuang mayat sebelum kedua mahasiswa itu menghilang. Pengungkapan ini membuat perhatian tidak hanya tertuju pada kasus pembunuhan, tetapi juga pada bagaimana percakapan dengan chatbot bisa menjadi bagian dari barang bukti dalam investigasi kriminal.

Hisham Abugharbieh, 26 tahun, adalah rekan sekamar Zamil Limon dan kemudian didakwa atas dua tuduhan pembunuhan berencana tingkat pertama dengan senjata api. Ia diperintahkan ditahan tanpa jaminan, sementara penyidik mengaitkan riwayat pencarian OpenAI miliknya dengan hilangnya Limon dan sang kekasih, Nahida Bristy.

Riwayat ChatGPT yang menjadi sorotan

Dalam laporan penahanan praperadilan yang diajukan jaksa, percakapan Abugharbieh dengan ChatGPT disebut memuat serangkaian pertanyaan yang terkait senjata dan pembuangan tubuh. Beberapa hari sebelum Limon dan Bristy terakhir terlihat pada 16 April, ia dituduh bertanya apa yang terjadi jika tubuh manusia dimasukkan ke kantong sampah lalu dibuang ke tempat pembuangan.

Jaksa juga menuliskan bahwa Abugharbieh bertanya apakah nomor identifikasi kendaraannya bisa diubah dan apakah ia bisa menyimpan pistol di rumah tanpa lisensi. Menurut laporan itu, ChatGPT menanggapi bahwa pertanyaannya terdengar berbahaya.

Tiga hari setelah kedua mahasiswa itu hilang, Abugharbieh kembali mengajukan pertanyaan yang lebih mengarah pada kekerasan, termasuk apakah ada orang yang selamat dari peluru sniper di kepala dan apakah tetangga akan mendengar suara pistolnya. Empat hari kemudian, pada 23 April, ia disebut bertanya lagi, “What does missing endangered adult mean.”

Barang bukti digital dalam penyidikan

Kasus ini menegaskan bahwa catatan chatbot kini diperlakukan serupa dengan pesan teks, surel, atau riwayat pencarian biasa. Dalam proses penyelidikan, data semacam itu dapat diminta aparat penegak hukum dan dipakai untuk membangun kronologi tindakan seseorang.

Juru bicara OpenAI, Drew Pusateri, mengatakan perusahaan sedang meninjau laporan terkait Abugharbieh dan akan mendukung penegak hukum dalam penyidikan. Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya sorotan terhadap kewajiban perusahaan teknologi ketika produk kecerdasan buatan mereka diduga dipakai dalam tindak pidana.

Gema dari kasus lain di Florida

Kasus di Tampa ini juga berkaitan dengan penyelidikan lain di Florida yang menyita perhatian publik. Jaksa Agung Florida James Uthmeier pekan lalu mengumumkan penyelidikan pidana yang jarang terjadi untuk menilai apakah ChatGPT memberi saran kepada penembak yang menewaskan dua orang dan melukai enam lainnya di Florida State University.

Dalam penjelasannya, Uthmeier mengatakan jaksa telah meninjau log percakapan antara ChatGPT dan tersangka penembakan, Phoenix Ikner, untuk melihat apakah aplikasi AI itu membantu, mendorong, atau mengarahkan tindak kejahatan. Ia menyebut penyelidikan tersebut sebagai wilayah yang belum terpetakan, lalu pada Senin mengatakan kasus Abugharbieh akan dimasukkan dalam perluasan penyelidikan itu.

OpenAI sendiri sebelumnya menyatakan bahwa dalam kasus FSU, ChatGPT hanya memberi jawaban faktual dari informasi yang tersedia luas di internet dan tidak mendorong aktivitas ilegal atau berbahaya. Perusahaan juga menyebut telah menyerahkan informasi kepada penegak hukum dan terus bekerja sama dengan penyidik.

Tekanan hukum terhadap pengembang chatbot

Di luar Florida, sejumlah perkara lain ikut memperkuat kekhawatiran tentang dampak chatbot pada keamanan publik dan kesehatan mental. Ada gugatan terhadap Google terkait kematian akibat bunuh diri seorang anak, serta gugatan terhadap OpenAI yang menuduh chatbot berperan dalam kematian seorang perempuan Connecticut berusia 83 tahun.

Dalam perkara pidana lain, puluhan pesan antara mantan linebacker New York Jets Darron Lee dan ChatGPT juga dipakai jaksa saat menjelaskan kematian pacarnya, Gabriella Perpetuo, yang ditemukan tewas di rumah mereka di Tennessee. Sebelum korban ditemukan, jaksa mengatakan Lee sempat bertanya apakah luka tertentu bisa tampak seperti akibat jatuh, di antara pertanyaan tidak biasa lainnya.

Rangkaian kasus itu menunjukkan bahwa percakapan dengan chatbot kini tidak lagi dipandang sekadar interaksi privat dengan mesin. Dalam penyidikan kematian dua mahasiswa Florida ini, log ChatGPT justru menjadi petunjuk utama yang membantu jaksa membaca kemungkinan langkah tersangka sebelum dua korban dinyatakan hilang.

Exit mobile version