Perkembangan terbaru perang di Timur Tengah menunjukkan eskalasi yang masih jauh dari mereda, dengan tekanan militer, diplomatik, dan ekonomi bergerak bersamaan. Di tengah situasi itu, Amerika Serikat, Israel, Iran, Lebanon, dan perusahaan energi global sama-sama merasakan dampaknya.
Laporan Wall Street Journal menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah meminta pejabat keamanan nasional menyiapkan blokade panjang terhadap pelabuhan Iran untuk menekan Teheran agar meninggalkan program nuklirnya. Trump, menurut laporan itu, juga menilai Iran tidak bernegosiasi dengan itikad baik dan ingin memaksa negara itu menghentikan pengayaan uranium selama 20 tahun serta menerima pembatasan ketat setelahnya.
Sikap keras Trump terhadap Iran
Nada keras Trump kembali muncul di media sosial. Di platform Truth Social, ia menulis bahwa Iran “can’t get their act together” dan perlu segera “get smart,” sambil mengunggah gambar dirinya memegang senapan serbu dengan tulisan “NO MORE MR. NICE GUY!”
Dalam pernyataan lain saat jamuan kenegaraan di Gedung Putih bersama Raja Charles III, Trump mengatakan Iran telah “militarily defeated.” Ia menambahkan, “We have militarily defeated that particular opponent,” dan menegaskan bahwa pihaknya tidak akan membiarkan lawan itu memiliki senjata nuklir.
Korban dan penindakan di Iran
Di dalam negeri, Iran disebut menghadapi gelombang penindakan besar sejak perang dimulai. Kantor hak asasi manusia PBB menyatakan setidaknya 21 orang telah dieksekusi dan lebih dari 4.000 orang ditangkap, sambil mengecam perlakuan pemerintah Iran yang dinilai “harsh and brutal.”
PBB juga menyebut setidaknya sembilan orang dieksekusi terkait protes Januari 2026, sepuluh orang karena diduga menjadi anggota kelompok oposisi, dan dua orang atas tuduhan spionase. Data itu memperlihatkan bagaimana konflik regional ikut memicu tekanan domestik yang berat di Iran.
Serangan di Lebanon dan situasi gencatan senjata
Di sektor lain, Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan serangan Israel pada Selasa menewaskan delapan orang, termasuk petugas penyelamat pertahanan sipil, serta melukai dua tentara di selatan negara itu. Serangan itu tetap terjadi meski gencatan senjata masih berlaku, menandakan rapuhnya jeda kekerasan di perbatasan.
Israel disebut terus berperang melawan Hezbollah sejak awal Maret, dengan pasukan dikerahkan ke Lebanon selatan untuk menghadapi kelompok militan yang didukung Iran itu. Kekerasan tersebut masih berlanjut meski ada gencatan senjata yang goyah pada 17 April.
Dampak ke energi global
Konflik juga langsung memukul pasar minyak. Harga minyak naik setelah muncul laporan bahwa Trump kemungkinan tidak akan menerima proposal Iran untuk memulihkan lalu lintas di Selat Hormuz, sementara Qatar memperingatkan kemungkinan terjadinya “frozen conflict.”
Brent berada di atas level sebelum gencatan senjata awal April, sedangkan West Texas Intermediate sempat menembus $100 pada Selasa untuk pertama kalinya dalam dua minggu. Pada perdagangan Rabu, kedua kontrak itu masih bergerak naik, dengan Brent bertahan di atas $113 dan WTI di atas $101.
Dampak ekonomi perang itu turut terlihat pada kinerja TotalEnergies. Perusahaan energi asal Prancis itu melaporkan laba bersih kuartal pertama naik 51 persen menjadi $5.8 miliar, didorong kenaikan harga minyak yang terkait dengan perang di Timur Tengah.
Gangguan di operasi energi kawasan
TotalEnergies juga menyebut telah memulai kembali kilang Satorp di Arab Saudi pada pertengahan April. Fasilitas yang dimiliki bersama Aramco itu sempat dihentikan setelah mengalami kerusakan akibat serangan udara selama perang di Timur Tengah.
Perusahaan mengatakan bahwa setelah peristiwa 8 April yang memengaruhi tiga unit di lokasi Satorp dan memicu penutupan sebagai tindakan pencegahan, unit yang tidak rusak dapat dioperasikan kembali. Sejak 14 April, kilang itu berjalan dengan kapasitas 230.000 barel per hari.
Tekanan politik di Washington
Di Amerika Serikat, perang ini juga memicu pertanyaan keras dari legislatif. Menteri Pertahanan Pete Hegseth akan menghadapi pertanyaan sulit dari anggota Kongres dalam kesaksian pertamanya sejak konflik dimulai, saat ia hadir di hadapan House Armed Services Committee.
Sidang itu digelar untuk membahas permintaan anggaran pertahanan Trump senilai $1.5 triliun, dan sejumlah anggota parlemen dari dua partai sebelumnya menyatakan ketidakpuasan atas informasi yang mereka terima dalam pembaruan rahasia soal perang. General Dan Caine juga dijadwalkan memberi kesaksian dalam sidang yang diperkirakan berlangsung panas itu.
