Ketegangan perang di Timur Tengah terus bergerak cepat dan memicu dampak yang meluas, mulai dari ancaman militer baru, gangguan jalur pelayaran, hingga lonjakan harga energi. Dalam perkembangan terbaru, Israel kembali melontarkan peringatan keras kepada Iran, sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa menyoroti efek ekonomi global yang makin terasa akibat terganggunya Selat Hormuz.
Situasi ini juga menyeret Lebanon, Amerika Serikat, dan Eropa ke dalam perdebatan yang lebih luas soal keamanan kawasan dan stabilitas energi dunia. Di saat yang sama, para pejabat energi dan iklim memperingatkan bahwa perang ini memperlihatkan rapuhnya sistem energi global dan memperkuat kebutuhan untuk mempercepat transisi ke energi bersih.
Israel kembali beri peringatan kepada Iran
Menteri Pertahanan Israel mengatakan negaranya mungkin segera harus “bertindak lagi” terhadap Iran agar republik ইসলাম itu tidak kembali menjadi ancaman bagi Israel. Dalam pernyataannya, Israel Katz menyebut Presiden AS Donald Trump, bersama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, memimpin upaya untuk memastikan Iran tidak lagi menjadi ancaman bagi Israel, Amerika Serikat, dan dunia bebas.
Pernyataan itu menegaskan bahwa konflik belum mereda meski tekanan diplomatik terus berlangsung. Nada keras dari Tel Aviv menunjukkan bahwa opsi militer tetap terbuka bila Israel menilai ancaman dari Iran belum sepenuhnya hilang.
Selat Hormuz jadi titik tekan ekonomi global
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan bahwa penutupan efektif Selat Hormuz akibat perang Iran telah menekan ekonomi dunia. Ia menyebut penutupan jalur air vital itu “mencekik ekonomi global” dan menambah risiko terhadap pasokan energi internasional.
Pernyataan itu mencerminkan kekhawatiran yang makin besar di pasar dan lembaga internasional. Selat Hormuz memang menjadi jalur penting bagi pengiriman minyak, sehingga setiap gangguan di kawasan ini cepat berdampak ke harga energi dan stabilitas ekonomi negara-negara importir.
Iran menolak kehadiran AS di kawasan
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa kendali Iran atas Selat Hormuz akan membawa kawasan menuju masa depan tanpa kehadiran Amerika Serikat. Ia mengatakan Iran ingin memberikan “anugerah berharga” berupa masa depan yang bebas dari kehadiran dan campur tangan Washington.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menolak gagasan blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran. Ia menyebut setiap upaya memberlakukan blokade atau pembatasan maritim bertentangan dengan hukum internasional dan “ditakdirkan gagal”.
Korban sipil kembali jatuh di Lebanon
Serangan Israel di tiga desa di Lebanon selatan menewaskan sembilan orang, termasuk dua anak dan lima perempuan, menurut kementerian kesehatan Lebanon. Serangan itu terjadi hampir dua pekan setelah gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah yang didukung Iran berlaku.
Presiden Lebanon Joseph Aoun mengecam “pelanggaran Israel yang terus berlanjut” di Lebanon selatan. Ia mengatakan penghancuran rumah dan tempat ibadah juga masih terjadi, sementara jumlah korban luka dan tewas terus bertambah dari hari ke hari.
Aoun meminta tekanan internasional agar Israel mematuhi hukum dan konvensi internasional. Ia juga menuntut agar serangan terhadap warga sipil, paramedis, pertahanan sipil, serta organisasi bantuan dan kesehatan dihentikan.
Harga minyak melonjak, tekanan ekonomi meningkat
Dampak perang langsung terasa di pasar energi. Harga minyak sempat melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun, dengan Brent untuk pengiriman Juni naik lebih dari tujuh persen ke 126,41 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate naik 3,4 persen ke 110,31 dolar AS sebelum kemudian memangkas kenaikan.
Kepala Badan Energi Internasional, Fatih Birol, menyebut dunia menghadapi “tantangan energi dan ekonomi besar” akibat lonjakan harga minyak. Ia juga mengatakan dunia kini berada dalam “krisis energi terbesar dalam sejarah”, dengan harga minyak memberi tekanan besar pada banyak negara.
Tekanan geopolitik ikut melebar ke Eropa
Di luar Timur Tengah, dinamika perang ini ikut memicu gesekan antara AS dan Jerman. Trump mengatakan Amerika Serikat mempertimbangkan untuk mengurangi pasukannya di Jerman setelah Kanselir Friedrich Merz menolak bergabung dalam perang Washington melawan Iran.
Ancaman itu disebut mencakup sekitar 35.000 hingga 50.000 tentara AS yang ditempatkan di Jerman. Sikap Trump memperlihatkan bahwa perang di Timur Tengah juga memengaruhi hubungan di dalam aliansi Barat, termasuk perdebatan tentang biaya keamanan dan posisi politik masing-masing negara.
Uni Eropa kemudian menanggapi dengan menegaskan bahwa pengerahan pasukan AS di Eropa juga menguntungkan Washington. Juru bicara UE Anitta Hipper menambahkan bahwa para sekutu NATO kini meningkatkan belanja pertahanan mereka pada laju yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Seruan transisi energi makin menguat
Di tengah gejolak ini, Presiden terpilih COP31 dari Turki, Murat Kurum, mengatakan krisis energi global menunjukkan perlunya dunia mengubah sistem energi dan mempercepat transisi ke energi bersih. Ia menegaskan bahwa ekonomi global kini harus mengubah paradigma energinya.
Pernyataan itu sejalan dengan kekhawatiran yang muncul dari lonjakan harga minyak dan gangguan pasokan akibat perang. Situasi di Timur Tengah kembali memperlihatkan bahwa konflik bersenjata tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga pada perdagangan, energi, dan kebijakan ekonomi global yang saling terhubung.
