Petra Sepi Dari Wisatawan, Krisis Timur Tengah Mengosongkan Rose City Yordania

Author: Qoo Media

Petra, permata kuno Yordania yang dipahat di batu pasir merah muda, kini tampak lengang setelah perang di Timur Tengah meletus. Di situs warisan dunia UNESCO yang biasanya dipadati wisatawan itu, para pelancong yang tersisa justru bisa menikmati suasana yang jarang terjadi: hampir sendirian.

Bagi sebagian wisatawan, justru kondisi sepi itu menjadi daya tarik. Ruslana Novak dari Ukraina mengatakan ia dan temannya melihat Petra hampir sepenuhnya milik mereka sendiri, sementara wisatawan Meksiko Constanza Venian menyebut dirinya beruntung memilih waktu yang tepat untuk datang.

Kecemasan wisatawan, tapi Yordania dinilai aman

Sejumlah wisatawan mengaku sempat mempertimbangkan membatalkan perjalanan setelah serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran memicu konflik yang lebih luas di kawasan. Namun, mereka yang tetap berangkat mengatakan rasa takut itu mereda setelah mencari informasi dan mendengar langsung bahwa Yordania tetap aman.

Novak menyebut Yordania sebagai negara yang sangat tenang dan aman. Venian juga mengatakan ia membaca tentang Yordania, bertanya di grup Facebook, dan mendapat jawaban yang sama: negara itu aman untuk dikunjungi.

Industri wisata terpukul keras

Di pintu masuk Petra, suasana jauh dari ramai. Para penjual suvenir menunggu pembeli di depan kios mereka, sementara keledai dan kuda yang biasanya dipakai wisatawan juga terlihat menganggur.

Khalid al-Saidat, pemilik toko berusia 36 tahun, mengatakan situasi itu mencerminkan runtuhnya pariwisata di Yordania. Ia menyebut perang di Gaza sudah memicu penurunan wisata sebesar 80 hingga 90 persen, lalu konflik Iran membuat jumlah wisatawan asing turun hampir nol.

Ia mengatakan para pedagang kini membuka lapak setiap hari tanpa tahu apakah pendapatan mereka cukup untuk bertahan hidup. Beberapa hotel bahkan disebut mulai mempertimbangkan penutupan karena gelombang pembatalan terus terjadi.

Angka kunjungan anjlok tajam

Menurut data resmi, pariwisata menyumbang 14 persen dari produk domestik bruto Yordania. Sektor ini juga menopang 60.000 pekerja langsung dan 300.000 orang lain yang bergantung padanya.

Tahun lalu, lebih dari tujuh juta pengunjung menghasilkan pendapatan sebesar 7,8 miliar dolar AS. Namun, di Petra, awal tahun yang sempat menjanjikan berubah cepat setelah perang berdampak langsung pada arus wisatawan.

Adnan al-Sawair, ketua dewan komisioner otoritas pariwisata Petra, mengatakan Yordania mencatat 112.000 wisatawan asing dalam dua bulan pertama, sebuah awal yang sangat baik. Tetapi pada Maret dan April, jumlah pengunjung Petra turun menjadi antara 28.000 hingga 30.000 orang.

Upaya lokal belum banyak membantu

Otoritas setempat sudah meluncurkan program untuk mendorong wisata domestik. Meski begitu, Sawair menilai dampaknya masih sangat kecil karena sektor ini terutama bergantung pada rombongan wisatawan asing.

Menurut asosiasi agen perjalanan nasional, kalender pemesanan sebelum perang sempat hampir penuh. Setelah konflik memburuk, pemesanan itu menghilang begitu cepat dan menyeret sekitar 1.400 pemandu berlisensi ke dalam krisis.

Situasi serupa terlihat di lokasi wisata lain seperti Jerash, sekitar 50 kilometer di utara Amman. Pemandu lokal Amer Nizami mengatakan ia semula berharap musim terbaik sejak pandemi pada 2020, tetapi kini nyaris tidak ada wisatawan lagi.

Dampak merembet ke situs wisata lain

Nizami mengatakan dulu sekitar 5.000 wisatawan asing bisa datang setiap hari ke Jerash. Sekarang, jumlah itu bisa dihitung dengan jari, dan ia menyebut terakhir kali mendapat tur berbayar di sana terjadi sekitar 20 hari lalu.

Ia menambahkan bahwa setiap krisis regional hampir selalu menghentikan pariwisata di Yordania, meski negara itu sendiri tidak punya masalah langsung. Di tengah kondisi itu, pedagang suvenir Ibrahim al-Atmeh juga memilih menutup lapaknya lebih awal karena kurangnya pelanggan.

Yordania sendiri tidak memiliki pangkalan militer asing, tetapi memiliki kontingen terbatas dari beberapa negara di bawah perjanjian pertahanan dan kerja sama kolektif. Sejak perang dimulai, puing drone dan rudal juga sempat jatuh di wilayah kerajaan itu, sementara militer Yordania mengatakan 281 rudal dan drone Iran ditembakkan ke negara tersebut hingga awal gencatan senjata pada April, dengan sebagian besar berhasil dicegat.

Terbaru