Ketegangan kembali membayangi Old City di Yerusalem Timur saat Flag March Israel kembali digelar dengan pengamanan ketat dan bentrokan yang sudah pecah bahkan sebelum arak-arakan resmi dimulai. Di tengah demonstrasi dukungan terhadap kelompok sayap kanan, warga Palestina menghadapi pembatasan masuk, serangan di kawasan Kristen, dan suasana yang oleh sejumlah aktivis disebut makin ekstrem sejak 7 Oktober.
Pawai tahunan ini berlangsung dalam rangka Jerusalem Day, yang diperingati warga Israel untuk merayakan perebutan Yerusalem pada 1967 dan pendudukan yang kemudian dinilai ilegal. Dalam praktiknya, acara itu menjadi ajang mobilisasi ribuan peserta dari berbagai wilayah Israel dan Tepi Barat yang diduduki, lalu bergerak melintasi Old City sambil meneriakkan slogan anti-Palestina.
Bentrok sebelum pawai resmi dimulai
Pada hari pelaksanaan, bentrokan terjadi lebih awal ketika sejumlah warga Israel ultranasionalis, banyak di antaranya remaja, menyerang warga Palestina di Christian Quarter. Mereka merusak properti, sementara polisi Israel memaksa pemilik toko Palestina menutup usaha mereka.
Banyak toko Palestina lain sudah lebih dulu tutup karena khawatir terhadap serangan dan pelecehan. Uri Weltmann, direktur lapangan nasional Standing Together, mengatakan ia tegang sejak awal karena organisasinya bersiap menghadang puluhan ribu peserta sayap kanan yang menuju Old City.
Standing Together, yang beranggotakan aktivis Yahudi dan Palestina, mengerahkan sekitar 200 aktivis berbaju rompi ungu. Mereka mencoba berdiri di antara para peserta pawai dan warga Palestina, tetapi berulang kali ikut diserang.
Slogan kebencian dan dukungan politik
Para peserta pawai kembali meneriakkan slogan anti-Palestina seperti “May your village burn” dan “Death to Arabs”. Mereka juga dilaporkan meludah dan melempar hinaan kepada warga Palestina dalam pawai yang kerap diwarnai tindakan intimidasi terbuka.
Pihak kepolisian sejauh ini menangkap 13 orang, termasuk warga Yahudi dan Palestina. Namun banyak pengamat menilai respons aparat selama ini cenderung pasif, dengan sedikit tindakan untuk mencegah serangan terhadap warga Palestina dan minim hukuman bagi pelaku dari kalangan Yahudi Israel.
Kelompok ultranasionalis yang terlibat dalam pawai disebut mendapat dukungan penuh dari pemerintah Israel. Pada hari yang sama, Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir memimpin rombongan besar warga Yahudi Israel memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa dan mengibarkan bendera Israel di depan Dome of the Rock.
Reaksi regional dan status quo Al-Aqsa
Yordania mengecam tindakan Ben-Gvir dan menyebutnya sebagai “pelanggaran nyata terhadap hukum internasional, provokasi yang tak dapat diterima, dan pelanggaran terang-terangan atas status quo historis dan hukum”. Negara itu mengelola Departemen Waqf Yerusalem yang mengawasi situs-situs suci di Yerusalem Timur yang diduduki berdasarkan kesepakatan lama.
Bagi Palestina, Yerusalem Timur adalah ibu kota yang mereka inginkan untuk negara masa depan. Karena itu, kehadiran pejabat Israel di area paling sensitif di kota itu selalu memicu ketegangan politik dan keagamaan.
Kekerasan yang dianggap melekat
Weltmann menilai kekerasan dan retorika anti-Palestina pada Jerusalem Day sudah meningkat seiring menguatnya gerakan ultranasionalis sayap kanan di Israel sebelum 2023. Ia juga menyebut kepolisian yang diawasi Ben-Gvir ikut menjadi faktor yang mendorong kekerasan, karena tanggung jawab pengamanan sering bertabrakan dengan keterlibatan aktif sang menteri.
Tahun lalu, ribuan peserta sayap kanan dan ultra-Ortodoks membanjiri kota dan menyerang warga Palestina sambil meneriakkan slogan rasis. Haaretz menggambarkan peristiwa itu sebagai undangan yang disponsori negara bagi kelompok ultranasionalis untuk memasuki Muslim Quarter, merusak papan toko, mematahkan kunci, memukul pintu logam dengan tiang bendera, dan menempelkan stiker rasis di banyak bagian Old City.
Eram Tzidkiyahu, peneliti hubungan Yahudi-Arab, menyebut ada unsur konfrontasi yang sangat kuat dalam pawai tersebut. Menurut dia, inti peristiwanya bukan sekadar merayakan kemenangan sendiri, melainkan melakukannya di ruang hidup pihak yang kalah.
Akar politik yang lebih panjang
Sejumlah analis menautkan menguatnya Religious Zionism dengan perubahan sejak penarikan Israel dari Gaza pada 2005. Mereka mengatakan banyak pemukim Yahudi mulai merasa wilayah yang direbut pada 1967, termasuk Gaza, Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Dataran Tinggi Golan, berada dalam ancaman.
Mereka juga menilai arus Religious Zionist kemudian dimanfaatkan Benjamin Netanyahu dan partai Likud yang pro-pemukim untuk mempertahankan kekuasaan. Setelah serangan 7 Oktober, dinamika itu disebut ikut menjadi landasan perang Israel di Gaza yang telah menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina.
Di bawah pemerintahan Netanyahu dan Menteri Keuangan sayap kanan Bezalel Smotrich, jumlah permukiman ilegal di Tepi Barat yang diduduki dilaporkan meningkat. Kelompok muda pemukim radikal yang menyebut diri Hilltop Youth juga makin terlihat dan dinilai menikmati impunitas yang lebih besar.
Cermin masyarakat Israel
Ofer Cassif dari partai kiri Hadash mengatakan Flag March selalu menjadi acara yang penuh kekerasan dan dalam beberapa tahun terakhir menjadi lebih brutal, terutama sejak 7 Oktober. Ia menuduh pemerintah Netanyahu yang ia sebut “fasis” ikut mendorong atmosfer tersebut.
Cassif juga menyebut kepolisian Israel sebagai “milisi pribadi” Ben-Gvir yang gagal menghentikan kekerasan, penganiayaan, penghancuran toko, dan serangan terhadap warga Palestina di Old City maupun di seluruh kota. Sementara itu, Aviv Tatarsky dari kelompok Ir Amim menilai penting untuk tidak memisahkan Ben-Gvir dari arus utama politik dan masyarakat Israel.
Tatarsky mengatakan banyak liberal Israel mudah menepis Ben-Gvir sebagai badut, padahal menurutnya tokoh itu adalah bagian dari Israel saat ini. Ia menilai pemerintah dan masyarakat yang dipimpin arus tersebut tetap memprioritaskan pengusiran warga Palestina di mana pun mereka berada.
