Aktivis dari armada bantuan menuju Gaza menuduh mengalami pelecehan berat selama ditahan di Israel, termasuk setidaknya 15 laporan kekerasan seksual atau pemerkosaan. Tuduhan ini muncul setelah ratusan orang dideportasi dari Israel dan memicu sorotan baru terhadap perlakuan terhadap para aktivis yang dibawa dari laut lepas.
Organisers Global Sumud Flotilla mengatakan beberapa aktivis juga dirawat di rumah sakit karena luka-luka. Di Italia, sumber hukum menyebut jaksa sedang menyelidiki kemungkinan kejahatan, termasuk penculikan dan kekerasan seksual.
Israel sendiri menolak tuduhan itu. Juru bicara dinas penjara Israel menyebut seluruh tahanan diperlakukan sesuai hukum, dengan hak-hak dasar mereka dijaga dan diawasi petugas penjara yang profesional.
Dugaan kekerasan saat penahanan
Dalam pernyataan di Telegram, penyelenggara flotilla mengatakan para aktivis yang dibebaskan mengalami kekerasan selama berada dalam tahanan Israel. Mereka menyebut ada puluhan orang yang mengalami patah tulang, dan beberapa lainnya ditembak peluru karet dari jarak dekat.
Luca Poggi, ekonom asal Italia yang ikut dalam flotilla, mengatakan kepada Reuters bahwa para aktivis “ditelanjangi, dilempar ke tanah, ditendang”. Ia juga menambahkan bahwa banyak orang disetrum, sebagian mengalami kekerasan seksual, dan sebagian lainnya ditolak akses ke pengacara.
Ilaria Mancosu, aktivis Italia lainnya, mengatakan para anggota flotilla dipindahkan dari kapal mereka ke dua kapal tahanan yang disebutnya sebagai “prison ships”. Menurut dia, kelompok di salah satu kapal mengalami kekerasan yang lebih berat, dikurung dalam kontainer, dan dipukuli oleh lima tentara hingga mengalami patah tulang rusuk dan lengan.
Mancosu juga mengatakan beberapa aktivis menderita cedera serius pada mata dan telinga akibat taser. Ia menambahkan mereka menghabiskan dua hari di kapal tahanan tanpa air mengalir, tanpa selimut, dan hanya memakai kardus serta plastik untuk menghangatkan diri pada malam hari.
Luka, perawatan medis, dan tuduhan yang meluas
Setibanya di darat, para aktivis disebut dipaksa berlutut selama berjam-jam. Mancosu mengatakan mereka ditendang dan didorong jika bergerak atau berbicara, lalu dibawa ke penjara dan dipindahkan dari satu ruangan ke ruangan lain agar tidak bisa tidur.
Sabrina Charik, yang membantu mengatur kepulangan 37 warga Prancis dari flotilla, mengatakan lima peserta Prancis dirawat di rumah sakit di Turkiye. Ia menyebut beberapa di antaranya mengalami patah tulang rusuk atau tulang belakang, dan sebagian membuat tuduhan rinci tentang kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan.
Di media sosial, kelompok aktivis juga menampilkan Adrien Jouen, warga Prancis, dengan memar di punggung dan lengan bawah. Penyelenggara mengatakan sebagian dugaan kekerasan terjadi di laut setelah intersepsi oleh angkatan laut Israel, dan sebagian lagi setelah para aktivis dibawa dan dipenjara di Israel.
Kementerian Luar Negeri Jerman mengatakan sejumlah warganya yang berada di flotilla juga terluka. Seorang juru bicara kementerian menyebut pejabat konsuler yang bertemu aktivis Jerman di Istanbul melaporkan beberapa orang mengalami cedera dan sedang menjalani pemeriksaan medis.
Tekanan internasional terhadap Israel
Pemerintah Jerman mengatakan perlakuan manusiawi terhadap warganya adalah “prioritas mutlak”. Kementerian itu juga meminta penjelasan penuh karena sebagian tuduhan dinilai serius.
Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares mengatakan 44 anggota flotilla asal Spanyol dijadwalkan tiba di Madrid dan Barcelona dengan penerbangan dari Istanbul. Ia menambahkan empat orang di antaranya mendapat perawatan medis atas luka-luka yang dialami.
Tuduhan ini menambah tekanan terhadap otoritas Israel, terlebih setelah Itamar Ben-Gvir, menteri keamanan nasional sayap kanan Israel, merilis video yang menampilkan dirinya mengejek aktivis asing di sebuah penampungan sementara di Ashdod. Dalam video itu, para aktivis terlihat diborgol kabel dan berlutut saat lagu kebangsaan Israel diperdengarkan.
Kronologi penyergapan flotilla
Sekitar 430 orang di atas 50 kapal ditangkap pasukan Israel di perairan internasional pada hari Selasa saat mereka berupaya membawa bantuan ke Jalur Gaza. Para penyelenggara menyebut kapal-kapal itu membawa relawan dan pasokan kemanusiaan.
Gerakan flotilla sendiri muncul pada 2006, saat perang Israel di Lebanon, lalu berkembang setelah Israel memberlakukan blokade atas Gaza pada 2007. Sejak itu, ratusan kapal dari kelompok solidaritas internasional berulang kali mencoba mencapai wilayah itu dengan bantuan kemanusiaan dan aktivis.
Pada 2008, dua kapal Free Gaza Movement menjadi yang pertama berhasil mencapai Gaza lewat laut meski blokade masih berlangsung. Namun sejak 2010, hampir setiap flotilla dicegat pasukan Israel di perairan internasional.
Pada 2010 pula, komando Israel menyerbu kapal Turkiye Mavi Marmara, menewaskan 10 aktivis dan melukai puluhan lainnya. Sejak saat itu, tuduhan perlakuan buruk terhadap aktivis yang dibawa ke Israel setelah dicegat di laut terus muncul, sementara penyelenggara mengatakan mereka khawatir sanksi dan tuduhan palsu hubungan dengan Hamas dipakai untuk membenarkan pengetatan lebih lanjut.
