Kabar mengenai rencana perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran mencuat setelah dinamika diplomasi di Beijing ikut menyita perhatian global. Pembicaraan itu disebut akan digelar di Islamabad, Pakistan, sesudah Idul Adha, dengan tujuan meredakan konflik militer yang sempat memanas di kawasan.
Laporan yang beredar menyebut Pakistan akan berperan sebagai mediator utama dalam penyusunan draf kesepakatan damai. Jika agenda itu berjalan sesuai rencana, proses tersebut dapat menjadi titik penting untuk memulihkan stabilitas energi global, terutama di wilayah yang terkait dengan Selat Hormuz.
Diplomasi Beijing ikut memengaruhi peta manuver global
Sorotan internasional semula tertuju pada pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Beijing. Setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyelesaikan kunjungannya, Xi disebut langsung menyambut Putin pada Rabu, 20/5/2026.
Pertemuan itu menegaskan semakin eratnya kerja sama ekonomi Beijing dan Moskow. Nilai perdagangan bilateral keduanya disebut mencapai Rp 4.224 triliun pada 2025, dengan hampir 100 persen transaksi dilakukan memakai mata uang lokal, rubel dan yuan, bukan dolar AS.
Langkah tersebut memperlihatkan upaya dua negara besar itu untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang Amerika Serikat. Dalam konteks geopolitik yang lebih luas, penguatan hubungan China dan Rusia juga dipandang sebagai sinyal bahwa pusat pengaruh ekonomi dunia terus bergeser.
Pakistan ambil peran sebagai penengah
Di tengah perubahan itu, Pakistan muncul sebagai pihak yang mendorong jalur diplomasi baru antara Washington dan تهران. Negara tersebut dilaporkan menyiapkan peran mediasi agar Amerika Serikat dan Iran bisa mencapai kesepakatan damai yang lebih konkret.
Berdasarkan informasi yang beredar, panglima angkatan darat Pakistan dijadwalkan mengunjungi Iran pada 21 Mei 2026. Kunjungan itu disebut akan digunakan untuk mengumumkan penyelesaian draf akhir kesepakatan damai.
Rencana perundingan di Islamabad ini juga dikaitkan dengan momentum setelah rangkaian ibadah haji atau bertepatan dengan Idul Adha pada akhir Mei 2026. Jadwal tersebut menunjukkan bahwa pembicaraan diposisikan sebagai langkah lanjutan setelah proses diplomasi awal diupayakan melalui jalur regional.
Konflik militer yang belum benar-benar reda
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran disebut bukan muncul tanpa latar belakang. Sebelumnya, militer AS dan Israel meluncurkan Operasi Epic Fury terhadap Iran pada Februari 2026.
Iran kemudian membalas melalui operasi True Promise 4. Rangkaian aksi dan balasan itu membuat upaya perundingan damai menjadi kebutuhan mendesak untuk mencegah eskalasi yang lebih jauh.
Situasi tersebut membuat Pakistan berada pada posisi yang sensitif sekaligus strategis. Sebagai mediator, Islamabad dituntut menjaga komunikasi agar draf kesepakatan dapat diterima kedua pihak dan tidak berhenti pada pembicaraan awal semata.
Dampak energi dan jalur perdagangan ikut jadi perhatian
Dorongan menuju damai juga tak lepas dari faktor ekonomi dan energi. Stabilitas di sekitar Selat Hormuz dinilai sangat penting karena kawasan itu berpengaruh terhadap arus energi global.
Jika konflik mereda, tekanan terhadap pasar energi berpotensi ikut berkurang. Karena itu, perundingan yang direncanakan di Pakistan dipandang bukan hanya soal diplomasi politik, tetapi juga soal kepentingan ekonomi yang lebih luas.
Pada saat yang sama, China disebut terus memperkuat posisinya di panggung internasional. Xi Jinping dikabarkan akan segera melawat ke Korea Utara pada pekan depan, memperlihatkan bahwa agenda luar negeri Beijing tetap aktif di berbagai arah.
China juga tengah menyiapkan Polar Silk Road atau Jalur Sutra Kutub sebagai alternatif jalur dagang. Jalur ini diklaim mampu memangkas waktu pelayaran dari Asia ke Eropa menjadi sekitar 20 hari, lebih cepat dibanding rute tradisional melalui Terusan Suez.
Perkembangan itu membuat banyak negara harus menghitung ulang ketahanan jalur logistik dan energi mereka. Dalam situasi seperti ini, perundingan damai AS-Iran di Islamabad dipandang sebagai salah satu langkah yang paling menentukan untuk meredam gejolak di kawasan dan menjaga keseimbangan ekonomi global.
Source: www.suara.com