
Menko AHY memimpin Konsultasi Bilateral Indonesia-Rusia di bidang kemaritiman di Moskow bersama Penasihat Presiden Federasi Rusia sekaligus Ketua Dewan Maritim Federasi Rusia, Nikolai Patrushev. Pertemuan itu menjadi kelanjutan dialog yang sebelumnya dibahas pada November 2025 di Jakarta dan menghasilkan kesepakatan untuk memperkuat kerja sama perkapalan, konektivitas maritim, logistik, pengembangan sumber daya manusia, serta pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan secara berkelanjutan.
Dalam pertemuan tersebut, Indonesia dan Rusia sama-sama menempatkan sektor maritim sebagai area kerja sama yang konkret. Menko AHY menegaskan hubungan kedua negara kini bergerak dari relasi politik dan diplomatik menuju kemitraan strategis yang lebih operasional dalam pembangunan ekonomi, konektivitas, teknologi, dan ketahanan wilayah.
Fokus pada konektivitas negara kepulauan
Menko AHY menyoroti kebutuhan Indonesia sebagai negara kepulauan dengan 17.380 pulau. Ia menyebut sistem konektivitas harus terintegrasi dan berkelanjutan agar pembangunan bisa berjalan merata dan biaya logistik nasional dapat ditekan.
“Pembangunan konektivitas tidak bisa hanya mengandalkan satu moda transportasi,” ujar Menko AHY. Ia menekankan perlunya keseimbangan antarmoda transportasi untuk mendukung pemerataan pembangunan sekaligus memperkuat efisiensi distribusi barang dan mobilitas masyarakat.
Dalam konteks itu, pengalaman Rusia di bidang transportasi, infrastruktur, logistik, dan teknologi maritim dipandang memiliki nilai strategis bagi agenda pembangunan Indonesia. Kedua negara juga disebut memiliki kesamaan sebagai negara maritim besar yang membuka ruang kemitraan jangka panjang.
Agenda kerja sama yang disepakati
Konsultasi bilateral membahas sejumlah bidang prioritas yang dinilai paling siap dikembangkan secara bertahap. Area itu mencakup peningkatan kapasitas angkutan laut, kerja sama ilmiah dan teknis maritim, pembangunan pelabuhan berkelanjutan, industri galangan kapal, pendidikan dan pelatihan SDM maritim, serta pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.
Untuk memastikan agenda tersebut berjalan terarah, Indonesia dan Rusia sepakat membentuk tiga kelompok kerja strategis. Kelompok kerja pertama menangani pengembangan industri galangan kapal dan pelabuhan berkelanjutan, kelompok kerja kedua fokus pada sumber daya kelautan dan perikanan berkelanjutan, sementara kelompok kerja ketiga membahas pengembangan sumber daya manusia, riset, dan pelatihan.
Menko AHY menyebut pembentukan kelompok kerja menjadi langkah penting agar hasil kerja sama tidak berhenti pada pernyataan politik. Dengan mekanisme itu, setiap agenda diharapkan bisa diukur, dipantau, dan menghasilkan manfaat nyata bagi kedua pihak.
Lanjutan dari pembicaraan yang sudah berjalan
Pertemuan di Moskow juga menampilkan sejumlah tindak lanjut yang sudah masuk tahap pembahasan teknis. Salah satunya adalah kerja sama antara PT PAL Indonesia dan Rosatom terkait Floating Nuclear Power Plant (FNPP), yang telah diawali dengan penandatanganan Non-Disclosure Agreement pada April 2026 dan akan dilanjutkan dengan penyusunan nota kesepahaman.
Selain itu, pembahasan kerja sama pembangunan kapal antara PT PAL Indonesia dan Ak Bars Shipbuilding Corporation masih terus berjalan. Di sisi lain, PT Pelindo juga menindaklanjuti kerja sama dengan CIFREX untuk pengembangan kapal berkecepatan tinggi, sementara Kementerian Perindustrian bersama Kementerian Luar Negeri RI mengoordinasikan rencana pengiriman tenaga terampil sektor galangan kapal ke Rusia.
Rangkaian langkah tersebut menunjukkan bahwa konsultasi bilateral tidak hanya menghasilkan kesepakatan umum, tetapi juga mendorong pembahasan yang lebih teknis pada level industri dan sumber daya manusia. Menko AHY menegaskan Indonesia datang dengan semangat kemitraan yang setara dan siap melangkah bersama Rusia menuju masa depan maritim yang lebih kuat, lebih hijau, dan lebih sejahtera.
Menutup pertemuan, Menko AHY menyampaikan bahwa kerja sama maritim Indonesia-Rusia perlu terus dijaga agar masuk ke tahap implementasi yang memberi dampak bagi konektivitas, daya saing industri, dan pertumbuhan ekonomi. Dalam pertemuan itu, Menko AHY didampingi Deputi Nazib Faizal dan Deputi Odo R.M Manuhutu.
Source: www.medcom.id








