Malaysia Kecam Bendera Israel di Al-Aqsa, Desak PBB Tindak Rezim Zionis

Author: Qoo Media

Pengibaran bendera Israel di kompleks Masjid Al-Aqsa memicu kecaman keras dari Malaysia. Pemerintah Malaysia menilai tindakan itu sebagai provokasi yang dapat mengubah status sejarah, budaya, dan identitas Yerusalem Timur yang diduduki Israel.

Kuala Lumpur juga mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa agar tidak berhenti pada kecaman verbal. Pemerintah Malaysia meminta PBB mengambil langkah nyata untuk menuntut pertanggungjawaban atas pelanggaran hukum internasional yang terjadi di kawasan tersebut.

Malaysia kecam tindakan di Al-Aqsa

Kementerian Luar Negeri Malaysia mengutuk keras penyerbuan sejumlah pemukim ke kompleks Masjid Al-Aqsa dengan pengawalan aparat keamanan Israel. Dalam pernyataan resminya di Kuala Lumpur, Malaysia menyebut tindakan itu sebagai upaya mengubah realitas di lapangan serta karakter budaya, sejarah, dan kesucian Masjid Al-Aqsa.

Pemerintah Malaysia menilai pengibaran bendera Israel di area masjid memperburuk ketegangan di wilayah Palestina. Kuala Lumpur juga menegaskan bahwa langkah semacam itu tidak bisa diterima karena menyentuh aspek yang sangat sensitif bagi umat Islam di seluruh dunia.

Desak PBB bertindak nyata

Malaysia meminta PBB dan komunitas internasional merespons insiden itu dengan langkah konkret. Pemerintah Malaysia menilai respons internasional harus mencakup mekanisme untuk memastikan pihak yang bertanggung jawab atas pelanggaran tersebut dimintai pertanggungjawaban.

Kuala Lumpur menilai kawasan Yerusalem tidak boleh dibiarkan menjadi ruang bagi tindakan provokatif tanpa konsekuensi. Karena itu, Malaysia menekankan perlunya penegakan hukum internasional agar ketegangan di Palestina tidak terus meningkat.

Dukungan untuk Palestina tetap ditegaskan

Di tengah kecaman tersebut, Malaysia kembali menyatakan dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina. Pemerintah Malaysia menegaskan dukungan bagi pembentukan Negara Palestina yang merdeka dan berdaulat berdasarkan perbatasan sebelum 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.

Masjid Al-Aqsa sendiri tetap menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik Israel-Palestina. Berdasarkan pengaturan status quo yang berlaku selama puluhan tahun, umat Islam beribadah di kompleks itu, sementara akses dan kunjungan kelompok lain kerap memicu ketegangan baru.

Malaysia menilai perdamaian yang berkelanjutan hanya dapat terwujud jika hukum internasional dihormati, tempat suci dilindungi, dan hak-hak rakyat Palestina dipenuhi. Dalam konteks itulah, insiden pengibaran bendera Israel di Al-Aqsa kembali menjadi sorotan internasional dan memperkuat desakan agar pelanggaran di kawasan itu segera ditangani secara tegas.

Source: www.suara.com
Terbaru